
"Aku mau pergi ke pasar malam bersama kekasihku, kau tau apa yang harus kau lakukan bukan? aku beri waktu satu jam!!"
Maxime sedang menelpon salah satu anak buah nya yang berada di mansion Javier, tepatnya berada di ruang bawah tanah. Tempat pembuatan makanan.
"Aku mengerti Tuan," sahut anak buah Maxime tersebut, sebut saja namanya Aldo.
Setelah telpon di matikan, Aldo menghela nafas kasar menatap ponsel di tangan nya. Lalu ia berbalik seraya berteriak kepada para penghuni ruang bawah tanah.
"MELUNCUR KE PASAR MALAM!!"
Beberapa detik berlalu suasana hening, mereka hanya menatap Aldo penuh tanda tanya lalu salah satu dari mereka pun akhirnya buka suara.
"Jangan bilang kita akan berjualan lagi di sana ..."
Aldo menghela nafas panjang. "WAKTUNYA HANYA SATU JAM!!"
Seketika suasana hening itu pun ricuh seketika. Mereka mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan di bawa jualan di pasar malam sekarang.
Suara wajan, piring, sendok dan beberapa gelas saling berdenting karena mereka sibuk mengambil peralatan dapur ke gerobaknya. Ada juga yang sibuk membawa adonan ke gerobak, ada yang berteriak tidak jelas membuat suasana semakin ricuh, mereka berlari ke sana kemari dengan jantung berdebar.
Menyiapkan makanan untuk di jual dan di beri waktu satu jam menurut mereka tidak cukup. Tapi mau bagaimana lagi.
"HEY AKU JUALAN JAGUNG BAKAR YA!!" pria itu membawa beberapa jagung mentah ke gerobaknya lengkap dengan bumbu nya.
"AKU JUALAN SOSIS!!"
"AKU JUALAN TELUR GULUNG!!"
"AKU ROTI BAKAR!!"
"MARTABAK!!"
"Anj*r lah, aku jualan apa!" kesal salah satu pria yang mondar-mandir tidak jelas seraya menggaruk kepalanya frustasi.
"BUBUR!! AKU BUBUR!!"
Akhirnya pria yang mondar-mandir tadi pun ikut berteriak. "BUBUR KACANG!!"
"HOTDOG!!! BURGER!!"
Chef Juna dan Chef Bara yang sudah tidak muda lagi itu keluar dari lift karena baru selesai melayani Javier dan yang lain di lantai atas. Mereka pun melebarkan mata melihat yang lain begitu sibuk, puluhan gerobak memenuhi ruangan.
"HAI CHEF ..." Mereka melambaikan tangan ke arah Chef Juna dan Chef Bara.
"KALIAN INI SEDANG APA?" Teriak Chef Juna.
"Mau jualan di pasar malam Chef," sahut Aldo membuat Chef Bara dan Chef Juna saling menoleh.
"HEI AKU JUALAN JUICE YAA!!" teriakan kembali terdengar.
Javier dan Sekretaris Han yang sedang mengobrol di balkon menunduk melihat puluhan gerobak memenuhi halaman mansion. Javier menghela nafas, ia sudah tahu siapa yang membuat halaman mansion nya di penuhi puluhan gerobak warna-warni.
Pembuatan bahan makanan memang hanya ada di mansion Javier, tepatnya di ruang bawah tanah. Mansion Maxime tidak ada tempat khusus untuk membuat bahan makanan.
"Lihat, anakmu sangat tergila-gila dengan gadis remaja itu," ucap Sekretaris Han menatap gerobak yang keluar satu persatu melewati gerbang.
"Bagus, aku ingin menggendong cucu," sahut Javier.
Puluhan gerobak warna-warni itu memenuhi jalanan, mereka seperti sedang lomba mendorong gerobak agar cepat sampai ke pasar malam.
Mereka berlari dengan mendorong gerobak dan saling menyalip satu sama lain seraya tertawa.
"Hei tunggu aku!!" ucap si penjual roti bakar lalu menambah tenaganya mendorong gerobaknya lebih cepat ketika melihat teman-teman nya berada jauh di depan nya.
Para pengguna jalan yang lewat pun menatap mereka heran, seorang anak kecil yang berada di dalam mobil menatap keluar jendela lalu bertanya kepada Ayahnya.
"Ayah, mereka sedang apa? kenapa lari-lari ..."
"Ayah juga tidak tau, mereka mau berjualan atau mau lomba dorong gerobak!"
*
Sesampainya di pasar malam, suasana sudah sangat sepi dan kosong. Mereka yang biasa berjualan di usir oleh anak buah yang lain, mereka pergi setelah di beri uang.
Tempat itu pun di isi oleh mereka yang di beri tugas berjualan. Mereka mulai mencari-cari tempat untuk gerobaknya, beberapa dari mereka ada yang sampai bertengkar karena masalah tempat.
"Ini tempatku, kau jualan di tempat yang lain saja!" ucap si penjual jagung bakar.
"Hei, aku lebih dulu!" sahut si penjual martabak.
"Berisik sekali kalian ini seperti mau jualan seumur hidup saja di sini!!" kesal si penjual sosis seraya memasukan minyak ke wajan.
Akhirnya si penjual jagung itu pun mengalah dengan kesal dan mencari tempat yang lain.
Maxime benar-benar takut jika Milan makan makanan dari orang yang tidak dia kenal. Alhasil para penghuni ruang bawah tanah mansion Javier lah yang bertugas berjualan malam ini.
Maxime baru saja keluar dari mansion nya menaiki sepeda bersama Milan untuk pergi ke pasar malam.
Di sepanjang jalan mereka tertawa dan bercanda satu sama lain dengan Milan yang melingkarkan tangan nya di pinggang Maxime.
Maxime tidak sadar ia berpapasan dengan mobil Aberto. Aberto dan Smith menatap Maxime di balik jendela mobilnya, mereka hendak kembali ke Negara nya.
"Baru kali ini aku melihat dia naik sepeda," batin Aberto.
Bersambung