
Setelah beberapa saat berbincang dengan Miwa di bawah, Tessa kembali ke kamarnya. Ia berjalan mendekati kanvas yang ada di kamarnya lalu menarik kain putih yang menutupi kanvas tersebut.
Dengan tangan bersedekap dada Tessa tersenyum melihat hasil lukisan nya yang ia kerjakan hampir dua hari.
Di bawahnya tertera nama Maxime Louis De Willson, kakak angkatnya yang dia suka diam-diam. Berbeda dengan Miwa yang berani mengejar, Tessa lebih memilih merahasiakan perasaan nya dari Maxime.
"Kak, menurut kakak apa di antara kita berempat akan ada yang saling jatuh cinta?" tanya Tessa saat usianya tujuh belas tahun.
"Tidak akan!" sahut Maxime yang sedang mengancingkan kemeja nya di depan cermin.
"Kita berempat tumbuh sebagai adik kakak, tidak akan ada yang jatuh cinta," lanjut Maxime berbalik lalu berjalan mengelus puncak kepala Tessa dan keluar dari kamar.
Ia meninggalkan Tessa yang hanya bisa menekuk wajahnya dengan jawaban Maxime.
Senyuman Tessa memudar kala ingatan nya memutar jelas dimana Maxime mengatakan tidak akan ada yang jatuh cinta.
*
Maxime menarik selimut untuk Milan yang sudah tertidur. Pria itu berjalan keluar selepas membuat gadis itu terlelap.
Ia duduk di kursi seraya menelpon adiknya, Miwa.
"Hallo."
"Kau belum tidur ternyata," ucap Maxime.
"Aku baru selesai mandi kak," sahut Milan seraya menggosok rambut dengan handuk di kamarnya. "Ada apa?"
"Miwa ... jujur dengan kakak, apa kau sedang mendekati Arsen?"
Tangan Miwa yang sedang menggosok rambut menggunakan handuk tiba-tiba berhenti. "A-aku ... tidak, kenapa kakak berpikir seperti itu?"
"Katamu, kau sudah menemukan pria yang berani menghadapi kakak, siapa lagi kalau bukan Arsen!" sahut Maxime.
"Bisa jadi Jack atau Peter. Mereka juga berani menghadapi kakak, iya kan?!"
"Heii!!" terdengar nada tidak suka dari Maxime.
Miwa terkekeh seakan menutupi rasa paniknya karena Maxime mengetahui hal tersebut.
"Tidak kak, bukan kak Arsen ... jadi itu alasan kakak mengatakan aku tidak boleh terlihat murahan? karena kakak berpikir aku mengejar kak Arsen?"
Maxime berdehem sebagai jawaban.
"Oh ayolahh ... kakak ini manusia bukan dukun. Jangan so tau huh ..."
Maxime tersenyum. "Kau ini adik lima menit ku, siapapun yang mau menikahi mu harus benar-benar menjagamu dengan benar hmm ..."
Milan tersenyum haru di kamarnya. "Tenang saja, aku tidak akan salah memilih pria lagi."
"Baiklah, bawa pria itu bertemu dengan kakak sesegera mungkin!"
"Oke kak."
"Tidurlah, kakak mau menelpon Tessa dulu."
"Oke, selamat malam."
Miwa pun mematikan panggilan nya dan kini Maxime beralih menelpon Tessa.
Tessa masih memandang datar lukisan di depan nya sampai beberapa detik berlalu ia tidak sadar ponsel di saku nya berdering.
Ia mengerjap lalu mengambil ponsel di saku dan mengangkat nya dengan tersenyum kala nama Kak Maxi tertera di layar ponsel.
"Hai, kak. Selamat malam ..." ucap Tessa penuh semangat.
"Aku baik. Kak Maxi jarang sekali mengabariku akhir-akhir ini." Tessa cemberut di kamarnya.
Maxime tersenyum. "Maaf, akhir-akhir ini sibuk sekali."
"Sibuk apa? mengurusi petshop?" keluh Tessa yang selalu sebal dengan Maxime karena lebih banyak menghabiskan waktu di petshop nya.
Maxime terkekeh pelan. "Mau gimana lagi, kakak tidak mau miskin kalau petshop ini sepi."
"Huhhh dasar!!"
Maxime kembali tersenyum. "Tidurlah, kenapa belum tidur. Ini sudah sangat malam, kakak menelpon mu untuk menanyakan kabarmu saja."
"Aku belum ngantuk kak, Miwa juga sepertinya belum tidur. Bagaimana kalau kita video call berempat. Aku rindu kak kita berempat berkumpul dan aku sudah lama tidak melihat wajah kak Maxi ..."
"Hmmm baiklah ..."
Tessa di kamarnya begitu senang, ia mematikan panggilan nya lalu melakukan video call dan mengundang Miwa serta Arsen.
"Astagaaa ... apa harus semalam ini?!" keluh Arsen yang baru saja hendak tertidur.
"Hai Kak Arsen ..." panggil Miwa penuh semangat dan ketika Miwa sadar Maxime memperhatikan dirinya ia langsung menyapa kakak kandung nya itu agar Maxime tidak curiga.
"Hai Kak Maxi ..." Miwa melambaikan tangan tanpa menghilangkan semangat nya seperti tadi memanggil Arsen.
Arsen hanya menepuk jidatnya melihat Miwa tersenyum ke arahnya.
"Kak Maxi ... kapan pulang ke mansion?" tanya Tessa.
"Eummm ... minggu depan saja," sahut Maxime.
"Loh, kenapa lama banget sih kak. Kenapa tidak besok saja!" ucap Tessa.
"Kakak ku ini sibuk Tessa," sambung Miwa, sebenarnya Miwa lebih senang Maxime tidak pulang agar tidak dia bebas mendekati Arsen.
"Pulang saja lah Max ke sini!" ucap Arsen, ia mengerti kenapa Miwa seolah-olah tidak suka Maxime ke mansion.
Dan Arsen sendiri lebih suka Maxime di mansion saja agar Miwa tidak bisa terlalu dekat dengan nya.
"Iya kak pulang ..." Tessa merengek.
"Iya ... iya ... nanti kakak pulang. Sudah kalian tidur sana," titah Maxime.
"Oke kak," jawab Miwa dan Tessa bersamaan.
"Selamat malam kak." Miwa melambaikan tangan seraya tersenyum kepada Maxime lalu mematikan panggilan video call nya.
"Selamat malam kak." Tessa melakukan hal yang sama.
Dan kini tersisa Arsen dan Maxime.
"Aku tidur dulu ya, Kak. Selamat malam kakak ..." ucap Arsen melambaikan tangan seraya tersenyum.
"Menjijikan!" sahut Maxime lalu lebih dulu mematikan panggilan video nya.
Ketika selesai video call ia menoleh ke arah kamar dan mendapati Milan yang sedang mengintip di balik pintu. Gadis itu terlihat begitu iri melihat keharmonisan Maxime dan adiknya, karena Milan dan Melisa tidak pernah dekat. Bahkan cenderung bermusuhan.
"Milan ..." gumam Maxime.
Karena terkejut Maxime melihatnya, Milan segera menutup pintu dan masuk ke dalam selimut lagi.
Milan merasa mengenal suara salah satu perempuan yang video call dengan Maxime. Tapi dia tidak bisa melihat wajah dua perempuan tersebut di ponsel Maxime.
Bersambung