The Devil's Touch

The Devil's Touch
#183



Arsen menghela nafas untuk menyiapkan nyali nya melamar Miwa di depan semua orang. Ia sempat menatap Miwa sejenak, kemudian Sekretaris Han sadar akan tatapan Arsen kepada Miwa.


Ketika Arsen berdiri dari duduknya sontak Sekretaris Han menarik tangan Arsen keluar dari kamar. Semua orang menatap heran kenapa Sekretaris Han terlihat tergesa-gesa menarik tangan Arsen keluar.


"Dad!" Arsen menghempaskan tangan Sekretaris Han.


"Jangan bilang disaat seperti ini kau mau melamar Miwa, Arsen!"


"Memang, iya. Aku mau melamarnya sekarang."


"Jangan gila, lihat situasi! Semua orang sedang dibuat khawatir oleh keadaan Miwa dan Milan. Kalau kau melamar Miwa sekarang, bisa-bisa kau membuat Javier naik pitam! belum lagi kau harus menghadapi Maxime!!"


Arsen menyungingkan senyumnya. Ayahnya ini masih belum tahu jika Javier dan Maxime sudah merestui hubungan dirinya dan Miwa. Tapi Arsen enggan memberitahu Sekretaris Han, ia akan sedikit menjahili Ayahnya itu.


"Dad." Arsen menepuk pundak Sekretaris Han. "Doakan aku masih hidup setelah melamar Miwa, oke!"


Arsen hendak masuk lagi tapi pundaknya ditarik oleh Sekretaris Han. "Dad bilang jangan sekarang! lihat situasi dulu Arsen!! nanti malam saja!!"


"Sekarang dan nanti malam sama saja!" sahut Arsen.


"Pokoknya nanti malam! jangan membantah!!" Sekretaris Han masuk kembali ke kamarnya meninggalkan Arsen yang hanya bisa menghela nafas.


*


Miwa dan Milan dibawa pulang ke mansion Javier, alasannya karena Javier ingin memastikan dua perempuan itu baik-baik saja. Padahal Maxime sudah uring-uringan tidak jelas karena menolak Milan dibawa ke mansion Ayahnya. Ia ingin berduaan dengan Milan di mansionnya sendiri.


Mereka istirahat di kamar masing-masing yang sudah disediakan.


Maxime berada di dapur sedang membuat dua gelas susu untuk Milan dan Miwa. Kemudian Javier datang menghampiri putra nya itu.


"Kebiasaanmu membuat susu untuk adikmu tidak pernah hilang," ucap Javier seraya mengambil serbuk kopi dan menuangkan nya ke gelas.


"Jangan banyak minum kopi, Dad. Sudah semakin tua tidak baik," sahut Maxime seraya mengaduk-ngaduk susu nya.


Javier hanya berdehem sebagai jawaban. Ini bukan kali pertama dirinya di nasehati oleh Maxime dan Miwa untuk berhenti minum kopi dan berhenti merokok.


"Kau sudah tau, Arsen akan melamar Miwa malam ini?" tanya Javier.


"Sudah, yang belum tahu Daddy Han."


"Biarkan dia, jangan di kasih tau. Biar kita buat dia tegang dulu, kau bisa akting kan?"


"Dad kenapa sikapmu semakin mirip dengan uncle Keenan dan yang lain. Buang-buang waktu sekali menjahili Daddy Han."


"Itu menyenangkan, sekarang dia pasti sedang uring-uringan mencari Rumah Sakit terbaik untuk Arsen," kata Javier seraya tertawa.


Maxime hanya menggelengkan kepala melihat sikap Ayahnya yang kekanakan. Dia memilih membawa dua gelas susu itu ke kamar Miwa dan Milan.


Setelah dari kamar Miwa ia pergi ke kamar Milan dengan membawa segelas susu milik gadis itu.


Ketika membuka pintu kamar, terlihat Milan sedang duduk di ranjangnya seraya memainkan ponselnya. Maxime tersenyum menghampiri Milan.


Milan mengambil susu tersebut. "Terimakasih," ucapnya lalu meneguk susu tersebut sampai habis setengah kemudian menyimpan nya di meja samping ranjang.


"Pipimu sudah tidak bengkak lagi," ucap Maxime seraya memegang pipi Milan.


"Ini sudah tidak sakit lagi."


"Baguslah."


Maxime melentangkan kedua tangannya. "Kau tidak mau memelukku?"


Milan tersenyum lalu masuk ke dalam pelukan Maxime.


"Aku sudah membeli tempat les piano itu sayang, jadi banyak anak buahku yang akan menjagamu."


Milan mendongak menatap suaminya. "Membeli?"


Maxime mengangguk.


"Kau membeli tempat les seperti membeli kerupuk saja, kenapa mudah sekali."


Maxime tertawa mendengar kata kerupuk yang di ucapkan Milan.


"Tidak ada yang sulit untukmu." Maxime mempererat pelukannya.


*


Malam harinya semua orang berkumpul di ruang tamu. Sky, Liana, Kara, Thomas, Javier, Xander, Rania, Keenan dan buntutnya lengkap berkumpul bersama. Sekretaris Han duduk dengan wajah gelisah.


"Sebenarnya siapa yang mencoba melamar anakmu, Sky?" tanya Kara kepada Sky.


Pasalnya tidak ada yang memberitahu siapa yang akan melamar Miwa. Hanya Miwa sendiri yang berkata jika ada pria yang ingin menikahinya.


Maxime turun bersama Milan dan bergabung bersama mereka. Kemudian tak lama kemudian terlihat Miwa dengan gaun merah dan wajah polesan make up membuat semua orang sontak menoleh ke arahnya. Karena malam ini Miwa begitu cantik.


"Wihhh ... calon pengantin nih!" ucap Jonathan.


"Belum tentu, bisa jadi Miwa menolak pernikahan ini lagi seperti sebelumnya," sahut Keenan.


"Menolak bagaimana, dia sendiri yang bilang ada yang mau melamar dia. Berarti dia sudah tau siapa orangnya dan dia tidak mungkin menolak," timpal Philip.


"Sayang, sebenarnya siapa yang mau melamar Miwa?" bisik Sky kepada Javier.


"Lihat saja nanti sayang," sahut Javier.


Miwa berjalan dan bergabung bersama mereka. Dia duduk ditengah-tengah Javier dan Sky. Sekretaris Han yang melihat Miwa semakin dag dig dug tidak jelas. Bagaimana nasib anaknya di tangan Javier dan Maxime.


Satu hal yang sudah Sekretaris Han siapkan, Rumah Sakit terbaik untuk putranya yang kemungkinan nanti nyawa nya berada di ujung tanduk. Bahkan tanpa sepengetahuan yang lain ada ambulance di dekat mansion Javier yang sudah siap membawa Arsen ke Rumah Sakit kalau nyawa pria itu terancam di tangan Maxime dan Javier.


Bersambung