
Maxime menuruni anak tangga mendekati minibar kecil di dapur, ia duduk di sana mengangkat minuman di meja dan menegaknya setengah.
Seorang perempuan yang seumuran dengan Sky menghampiri Maxime, membalikkan posisi salah satu gelas yang berjajar di nampan warna hitam sisi meja lalu menuang air dingin dari botol kaca dan meminumnya sekali tegukan.
"Aunty mata panda mu semakin melebar sekarang."
Perempuan itu berdecih lalu duduk di samping Maxime.
"Kau masih ingat jalan pulang ke mansion ini Maxi ..." Kata Ara, baby sitter Maxime, Arsen, Miwa dan Tessa saat kecil.
Ara masih tetap merawat Maxime dan yang lain sampai sedewasa ini, suaminya tinggal di mansion Javier.
Dan Ara pulang seminggu sekali ke rumah orang tua nya untuk bertemu anak-anaknya yang di rawat oleh kakek neneknya. Ara dan suaminya di karuniai dua orang anak yang kini sudah remaja.
"Kalau aku lupa kau pasti senang karena menguasai mansion ku, Aunty," sahut Maxime seraya menarik ujung bibirnya tersenyum lalu mengambil cake di meja entah siapa yang buat.
"Aku tidak butuh mansion mu, suamiku juga kaya raya."
"Cih, kau membanggakan suami tidak warasmu itu, Aunty."
"Hei jaga bicaramu! suamiku adalah korban bullyan mu saat kecil, seharusnya kau minta maaf bukan mengatainya terus-menerus huh."
Maxime menunduk seraya tersenyum tipis. "Aku rindu melihat semua uncle tidak warasku kelelahan di kejar Glory dan Gery."
"Kau memang menyebalkan sama seperti Ayahmu!" sahut Ara kemudian melahap cake di meja.
"Oh iya, Maxi ... semalam Peter membawa pria ke mansion ini, dia bilang kau yang menyuruh."
"Ya, dia Oris. Masuk tahanan hanya karena mencuri singkong. Konyol sekali bukan?"
Ara menoleh ke arah Maxime seraya menautkan kedua alisnya. "Apa? kau yakin? hanya singkong dia sampai di penjara?"
Maxime mengangguk setelah itu mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Ada sebuah pesan masuk dari Arsen. Pria itu mengirimkan keadaan Milan di petshop yang sedang bermain dengan Blacky.
Maxime tersenyum lalu kembali menyimpan ponselnya, Ara menyipitkan mata penasaran apa yang membuat Maxime bisa tersenyum hanya melihat ponselnya.
"Maxi ..." panggil Ara.
Maxime menoleh.
"Kau baik-baik saja?"
Maxime mengangguk.
"Tidak, kau tidak baik-baik saja. Kenapa kau tersenyum melihat ponselmu ... jangan bilang kalau kau ..." Ara kembali menyipitkan mata dengan jari telunjuk menunjuk wajah Maxime.
Maxime berdecak menurunkan jari Ara di depan wajahnya. "Jangan berpikir aneh-aneh, Aunty."
Ekspresi wajah Maxime pun berubah menjadi datar, seakan memperlihatkan kepada Ara kalau tidak ada yang berubah dengan dirinya.
Ara masih menatap intens Maxime, pria itu yang sadar terus-menerus menjadi tatapan aunty nya dengan cepat beranjak.
"Hei kau mau kemana?" Tanya Ara setengah berteriak.
"Kandang Glory," sahut Maxime.
"Isshhh anak itu ... aku yakin ada yang dia sembunyikan," gumam Ara kesal.
Maxime berjalan melewati lorong yang terhubung langsung dengan kandang Glory dan Gery di samping rumahnya.
Maxime bersiul dan kedua singa itu pun menoleh lalu berlari ke arah Maxime yang berada di luar kandang.
Kedua singa itu bergerak mengibas-ngibaskan ekornya, berlari berputar-putar dengan semangat meminta di lepaskan dari kandang.
Maxime tersenyum lalu memberi kode kepada para penjaga agar melepaskan Glory dan Gery dari kandang.
Kedua singa itu pun dengan semangat berlari ke arah Maxime setelah pintu kandang terbuka, Maxime membuka kedua tangan nya lebar seakan sudah siap menerima dua singa yang akan memeluknya.
