The Devil's Touch

The Devil's Touch
#71



"Keenan kau darimana?" tanya Sekretaris Han kala melihat Keenan baru masuk ke mansion.


Di ruang keluarga sekarang ada Xander, Rania, Philip, Thomas dan Athes and the geng. Mereka duduk bersantai. Javier sedang olahraga bersama Sky di kamar.


Keenan duduk bergabung dengan yang lain. "Jalan-jalan," sahut Keenan. "Lagi pula untuk apa diam di sini, ikut membahas soal si penerror itu. Dari dulu aku bekerja hanya menjadi sekretaris, kalaupun ada yang harus bertengkar aku tidak ikut campur!"


"Jelas lah, kau kan lemah!" cibir Aiden.


"Awal bertemu dengan mu saja kau seperti perempuan, ku pikir kau homo Keenan," sambung Samuel.


"Kurang ajar!" umpat Keenan.


"Apa mobil Tessa dan Miwa sudah pergi?" Liana berjalan ke ruang keluarga dengan celemek di tubuhnya. Ia baru saja memasak resep baru bersama Kara.


"Ada apa?" tanya Rania sang nenek.


"Ponselnya Miwa ketinggalan." Liana menunjukan ponsel Miwa di tangan nya.


"Baru sepuluh menit mereka pergi, suruh mereka mengantarkan ponsel Miwa ke mansion Maxime." Xander menunjuk Athes and the geng dengan dagu nya.


"Biar aku saja yang antar." Keenan beranjak mengambil ponsel di tangan Liana.


"Aku ikut ..."


"Aku juga ..."


Athes and the geng beserta Philip pun menyusul Keenan yang berjalan keluar mansion. Dan Liana kembali ke dapurnya.


Xander menggeleng. "Apa ada yang bisa mengalahkan persahabatan Athes dan yang lain? menurutku tidak ada!"


"Ke empat bocil yang tumbuh bersama juga bersahabat sampai sekarang. Mereka lebih kuat!" Rania berkata seraya menutup toples di meja bekas Athes and the geng makan.


"Saking kuatnya mereka sepertinya sama-sama memutuskan untuk tidak punya pacar," ucap Thomas.


"Aku takut tidak punya cucu," sambung Sekretaris Han.


"Pria seperti Keenan saja bisa menikah, tidak mungkin anakmu lajang seumur hidup, Han." timpal Xander.


*


Maxime sedang memperhatikan Milan mengejar kucing oren di belakang petshop mereka. Maxime tersenyum, sesekali tertawa dan sesekali berusaha menahan tawa kala Milan mendelik kesal ke arahnya.


Pasalnya gadis itu beberapa kali terjatuh ketika gagal menangkap kucing oren yang terus berlari menjauhi nya.


Kematian Blacky membuat Milan kesulitan jika ingin menjebak pelanggan agar membeli makanan kucing di petshop Maxime. Biasanya ada Blacky yang akan menggeram marah ketika Milan berhasil menjebak pelanggan dengan menjanjikan pelanggan perempuan bisa bertemu dengan Maxime asal membeli dua puluh lebih makanan atau vitamin di petshop.


"Apa kau tidak mau membantu?" teriak Milan.


"Tidak, aku ingin kucing liar. Kucing liar biasanya galak!"


"Sebenarnya untuk apa kucing itu hmm?" Maxime berkata seraya mengelus kepala Milan. "Kau berkeringat ... duduk lah biar aku yang menangkap nya."


"Aku hanya ingin merawatnya saja."


"Duduk." Titah Maxime dan Milan pun duduk di salah satu batu besar yang ada di halaman belakang petshop.


Sementara Maxime masih berdiri menaburkan makanan kucing untuk kucing oren itu.


Kucing itu masih enggan berjalan untuk memakan makanan yang di taburkan Maxime.


Tapi lama kelamaan, ia mulai mendekat perlahan dengan langkah ragu-ragu.


Maxime menyunggingkan senyum nya kala melihat kucing itu mengunyah makanan dari nya untuk pertama kali.


Kucing itu terus berjalan mencari-cari makanan yang di taburkan Maxime, ia harus mengendus untuk mencari aroma makanan yang terhalang rumput.


Maxime menaburkan makanan nya lagi tidak terlalu jauh, berusaha makanan itu jatuh di dekat kaki nya.


Kucing oren itu sempat ragu kala makanan itu berada tepat di depan kaki Maxime.


"Ayo kesini ..." tangan Maxime melambai agar si kucing menghampiri nya.


Selangkah demi selangkah kucing oren itu mendekati Maxime. Maxime menaburkan lebih banyak makanan di depan kaki nya untuk memancing si kucing.


Milan yang duduk di belakang masih diam memperhatikan lalu mendengus. "Lama sekali dasar kucing!" kesalnya membuat si kucing kaget karena suara Milan sampai kucing itu mundur kembali beberapa langkah.


Maxime menoleh ke belakang. "Sabarlah ... dia bukan manusia."


"Aku tau," sahut Milan dengan wajah cemberutnya membuat Maxime tersenyum.


Ketika kembali menoleh ternyata si kucing sudah di depan kaki Maxime. Maxime perlahan-lahan membungkukan badan, tubuh kucing itu sempat gemetar kaget kala Maxime mengelus kepala nya.


"Makanlah ... jangan takut ..." Maxime terus mengelus kepala kucing itu untuk memberikan kenyamanan dan ketenangan agar si kucing tidak kabur lagi.


"Pamaannnn ..." Teriak Aron yang tiba-tiba berlari ke arahnya. Anak laki-laki yang baru berusia lima tahun itu tersenyum seraya terus berlari ke arah Maxime dengan memegang kantung hitam entah isinya apa.


Maxime dan Milan menoleh k arah Aron tapi ketika Maxime menunduk kembali ternyata si kucing sudah berlari jauh karena kaget dengan suara Aron.


Maxime dan Milan menghembuskan nafas kecewa. Sudah lelah menunggu malah gagal menangkap kucing oren itu.


#Bersambung