The Devil's Touch

The Devil's Touch
#123



Milan cukup lama mengobrol dengan Miwa di dapur, membahas hal tidak penting seperti kenakalan Miwa saat sekolah dulu, pria mana saja yang pernah di incar oleh perempuan itu saat sekolah, pria yang mundur ketika tahu Miwa adik Maxime sampai Miwa yang pernah kabur dari mansion karena kesal dengan Maxime.


Hal-hal itu membuat keduanya tertawa, Miwa menceritakan hukuman apa saja yang pernah ia dapatkan ketika ia sekolah dulu, karena jarang mengerjakan tugas, begitupula dengan Milan. Ia juga membahas dirinya yang sering di marahi Mr Rian. Mempunyai kesamaan dalam hal nakal dan bodoh keduanya malah tertawa lepas.


Milan kembali ke kamarnya, menaiki anak tangga dan ketika membuka pintu kamar ia sudah mendapati Maxime duduk di sofa seraya menonton berita di tv.


"Sayang ..." panggilnya seraya menoleh ke arah pintu.


Milan tersenyum, menutup pintu lalu menghampiri Maxime.


"Kau asik mengobrol dengan Miwa di bawah, jadi aku ke kamar duluan," ucap Maxime lalu menarik Milan ke dalam pelukan nya.


"Iya, dia tadi cerita banyak hal tentang masa lalu nya."


"Masa lalu apa?" tanya Maxime.


"Kenakalan dia di sekolah dulu."


"Cih, dia mirip denganmu. Tidak ada bedanya! aku benci dengan sikap Miwa saat sekolah yang jarang mengerjakan tugas dan sering di hukum, tak di sangka aku sekarang seperti mendapatkan karma dari kebencianku," ucap Maxime seraya tersenyum.


"Apa maksudmu?" tanya Milan mendongak dengan dahi mengkerut.


"Aku mendapatkan gadis yang sikapnya seperti Miwa," sahut Maxime seraya terkekeh.


"Aku mau marah tapi itu fakta," cibir Milan lalu kembali mengalihkan pandangan nya ke tv.


Maxime hanya tertawa seraya memeluk Milan semakin erat.


"Oh iya, kau ... dari kamar Tessa?" tanya Milan.


"Ya sayang, dia pintar melukis. Kelemahan nya hanya satu, tidak bisa membuat pohon kelapa. Jadi aku bantu dia dulu tadi ..."


Milan mengangguk-ngangguk. "Dia memang tidak bisa akrab dengan orang baru seperti Miwa?"


"Dia mudah akrab dengan siapapun sayang, sama seperti Miwa. Cerewet juga. Bedanya, kalau Miwa ada masalah dia pasti mendatangiku langsung seperti tadi, cerita dan minta bantuan. Kalau Tessa, dia lebih banyak diam dan memendam semuanya sendirian ... dia mau cerita kalau masalah yang di hadapinya sudah berlalu cukup lama."


"Itu membuat kami bertiga sering memarahi nya. Dulu di bully di sekolah waktu kelas sepuluh dan baru cerita waktu dia kelas sebelas, satu tahun dia diam. Aku, Arsen dan Miwa benar-benar memarahi dia habis-habisan."


"Memangnya dia tidak bisa melawan orang yang membully nya?" tanya Milan.


Maxime menggeleng. "Dia cerewet tapi tidak mempunyai keberanian yang besar seperti Miwa."


"Apa ... mungkin dia tidak menyukaiku?" tanya Milan.


Maxime menunduk menatap Milan. "Kenapa kau berpikir seperti itu hmm?"


"Beberapa kali aku bertemu dengan nya di mansion ini, dia seperti menjauh dari jalan yang aku lewati atau pura-pura tidak melihatku," sahut Milan.


"Itu perasaanmu saja sayang ..." Maxime mengelus kepala Milan.


"Nanti kau juga akan dekat dengannya seperti kau dekat dengan Miwa," lanjut Maxime.


Milan hanya tersenyum tipis seraya mengangguk pelan.


"Kenapa?" tanya Milan.


"Tidak apa-apa, hanya ingin kau cepat lulus saja," sahut Maxime seraya menggulum senyum di wajahnya.


*


Sekitar pukul delapan malam, Miwa keluar dari kamar menuruni anak tangga. Arsen yang melihat itu mengikuti Miwa diam-diam, perempuan itu pergi ke teras menghampiri mobil hitam yang parkir di depan.


Melihat mobil yang tidak Arsen kenal, pria itu pun berjalan lebih cepat tapi di balik pintu tiba-tiba ia di hadang oleh Maxime.


"Mau kemana kau?" tanya Maxime.


"Miwa pergi dengan siapa?" tanya Arsen.


"Daniel," sahut Maxime. Mobil pun melaju keluar dari halaman mansion. Maxime dan Arsen hanya menatap kepergian Miwa di bawa oleh Daniel.


"Kenapa dia pergi dengan nya?!"


"Memangnya kenapa?" Maxime balik bertanya.


"Apa salahnya dia pergi dengan calon tunangan nya sendiri," lanjut Maxime membuat Arsen melebarkan matanya.


"Apa maksudmu?" tanya Arsen.


"Mereka akan bertunangan," sahut Maxime lalu melengos meninggalkan Arsen tapi langkahnya tiba-tiba terhenti dengan ucapan Arsen.


"Miwa menolak Daniel, kau ingat itu!"


Maxime terkekeh sinis seraya berbalik dengan kedua tangan di saku celana. "Hati manusia mudah berubah, bukan?"


Arsen berbalik menatap Maxime. Keduanya saling menatap serius.


"Kau tau, Miwa sangat ingin menikah. Dia mencintaimu, tapi kau gagal mencintainya. Jadi dia memilih berpaling dengan pria yang lebih serius dengan nya."


"Cih, kau pikir aku percaya?!" ucap Arsen.


"Tidak perlu percaya apa yang aku katakan, percaya saja dengan gengsimu itu, sikap gengsimu akan membuatmu kehilangan adikku!!"


Maxime berbalik tapi lagi-lagi langkahnya tertahan oleh ucapan Arsen.


"Bukankah kau sendiri yang melarang hubungan kami?!!"


Maxime menghela nafas kasar lalu kembali berbalik. "Bukankah kau sendiri yang bilang akan belajar mencintainya?!! kau malah membuat adikku datang menangis kepadaku!!"


Maxime langsung pergi meninggalkan Arsen yang mematung di tempat.


Daniel sendiri justru membawa Miwa ke mansion Javier dan itu di suruh oleh Maxime.


#Bersambung