The Devil's Touch

The Devil's Touch
#163



Selesai sarapan bersama Maxime dan Milan pun bergegas ke sekolah. Di perjalanan Milan mendapatkan pesan dari Miwa dan keluarga besar Maxime yang lainnya. Mereka memberi semangat untuk ujian yang akan di laksanakan hari ini.


Milan tersenyum, bukan hanya mereka yang mengucapkan, Milan dibuat terkejut ketika Ayahnya mengucapkan semangat lewat pesan.


Milan, ini papah. Semangat untuk ujian nya hari ini, papah, mama dan Melisa selalu mendoakan mu disini. Papah minta maaf, papah tidak bisa membela mu ketika mama mu marah dan mengusirmu, tapi kau harus tau, Mama mu sangat menyesal dan ingin kau kembali. Tapi hari itu, Tuan Maxime datang dan menawarkan uang yang banyak demi memilikimu. Papah awalnya tidak setuju, tapi Melisa membutuhkan biaya untuk kuliahnya Milan. Papah harap kalian berdua mendapatkan nasib yang baik, Melisa yang akan menjadi dokter agar kelak hidupnya tidak kesusahan dan kau menikah dengan orang kaya agar hidupmu kelak tidak kesusahan juga. Papah takut kalian hidup serba kekurangan seperti papah dan Mama. Papah harap kau mengerti ...


Milan menghela nafas, Maxime yang melihat itu pun bertanya.


"Kenapa sayang?"


Milan menoleh lalu menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, aku hanya sedikit gugup takut nilaiku jelek nanti."


Maxime tersenyum. "Tak apa, nilai jelekmu tidak akan membuatmu hidup miskin di masa depan. Kau masih punya keahlian main piano."


Milan tersenyum seraya mengangguk.


Mereka sampai di sekolah, Maxime keluar dari mobil mengitari mobilnya dan membukakan pintu untuk Milan. Milan menatap teman-teman nya yang kini berserseragam rapih, biasanya dasi yang mereka pakai hanya menggantung di leher mereka saja atau dengan isengnya mengikat di lengan atas mereka, seragam para murid lelaki pun terlihat bersih tidak sepertzi biasanya.


Ujian berlangsung empat hari, satu hari satu pelajaran, tepat ketika Maxime menutup pintu mobilnya bel masuk berbunyi.


Maxime meraup kedua pipi Milan. "Semangat, jangan gugup dan jangan menghitung kancing untuk mencari jawaban."


Milan terkekeh pelan. "Kalau soalnya sulit hanya itu yang bisa aku lakukan."


"Dasar!" Maxime mengacak-ngacak rambut Milan.


"Aku masuk dulu." Maxime mengangguk dan melihat Milan lari menuju kelasnya lalu pria itu menelpon seseorang.


"Ambil gaun pengantin di butik Miwa dan kirim ke mansionku!"


"Baik Tuan."


*


Maxime hanya menunggu Milan di kantin dengan gelisah, sesekali otaknya bertanya apa Milan bisa mengerjakan soal-soal tersebut, apa soal yang sering ia ajarkan kepada Milan masih di ingat gadis itu atau tidak.


Maxime mendengus kasar lalu menyambar es jeruk di atas meja hanya untuk menenangkan pikiran nya yang khawatir akan Milan. Sesekali ia menoleh ke arah jam tangan di pergelangan tangan nya, sebentar lagi Milan keluar.


Milan memeluk Maxime erat lalu mendongak. "Aku bisa! aku banyak mengingat semua yang kau ajarkan!"


"Benarkah?"


Milan mengangguk semangat dengan tersenyum.


Maxime tertawa pelan seraya mengelus kepala Milan. "Bagus sayang!"


Pria itu pun memeluk erat gadis itu, tak perduli seberapa banyak orang-orang di kantin melihat mereka. Teman-teman Milan yang lain datang ke kantin hanya untuk memesan makanan untuk mengobati otaknya yang terasa terbakar, mereka tidak langsung pulang ke rumah. Makanan pedas dan minuman dingin membantu meredakan otak mereka yang hampir meledak.


Maxime dan Milan pun sebelum pulang sempat makan terlebih dahulu di kantin, Maxime tersenyum melihat Milan makan begitu lahapnya.


"Kau sepertinya sangat kelaparan."


"Otakku yang kelaparan bukan aku," sahut Milan dengan mulut penuh makanan.


Maxime tertawa menyeka ujung bibir Milan yang belepotan. Milan tersenyum dan kembali sibuk dengan makanan nya.


Maxime mendapatkan pesan dari salah satu anak buahnya.


"Tuan, apa cincin berlian nya mau di bawa sekarang juga?"


Maxime membalas.


"Ya."


Cincin berlian yang Maxime beli untuk Milan adalah cincin berlian yang di tunjukan Tessa kepada Miwa dan Milan saat di restaurant beberapa bulan yang lalu.


Cincin mahal yang akan mengikat jari manis Milan menjadi istri Maxime.


Selesai makan mereka pun akhirnya kembali ke mansion, di perjalanan Maxime terus menggulum senyum di wajahnya, ia sedang membayangkan betapa cantiknya Milan dengan gaun yang ia pilih untuk pernikahan mereka nanti.


Sementara Milan masih menyeruput es jeruk yang belum habis tadi. Satu tangan nya memegang roti, ia benar-benar belum merasa kenyang, sarapan nya tadi pagi terasa tidak terlalu nikmat karena memikirkan ujian hari ini. Kalau saja Maxime tidak memaksanya untuk cepat pulang, Milan sudah kembali menambah makanan nya lagi di kantin.


Bersambung