Dan benar, ketika sudah dekat dua singa itu meloncat ke arah Maxime, untung saja Maxime masih bisa menahan berat dua singa yang kini sedang mendusel-dusel di kepala nya.
Mereka bukan dua singa yang menemani Maxime saat kecil. Gery singa betina dulu melahirkan dua anak singa dan Maxime pun tetap menamai dua anak singa itu dengan nama Glory dan Gery.
Bukan hanya singa, Maxime memelihara satu macan tutul yang berada di kandang terpisah karena macan tutul itu sedang sakit.
Dua penjaga menghampiri Maxime dan berdiri menonton Glory dan Gery yang sedang bermain dengan Tuan nya.
"Dimana Rosi? apa dia sudah sehat?" tanya Maxime menanyakan keadaan macan tutul kesayangan nya.
"Rosi mulai membaik, Tuan. Dokter hewan kemarin datang dan sudah memeriksa Rosi."
"Bagus."
Sementara itu Tessa dan Miwa sedang saling mendorong satu sama lain di lorong menuju kandang singa untuk menghampiri Maxime, mereka hendak meminta maaf karena merasa bersalah atas kejadian semalam. Mereka tidak tahu kalau semalam hampir di perk*sa.
Maxime selalu bersikap lembut kepada mereka kalau mereka tidak membantah ucapan Maxime. Tapi sekarang situasinya berbeda, mereka tahu mereka salah jadi sedikit takut untuk mendatangi Maxime dan meminta maaf kepada pria itu.
Tapi bicara soal maaf, kedua perempuan ini sangat gengsi.
"Cepat, Miw. Kau duluan!" Tessa mendorong tubuh Miwa.
Miwa menarik tangan Tessa agar jalan lebih dulu. "Ah tidak mau, kau saja."
Tessa kembali menarik tangan Miwa. "Miwa ih, kau kan adik kandungnya. Dia tidak mungkin marah denganmu."
"Kau juga di anggap adik oleh Kakak ku, jadi kau saja!"
"Miwa!!"
"Tidak mau Tessa!!
Ekheemm
Kedua perempuan itu terkejut kala melihat Maxime yang sudah ada di depan mereka dengan kedua tangan di dalam saku celana.
"Ka-kakak ..." ucap Miwa.
Maxime masih menatap datar mereka berdua. Tessa terlihat berdiri di belakang Miwa lalu mendorong tubuh gadis itu, untung saja Miwa tidak jatuh.
"Ada apa?" tanya Maxime datar.
Miwa menyempilkan rambutnya ke belakang telinga lalu berjalan dengan ragu-ragu mendekati Maxime.
"Begini Kak ..." Miwa perlahan mendongak.
"A-aku dan Tessa ..." Miwa menoleh ke arah Tessa yang masih berdiri di belakang.
"Aku dan Tessa minta ... minta ..."
"Uang?" tebak Maxime seraya menaikkan satu alisnya lalu di jawaban gelengan cepat dari Miwa dan Tessa. Karena dua perempuan ini suka sekali memalak Maxime setiap hari dengan uang.
"Bukan Kak, bukan. Bukan uang ... kita minta maaf. Ya, maaf karena tidak mendengarkan ucapan Kakak," ucap Miwa lalu menunduk merasa bersalah.
Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum lalu memeluk Miwa. "Oke," sahut Maxime kemudian membuka tangan kiri nya seraya menoleh ke arah Tessa dengan maksud meminta Tessa datang memeluknya juga.
Tessa tersenyum berlari kecil dan berhambur ke pelukan Maxime. Dua perempuan itu kini memeluk kakak posesif nya dengan tersenyum sampai akhirnya si tulang lunak berlari ke arah mereka dan tiba-tiba ikut berpelukan dengan Maxime, Miwa dan Tessa.
"Ih aku ikutan dong! Teletubbies berpelukan ..." Oris memeluk Miwa dan Tessa membuat mereka terkejut dan menjerit lalu dengan cepat mereka melepaskan pelukan nya dari Maxime dan mengusap-ngusap tubuhnya seakan jijik dengan pelukan Oris.
"ORISSS!!" teriak Maxime marah, apalagi setelah memeluk Miwa dan Tessa, Oris kembali berlari seraya cengengesan seakan meledek Maxime yang gagal menangkapnya.
Bersambung
Visual Milan di ganti jadi ini😊