
Selesai sarapan bersama Maxime, Arsen, Jack dan Peter pulang dari mansion Javier. Sebelum pulang mereka sempat berbincang-bincang setelah makan.
Bercanda dan membahas masa lalu mereka yang membuat mereka tertawa. Miwa dan Tessa masih mengobrol bersama Kara dan Liana di ruang keluarga. Sisa nya entah kemana, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Javier bersama Sky di dalam kamar. Perempuan yang sudah tidak muda lagi itu sedang membuka album foto lama nya duduk di tepi ranjang, ia tersenyum melihat foto ke empat bocil yang dulu nakal kini sudah tumbuh menjadi sosok dewasa yang tampan dan cantik.
Sementara itu Javier sedang membersihkan pistol miliknya yang berharga di sofa.
"Waktu berlalu begitu cepat ya, sayang ... Aku benar-benar tidak menyangka bisa membesarkan si kembar sampai sedewasa ini," ucap Sky menoleh kepada Javier.
Javier balik menatap istrinya seraya tersenyum. "Ya, kau hebat karena berhasil melahirkan dan mendidik mereka."
Javier tidak pernah bosan memuji Sky untuk membuat rumah tangga nya tetap harmonis.
Sky kembali gelisah memikirkan soal si penerror yang mengincar putra nya itu.
"Apa kalian sudah menyelidiki si penerror itu?" tanya Sky.
"Kami sedang menyelidiki nya, tidak perlu khawatir sayang ... Maxi lebih pintar dari aku, dia hanya pura-pura tidak tau saja siapa pelaku nya. Kau tau dia punya insting yang tajam dari kecil bukan ..."
Sky menghela nafas "Semoga saja Maxi bisa menangkap si penerror itu secepatnya."
Tiba-tiba Sky mengingat senyuman Maxime di meja makan tadi.
"Sayang ... aku merasa ada yang aneh dengan Maxime."
"Aneh bagaimana?" tanya Javier.
"Dia tiba-tiba senyum sendiri di meja makan tadi."
Maxime menyimpan pistol nya di meja lalu berjalan menghampiri Sky dan duduk di depan istrinya.
"Dia juga menanyakan soal bagaimana dulu aku mengikatmu agar tetap di sampingku," ucap Javier membuat Sky melebarkan mata nya.
"Benarkah?"
Javier mengangguk.
"Apa mungkin dia sedang jatuh cinta?"
"Mungkin saja," sahut Javier lalu mengambil album foto di atas paha Sky dan menyimpan nya di laci.
"Biarkan saja sayang ... dia bertanya soal bagaimana dulu aku mengikatmu, itu artinya perempuan yang dia pilih belum mencintai nya. Mungkin saja dia berpikir untuk melakukan pernikahan licik yang aku lakukan dulu." Javier tersenyum membuat Sky berdecak hendak beranjak dari ranjang tapi Javier menarik tangan nya.
Sky jatuh di pangkuan Javier. "Yuk sayang ..." goda Javier.
*
Maxime memarkirkan mobilnya di depan petshop. Ketika ia masuk ia mendapati Keenan yang sedang menarik telinga Bunny ke atas dan Milan sendiri sepertinya sedang di kamar mandi.
"Jangan seperti itu, dia akan kesakitan!!" Maxime mengambil Bunny dari Keenan.
"Kenapa kau jadi suka kelinci Maxime?" tanya Keenan.
"Ini hadiah dari anak kecil," sahut Maxime seraya mengelus Bunny di tangan nya.
"Bonus jangan lupa!" Keenan beranjak dengan kesal.
"Milan aku pulang dulu!" teriak Keenan kepada Milan yang berada di kamar mandi.
Tak lama kemudian Milan keluar dan duduk bersama Javier di meja makan.
"Paman Keenan sangat aneh," ucap Milan.
"Kenapa?" tanya Maxime.
"Seperti orang bisu saja, jarang sekali berbicara."
Maxime tersenyum, tak di sangka demi bonus dari nya Keenan benar-benar melakukan tugasnya dengan baik untuk tidak banyak bicara yang aneh-aneh dengan Milan.
"Mood nya sedang jelek mungkin," sahut Maxime.
Maxime beranjak memasukan Bunny ke kandangnya.
"Apa ada kabar soal pencuri itu?" tanya Milan.
"Aku sudah mengurusnya, tenang saja." Maxime berbalik lalu menghampiri Milan dan memeluk gadis itu dari belakang.
"Milan ..." panggil Maxime.
"Hmm?"
"Jangan labil ... jangan plin-plan."
"A-apa maksudmu?" tanya Milan.
"Kalau aku baik di matamu jangan pergi karena aku jahat kepada orang lain ... aku tidak mungkin jahat tanpa sebab bukan?"
Maxime sedang memikirkan gadis ini, ia tahu Milan masih mempunyai keinginan untuk pergi darinya. Tapi terhalang oleh kebaikan Maxime.
Milan sendiri bergeming tidak tahu harus menjawab apa. Ia malah ingat perkataan Cantika di supermarket.
Selama dia tidak jahat denganmu untuk apa kau tinggalkan.
Maxime kembali berbicara. "Aku mungkin akan melakukan hal di luar batas kalau sampai ada orang yang berani menyakitimu ..."
Maxime mempererat pelukan nya lalu mengendus leher Milan. Milan bergerak sedikit tidak nyaman dan itu membuat Maxime tertawa lirih.
"Kau ini ... jadi preman di sekolah tapi jadi kucing kecil ketika bersamaku."
"Bukan seperti itu, lepaskan dulu pelukanmu." Milan bergerak agar Maxime melepas pelukan nya tapi yang di lakukan pria itu malah semakin erat memeluk Milan.
"Tidak!" bantah Maxime.
"Max ... Maxime ... kau kan keluar untuk beli makanan kucing. Dimana makanan nya?" Milan berkata seraya terus berusaha lepas dari pelukan Maxime.
"Toko langganan ku tutup. Besok saja," sahut Maxime.
Bersambung