
"T-tuan ka-kami!"
DOR
Satu tembakan bersarang di salah satu kepala pria yang berdiri. Karena dengan cepat Maxime mengeluarkan pistol dari saku nya, pistol yang ia ambil dari salah satu anak buah nya tadi.
Ketiga pria itu pun sontak berdiri memandangi teman nya yang terkapar di lantai dan tak bernyawa.
Mereka bertiga dengan gemetar menoleh ke arah Maxime yang sedang tersenyum sinis.
Para penjaga di luar pun sangat kaget dengan suara tembakan itu.
"T-tuan ---"
"Aku tidak punya waktu banyak, jawab saja siapa yang menyuruh kalian menganggu gadisku!"
Mereka bertiga dengan gemetar ketakutan saling menoleh. Bingung harus jujur atau tidak.
Maxime kembali mengarah kan pistol nya ke kepala mereka.
"T-tuan ... jangan Tuan ..." Salah satu dari mereka mengulurkan tangan nya ke depan Maxime.
"Kalau begitu jawab siapa yang menyuruh kalian?!!"
"Dia ---"
*
"Sky ... Sky ..." Aiden berteriak masuk ke dalam mansion dengan memegang ponsel di tangan nya.
Tadi Aiden sedang bersantai di taman seraya main sosial media. Lalu ia menemukan video seorang satpam bertengkar dengan salah satu pengemudi mobil.
Ia terus memperhatikan sampai mata nya menyipit dan mendapati Maxime yang terus memukul pria asing tersebut.
Aiden pun mencari-cari Sky, berteriak di dalam mansion.
"Ada apa Aiden?" tanya Kara yang baru saja keluar kamar karena mendengar teriakan Aiden.
"Dimana Sky?"
Kara mengangkat kedua bahu nya. "Jam segini mungkin sedang olahraga pagi di kamar bersama Javier," ucap nya menahan senyum.
"Aku harus bertemu dengan nya," sahut Aiden.
"Memang nya ada apa?" tanya Liana kini yang juga baru keluar dari kamarnya berjalan menghampiri Aiden dan Kara.
Kara menggeleng kepada Liana.
"Ada apa Aiden?" tanya Liana.
"Aku menemukan Maxime di sosial media."
"Hah?" Kara dan Liana menjawab bersamaan dengan saling menoleh.
"Jangan bohong, anak itu tidak suka memposting foto maupun video dirinya sendiri," ucap Kara.
"Ya, kara benar," sambung Liana.
"Lihat ini kalau tidak percaya." Aiden memberikan ponsel nya kepada Liana.
Tessa dan Liana menonton video tersebut lalu Liana berkata.
"Loh, kok dia pake seragam satpam!" tanya Liana.
"Ada apa ini?" tanya Sky yang baru saja menuruni anak tangga bersama Javier di belakangnya.
Sky pun mengambil ponsel dari tangan Liana dan menonton sepenggal video itu bersama Javier.
"Biar aku menelpon Maxi."
Javier pun menjauh dari Sky dan yang lain. Ia keluar dan menelpon Maxime di teras depan.
Soal video putra nya bertengkar tidak perlu di tanya itu sudah bukan hal aneh lagi bagi keluarga mereka.
*
Maxime keluar dari ruangan dan berkata kepada anak buah nya. "Hukum mereka!"
"Siap, Tuan."
Para penjaga pun masuk ke ruangan hanya untuk menyiksa tiga pria yang tersisa di ruangan itu. Suara pukulan dan meminta ampunan saling bertautan tapi Maxime justru malah menyeringai senang.
Ia menghampiri Milan, menggendong gadis itu ke dalam mobil. Ia akan membawa Milan kembali ke petshop saja.
Sesampai nya di petshop ia menidurkan Milan di ranjang, menatap sendu penuh bersalah karena merasa tidak becus menjaga gadis ini dari gangguan orang jahat di luar sana.
"Maafkan aku .." lirihnya seraya mengelus pipi Milan.
Maxime pun kembali mengeluarkan ponsel nya dari saku untuk menelpon dokter kebanggaan keluarga De Willson. Yaitu, Aliandra.
"Ada apa?" tanya Aliandra yang sedang praktek di salah satu rumah sakit milik De Willson.
"Ke petshop ku sekarang!"
"Aku sedang banyak pasien. Cari dokter yang lain saja!"
"Hidupmu akan menderita kalau menolak ku, uncle! jadi cepatlah kesini ada yang sekarat!"
Aliandra berdecak. "Aku tau itu hanya pingsan!"
"Cepat uncle atau aku akan menculik anakmu!!" kesal Maxime.
Aliandra menghela nafas, tidak salah ia dulu membenci Javier karena ternyata anak Javier saja sangat menyebalkan sekarang.
"Baiklah." Aliandra akhirnya mengalah saja.
"Lima menit!"
"Hei aku ini harus jalan dan membawa mobilku ... Maxime ... hallo ... Max!!"
Aliandra mendengus, tak sadar ternyata Maxime sudah mematikan panggilan nya. Dengan cepat ia keluar dari ruangan nya menuju petshop Maxime.
Sementara pria itu tak henti-henti nya mengelus lembut kepala Milan. Si pelaku yang menyuruh empat pria yang akan memperk*sa Milan sudah pasti tidak akan selamat.
Maxime akan mencari lelaki itu setelah Milan bangun nanti. Ia ingin memastikan kondisi Milan dulu sekarang.
Maxime perlahan menunduk, menci*m kening Milan penuh sayang. Ia juga menci*m kedua pipi gadis itu lalu berbisik.
"Bangunlah sayang, aku di sini."
Tiga puluh menit kemudian mobil Aliandra parkir di depan petshop ia segera masuk ke dalam kamar Maxime.
"Lama sekali," kesal Maxime.
"Petshop ini jauh, kau tahu itu. Sudah sana keluar!"
Maxime tidak keluar, ia berdiri melihat adik dari Ibunya itu memeriksa Milan. Aliandra salah satu orang yang mengetahui soal Maxime dan Milan.
Maxime sudah menceritakan nya kepada Aliandra agar pria yang menjabat sebagai dokter pribadi De Willson itu tahu seberapa penting Milan di hidup Maxime dan berharap jika terjadi sesuatu dengan Milan, Aliandra akan cepat datang bukan debat dulu seperti tadi.
Di saat sedang memperhatikan Milan yang di periksa Aliandra ponsel Maxime berdering dan tertera nama Daddy di sana.
Bersambung