The Devil's Touch

The Devil's Touch
#167



"Milan ..." Sani menatap Milan dengan tersenyum, disampingnya ada Melisa yang melingkarkan tangan nya di lengan Sani.


"Mama ..."


Sani memeluk Milan lalu terisak dipelukan gadis itu, Maxime hanya membuang muka enggan menatap mertuanya.


"Maafkan Mama Milan ..." lirih Sani. Melisa hanya menunduk mendengar permintaan maaf Ibunya.


Milan tersenyum membalas pelukan Ibunya. "Tidak apa-apa Ma ..."


"Mama tidak bermaksud membuangmu."


"Sudah jelas-jelas kau senang dengan uang yang aku berikan," sambung Maxime pelan dengan nada menyindir.


Sani melepas pelukannya menatap Maxime yang enggan menatap dirinya lalu kembali menatap Milan.


"Ya, Mama salah. Mama tau itu, tapi uang itu di pakai untuk biaya kuliah Kakakmu ..."


Milan mengangguk. "Iya Ma. Papah sudah cerita, Milan ngerti."


Kemudian Milan menoleh ke arah Melisa lalu melentangkan kedua tangan nya. "Kak Melisa ..."


Dengan ragu-ragu Melisa pun memeluk Milan lalu berkata. "Selamat ya semoga kau bahagia. Aku minta maaf, kesalahanku sangat banyak kepadamu Milan."


"Aku sudah memaafkanmu Kak Melisa." Milan melepas pelukannya lalu menatap Melisa dengan memegang kedua pundaknya.


"Janji Kak Melisa harus jadi dokter yang hebat ya?"


Melisa pun mengangguk dengan tersenyum. "Janji."


"Ayo Melisa ..." Sani menarik tangan Melisa untuk turun dari altar karena Sani merasa Maxime tidak suka dengan kehadiran dirinya.


"Kami pergi dulu Milan."


Milan mengangguk dengan tersenyum kemudian seorang anak lelaki menghampiri mereka berdua.


"Hai, aku Bumi." Seorang anak lelaki berusia sembilan tahun naik ke atas altar dan menyalami Maxime dan Milan.


"Hallo ... namamu sangat bagus," ucap Milan mengelus kepala anak kecil itu.


"Jelek sekali namamu," sambung Maxime dengan nada sinis.


"Jangan begitu," bisik Milan. Bumi terlihat menekuk wajahnya kesal dengan memandang sinis Maxime.


"Kau tau siapa dia sayang?" tanya Maxime yang di jawab gelenggan kepala dari Milan.


"Dia anak Uncle Keenan yang paling kecil."


Mata Milan membulat. "Benarkah?" Maxime mengangguk.


Kemudian Milan pun bertanya langsung kepada Bumi.


"Kau putra Uncle Keenan?"


Bumi mengangguk.


"Kakak mu tidak ikut?" tanya Milan lagi.


"Kakak ku kerja, satunya lagi sekolah." Sekolah yang di maksud Bumi adalah kuliah. Kakak keduanya kuliah kedokteran di salah satu universitas besar.


"Sekolah dimana?"


"Kuliah kedokteran di universitas X sayang," sahut Maxime.


"Dokter?" Milan menaikkan satu alisnya. "Kakak ku juga kuliah kedokteran loh." Kata Milan kepada Bumi.


"Siapa nama kakakmu? mungkin kenal dengan kakak ku."


"Namanya---"


"Topan," potong Maxime. "Dia terinspirasi anaknya jadi angin topan mungkin."


Bumi menekuk wajahnya kesal menatap Maxime. "Jangan bilang kak Topan seperti itu dong uncle!"


Milan hanya menggeleng melihat Maxime menggoda kemarahan Bumi.


"Kalau kakak pertamamu siapa namanya?"


"Timur," ucap Maxime.


"Ih, uncle jawab terus!" kata Bumi tidak terima.


"Timur, Topan, Bumi. Aneh sekali kan namanya sayang?" Maxime menatap Milan.


"Itu bagus, kreatif," sahut Milan yang membuat Bumi menganggukan kepalanya.


"Ya, kreatif."


"Sudah pergi sana!" titah Maxime kepada Bumi.


Bumi pun akhirnya turun dari altar mencari kedua orang tuanya.


"Anak itu sama menyebalkan seperti Ayahnya sayang, beda dengan Aron."


