The Devil's Touch

The Devil's Touch
#166



Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pernikahan. Ya, pernikahan itu berlangsung di gedung yang mewah sesuai dengan keinginan Milan, gedung besar yang dihiasi bunga warna-warni.


Keluarga besar De Willson dan ratusan anak buah Yakuza yang lain duduk menyaksikan Maxime berdiri di atas altar dengan balutan jas berwarna gading, terlihat luar biasa tampan. Sementara Milan masih berada di dalam ruangan, sebentar lagi ia akan keluar menghampiri calon suaminya.


Puluhan awak media memotret keadaan gedung yang cukup ramai, tetap Maxime sebagai tokoh utama di acara tersebut yang menjadi potretan awak media.


Gedung besar yang di kelilingi ribuan bunga dan lampu gantung membuat acara pernikahan terlihat sangat mewah.



Ada tempat yang khusus di sediakan untuk para tamu undangan, rekan bisnis yang sudah menjalin kerjasama selama puluhan tahun akan duduk di tempat yang sama dengan keluarga De Willson. Sedangkan rekan bisnis baru akan duduk di tempat ini.



Hal yang sangat di tunggu-tunggu Maxime pun akhirnya datang, sebuah pintu besar di tarik oleh dua pria, sontak semua orang menoleh ke ruangan tersebut, ruangan yang penuh dengan bunga berwarna putih. Para awak media segera mengarahkan camera mereka ke arah Milan, Milan sangat gugup melihat banyaknya tamu undangan dan juga para awak media yang tak henti memotret dirinya.



Terlihat Milan dengan balutan gaun yang cantik dan mewah itu berdiri di sana, kemudian Rio berjalan mendekati Milan, pria paruh baya itu pun tersenyum memandang putrinya yang cantik. Kemudian Milan melingkarkan tangan nya di lengan Rio.


Rio lah yang menggandeng Milan berjalan menuju Maxime yang berdiri di atas altar. Walau bagaimanapun Rio tetap Ayah kandung Milan, ia harus mengantar putrinya ke kehidupan rumah tangga yang akan di jalani Milan bersama Maxime.


Maxime melebarkan matanya lalu tersenyum seraya berkaca-kaca. Cantik, hanya itu yang ada di otak Maxime melihat calon istrinya. Milan tersenyum ke arah Maxime.


Maxime mengulurkan tangan nya menyambut Milan, kini mereka berdiri berhadapan dengan seorang pendeta di depan mereka.


Maxime menatap Milan tanpa berkedip, pria itu terlihat santai padahal sebenarnya ia sangat gugup sekarang. Begitupula dengan Milan yang menahan gemetar tubuhnya karena semua orang menatapnya.


"Saya, Maxime Louis De Willson, menerima engkau Milan Kanaya, sebagai istri satu-satunya dan sah di mata Tuhan. Saya berjanji akan selalu mengasihimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita. Saya berjanji segala milikku adalah milikmu juga."


"Saya, Milan Kanaya, menerima engkau, Maxime Louis De Willson sebagai suami satu-satunya dan sah di mata Tuhan. Saya berjanji akan selalu mengasihimu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita. Saya berjanji segala milikku adalah milikmu juga."


Semua orang tersenyum mendengar janji yang diucapkan Maxime dan Milan di depan pendeta. Sky, Liana dan Kara sampai menangis haru. Miwa juga ikut menyeka air matanya, kemudian Arsen memberikan nya tisu. Tessa terlihat tersenyum dengan mata berkaca-kaca, bagaimanapun ia sudah ikhlas melepas Maxime sekarang. Dan lagi, Tessa datang bersama Daniel yang duduk di sampingnya.


Maxime pun mendekat dan meraup kedua pipi Milan lalu menc*umnya di depan para tamu. Bersamaan dengan itu semua orang bertepuk tangan, bahkan sampai ada yang bersorak dan bersiul. Siapa lagi kalau bukan Keenan dan yang lain.


Acara dimulai dari pagi hari tapi pesta yang lebih seru terjadi ketika malam hari, kebanyakan para tamu kebanyakan datang ketika malam hari saja, mereka yang datang pagi atau siang karena memiliki kesibukan setelahnya. Walaupun begitu pagi sampai siang hari tamu yang datang sudah sampai ratusan.


Maxime mengundang para pianist terkenal khusus untuk Milan, alunan musik indah terdengar merdu di telinga. Mereka tampil bergantian, dari para pianist terkenal, para pemain biola sampai penyanyi terkenal yang menyumbangkan lagu di acara pernikahan Maxime dan Milan.


Maxime dan Milan berdiri di atas altar menyalami para tamu yang hadir, mereka mengucapkan selamat dan juga doa untuk pernikahan Maxime.


"Aku tidak tau kalau rekan bisnismu sebanyak ini," bisik Milan seraya terus menyalami para tamu undangan.


"Ini belum ada setengahnya sayang," sahut Maxime berbisik pula.


"Ah Tuan Maxime. Tidak menyangka anda akhirnya menikah juga, padahal dulu anda bilang tidak berniat menikah," kata Gabriel salah satu rekan bisnisnya yang seumuran dengan Maxime tapi sudah memiliki dua anak.


Maxime tersenyum. "Keinginan seseorang bisa berubah kapan saja. Terimakasih sudah datang."


Gabriel dan istrinya tersenyum. Mereka hanya datang berdua, kedua anaknya hanya dijaga oleh baby sitter di rumah.


"Baiklah, kalau begitu kami akan menikmati hidangannya terlebih dahulu." Keduanya tertawa lalu Gabriel dan istrinya pun turun dari Altar.


Dari kejauhan Sky berdiri menatap Maxime dengan senyuman haru, kemudian Javier datang menghampiri.


"Kau baik-baik saja sayang?"


"Aku tidak menyangka lelaki kecil kita yang dulu sangat usil kepada paman-paman nya kini sudah menikah," sahut Sky seraya menyeka air matanya yang hampir jatuh.


"Aku lebih tidak menyangka putra es batu ku akhirnya meleleh juga," sambung Javier yang mendapatkan pukulan dari Sky karena menyebut Maxime es batu.


Bersambung