The Devil's Touch

The Devil's Touch
#73



"Ini enak, siapa yang membuatnya?" tanya Maxime seraya memakan puding.


"Ayahku paman," sahut Aron.


"Tidak, ini tidak enak. Rasanya aneh." Milan berkata mengerutkan dahinya seraya pura-pura ingin muntah seakan rasa puding yang di makan nya benar-benar tidak enak.


Maxime dan Aron menoleh kepada Milan lalu Aron menepuk-nepuk tangan Maxime. Maxime menoleh.


"Paman, aku tidak suka kakak itu." Aron berkata pelan seraya menatap Milan.


Maxime tersenyum mengelus kepala Aron. "Dia baik, hanya suka bercanda saja."


"Aku juga tidak suka denganmu!" Milan malah semakin mengompori Aron di saat Maxime berusaha mendamaikan mereka berdua.


Aron menekuk wajahnya kesal lalu kembali memakan puding saja. Maxime tersenyum lagi seraya menggeleng kecil lalu mengelus kepala Milan yang sedang juga menekuk wajahnya seraya menusuk-nusuk puding dengan sendok.


Beberapa menit berlalu mereka bertiga hening dan sibuk makan cake dan puding. Milan yang bilang tidak enak pun tetap makan puding nya sampai habis.


Sebenarnya enak, ia hanya sengaja saja membuat Aron kesal.


"Paman ..." Aron kembali memanggil.


"Ya?"


"Ada pohon cherry ya di belakang?" tanya Aron.


Maxime mengangguk. "Iya, kau suka cherry?"


Aron mengangguk cepat. "Suka Paman, manis," ucapnya seraya tersenyum.


"Kau boleh mengambilnya kalau mau," sahut Maxime.


"Beneran Paman?" mata Aron berbinar senang.


Maxime mengangguk dan tiba-tiba dengan tergesa-gesa Milan berlari keluar seraya berteriak.


"Cherry itu milikku ..."


Aron pun segera turun dari kursi nya mengejar Milan. "Aku yang meminta kepada paman," teriak Aron lari terbirit-birit menyusul Milan.


Maxime menghela nafas dan memasukan suapan terakhir puding nya, mengunyah puding seraya melihat Milan dan Aron yang saling mengejar ke belakang petshop.


"Ini milikku ... ini milikku ..." Milan mengambil cherry satu persatu dengan tubuhnya yang terus menghalangi Aron di belakang yang ingin juga mengambil cherry.


Aron berusaha maju mendekati pohon cherry tapi tubuh kecil nya di senggol Milan, untung saja Aron tidak jatuh karena Milan menyenggol tubuh Aron pelan.


"Ih, awas dong. Aku juga mau!"


"Ambil saja sendiri kalau bisa wle!" Milan balas meledek Aron.


Aron mendengus dan terus berusaha maju ke depan tapi selalu gagal.


"Ihhh aku gigit lagi nih mau?"


"Gigit saja, kau tidak akan kebagian cherry!" sahut Milan santai seraya terus memetik cherry.


Maxime beranjak dan berjalan menghampiri Milan dan Aron. Sekarang terlihat Milan membiarkan Aron mengambil cherry-cherry itu.


Tapi tiba-tiba.


"Aaaarrggh ..."


Mendengar suara teriakan, Maxime yang berjalan santai segera berlari dan mendapati Milan yang tertawa terbahak-bahak seraya membantu Aron keluar dari selokan.


"Aduhh ... aduhh ..." Aron mengeluh.


Tubuh Aron penuh dengan lumpur berbau dengan satu tangan berusaha di tarik Milan untuk keluar dari selokan.


"Kenapa bisa jatuh?" tanya Maxime seraya mengangkat tubuh Aron keluar.


"Paman ..." Aron terlihat menahan tangisnya dan Milan masih saja tertawa.


"Paman cherry ku ..." Aron menunjuk cherry di selokan.


"Nanti ambil lagi, sekarang mandi dulu saja."


"Ayo ..." Maxime menggenggam tangan Milan dengan Aron yang penuh lumpur di gendongan nya. Lumpur itu juga mengenai baju Maxime.


"Sudah jangan tertawa," bisik Maxime kepada Milan. Milan pun sontak menahan tawa nya sampai pipi nya menggembung.


Aron menekuk wajahnya terlihat ingin menangis tapi tidak mau di ledeki oleh Milan lagi.


Maxime membawa Aron ke kamar mandi. "Mandi saja ya."


Aron mengangguk pasrah, Milan menghampiri meja untuk meneguk segelas air. Ia lelah karena terlalu keras tertawa.


Sementara itu Maxime membuka baju Aron setelah itu membuka bajunya sendiri. Aron telanjang bulat dan Maxime hanya mengenakan bawahan nya saja.


Milan berjalan menghampiri kamar mandi dan berdiri di ambang pintu dengan memegang gelas berisi air sisa setengah.


Niatnya hanya menonton Maxime memandikan Aron tapi Milan malah mendapati tubuh Maxime tanpa balutan baju.


Badan atletis nya terpampang jelas dengan rahang tegas dan otot-otot di perutnya. Milan menelan saliva nya susah payah. Tubuh Maxime sangat bagus.


Maxime yang sedang menggosok tubuh Aron dengan sabun berkata. "Kau tidak mau mengedipkan mata mu Milan?" tanya nya lalu tersenyum menoleh kepada Milan tanpa berhenti menyabuni Aron.


Milan sontak langsung mengerjapkan mata nya. Lalu pergi dengan malu meninggalkan kamar mandi.


Membuat Maxime tersenyum gemas melihatnya.


"Paman, sudah belum?" tanya Aron.


"Sebentar lagi," sahut Maxime.


"Paman aku tidak bawa baju."


"Pakai baju paman dulu saja ya, paman belikan baju untukmu dulu."


Aron mengangguk dan sudah pasti Arsen yang akan di repot kan untuk membeli baju anak kecil.


Bersambung