Milan hanya menggelengkan kepalanya. Acara terus berlanjut, para tamu menikmati hidangan dan juga musik yang terus mengalun indah. Athes and the geng sibuk dengan istri dan anak-anaknya, mereka berfoto dan menyantap satu-persatu hidangan yang tersedia.


"Papah, usia Milan sama denganku ternyata." Sahara bertanya kepada Ayahnya, Sergio.


Sergio menjawab dengan deheman lalu memotong cake di piring kecil dengan sendoknya.


"Huhh kalau aku tau Tuan Maxime menyukai gadis kecil sepertiku, aku punya kesempatan."


Sergio menghentikan kunyahan cake di mulutnya lalu menoleh ke arah Sahara. "Kau mau Papahmu ini mati, Sahara?!"


Sahara menyengir. "Hehe bercanda Papah ..."


"Papi ..."


"Papi papi ... panggil aku Ayah!" sentak Jonathan kepada putra keduanya yang berusia enambelas tahun.


"Hehe dipanggil Papi harusnya senang."


"Ibumu saja tidak mau dipanggil Mami!"


"Ya itu kan--"


"Sudah, cepat makan!" potong Jonathan.


*


Acara baru selesai tengah malam, semua tamu sudah pulang meninggalkan keluarga besar De Willson. Anak-anak dari Keenan dan Athes and the geng masih di gedung bersama istri-istri mereka.


Mereka hanya duduk meminum minuman beralcohol seraya berbincang, Maxime menarik tangan Milan keluar dari gedung dan membukakan pintu mobil untuk gadis itu.


"Kita pulang ke mansion?" tanya Milan.


"Ya sayang, kemana lagi."


Milan pun masuk, Maxime menutup pintu lalu mengitari mobil dan duduk dibalik kemudinya.


"Yang lain masih belum pulang." Milan menoleh ke arah Maxime.


"Ya karena yang lain tidak ada malam pertama, ini sudah tengah malam, sudah sangat telat untuk malam pertama kita sayang."


Milan menelan saliva nya susah payah mendengar malam pertama yang di ucapkan Maxime.


"Ma-Maxime aku sedang datang bulan ..."


Ciittt


Maxime mengerem mobilnya mendadak lalu menoleh ke arah Milan dengan dahi mengkerut.


"A-aku tidak bohong ..."


"Kau tau berapa lama aku menunggu untuk ini? kau tau berapa lama aku menahannya selama tidur denganmu? dan sekarang----aaaarrgghh!!"


Maxime memukul stir dengan keras membuat Milan disampingnya terlonjak kaget. Dada Maxime naik turun dengan menahan kekesalannya karena gagal malam pertama kemudian ia menoleh ke samping, menatap Milan yang kini seperti kucing kecil yang sedang ketakutan.


Maxime pun melepas seatbealt nya lalu mendekat dan memeluk Milan. "Maaf aku membuatku ketakutan ... Aku tidak bisa menahannya lagi sayang," lirih Maxime seperti anak kecil.


Milan mengelus kepala Maxime. "Sabar ya, tidak lama kok."


Maxime pasrah mengangguk. "Besok ya."


"Eumm ... belum bisa."


Maxime sontak melepas pelukan nya lalu menatap Milan. "Kenapa?"


"Ini hari pertamaku datang bulan, paling lama seminggu."


Maxime melebarkan matanya. "Jadi baru hari pertama?"


Milan mengangguk, Maxime kembali memeluk Milan dengan merengek manja. "Sayanggggg ..."


"Semoga saja dia tidak tau kalau aku berbohong," batin Milan kemudian menghela nafas panjang.


Sebenarnya Milan takut untuk malam pertama walaupun ia pernah melakukannya, tapi hari itu dalam keadaan tidak sadar.


Dan sedetik kemudian Maxime melepas pelukannya lalu menyeringai tajam tepat di depan wajah Milan.


"Ke-kenapa?"


Maxime mencubit pipi Milan. "Kau tidak bisa berbohong sayang!"


Kemudian pria itu pun kembali ke tempat duduknya, memakai seatbealt lalu melajukan mobilnya dengan cepat, tak perduli dengan Milan yang mematung di tempat duduknya dengan wajah khawatir dan takut.


Maxime tahu Milan berbohong hanya karena gadis itu menghela nafas panjang tadi. Untuk Maxime itu sikap seseorang yang gelisah ketika takut ketahuan berbohong.


Bersambung