
"Aku tidak mau minggu depan Boo." Miwa berkata seraya duduk di depan Arsen dengan tangan bersedekap dada. Ia memalingkan wajahnya dari pria itu, keduanya sedang bertengkar membahas soal pernikahan.
"Menyiapkan pernikahan itu tidak mudah Bee," sahut Arsen.
"Tidak mudah bagaimana? Kak Maxi saja bisa menyiapkan pernikahannya dalam waktu semalam!!"
"Kalau sikapmu sama seperti Milan dalam semalam semuanya sudah cukup. Tapi kau banyak protes, tidak mau ini, tidak mau itu ..."
"Jelas lah, aku ini punya dream wedding ku sendiri. Milan hanya meminta banyak bunga, itu saja. Aku berbeda!!"
Miwa adalah tipe perempuan yang ribet kalau menyangkut fashion dan pernikahan. Dalam merancang gaun pernikahan saja tidak bisa asal, apalagi mengenai pernikahannya sendiri. Gedung, tema pernikahan, makanan dan tektek bengek lainnya soal pernikahan harus sesuai dengan apa yang di katakan mulutnya.
Menyuruh Keenan dan Athes and the geng juga tidak mudah kalau Miwa banyak protes.
"Kalau begitu serahkan semuanya padaku, dalam waktu semalam semuanya selesai," ucap Arsen.
"Aku tidak mau, aku juga mau ikut menghias gedung nya Boo," sahut Miwa.
"Kalau kau ikut menghias gedungnya dalam waktu dua hari belum tentu selesai!!"
Maxime membuka pintu kantor, ia sempat heran karena tidak ada yang sadar dengan kehadiran dirinya. Maxime masih berdiri di dekat pintu mendengarkan obrolan Arsen dan Miwa.
"Aku kasihan dengan anak buah yang lain jika kau menyuruh-nyuruh mereka dengan sikap ribet mu itu!!"
"Astaga Boo ... aku ini mau pernikahan kita terlihat mewah. Lebih mewah dari Kak Maxi dan Milan. Kenapa kau selalu menyudutkanku, seolah-olah yang aku lakukan ini salah, apa jangan-jangan sebenarnya kau tidak mau menikahiku Boo?"
Arsen menghela nafas kasar. "Berapa kali aku bilang, aku akan menikahimu ..."
"Kapan? kau selalu bilang nanti dan nanti, mengakuiku di depan keluarga besar kita yang lain saja tidak berani!!"
"Aku akan mengakuimu ketika melamarmu!!"
"Yasudah lamar aku nanti malam bagaimana?!!"
"Aku setuju," sambung Maxime berjalan menghampiri mereka.
Arsen dan Miwa terkejut dengan kehadiran Maxime, mereka tidak tahu dari kapan Maxime berdiri dekat pintu dan mendengarkan obrolan mereka.
"Aku setuju dengan Miwa," ulang Maxime lalu duduk di samping Miwa.
"Lihat, sudah satu orang yang mendukungku," ucap Miwa bangga.
Arsen menghela nafas, sejujurnya ia pun ingin cepat menikah dengan Miwa. Tapi pikirannya penuh memikirkan reaksi Sky, Liana dan Kara. Bagaimana jika ketiga Ibu itu tidak setuju, belum lagi Xander dan Rania.
"Jangan jadi pecundang!" pekik Maxime menatap Arsen serius.
"Apa maksudmu pecundang?" tanya Arsen.
"Lamar adikku secepatnya, kalau tidak kau tidak akan aku biarkan hidup!!"
"Iya ... iya ..."
Miwa tersenyum senang memandang Arsen dan Maxime bergantian. Kemudian Maxime meminta Miwa keluar dari kantor karena hal penting yang harus ia bahas mengenai Recobra bersama Arsen.
"Aku juga penasaran hal penting apa?" ucap Miwa.
"Keluarlah, kau di sini juga mau apa. Hanya penasaran saja!!" sahut Maxime.
"Siapa tau aku bisa membantu Kak, aku kan pintar bela diri juga."
"Huh, meremehkan ku saja bisanya Boo!!" Miwa menekuk wajahnya.
"Kau mau tetap di sini atau keluar?" tanya Maxime.
"Di sini," sahut Miwa membuat Maxime dan Arsen menghela nafas kasar.
Akhirnya keduanya mulai membahas terror yang di berikan Recobra kepada Maxime dan Milan tadi. Miwa serius mendengarkan cerita Maxime, sesekali memasang wajah terkejut ketika Maxime membahas kemungkinan Recobra akan menyerang Yakuza.
"Membingungkan, kalau yang mempunyai masalah dengan kita itu Felix kenapa Aberto mau ikut campur," ucap Arsen.
"Mereka berteman, hanya itu yang kita tau," sahut Maxime.
"Ya, tapi bukankah seharusnya Aberto tidak ikut campur dalam masalah Felix, padahal Felix tinggal di Negara kita."
"Bunuh saja Felix dengan begitu Aberto tidak jadi menyerang," saran Miwa.
Maxime tersenyum miring. "Kita hanya harus memastikan alasan Aberto menyerang kita karena Felix bukan hal lain."
"Bisa saja Aberto iri dengan kita, jadinya mereka menyerang kita agar Yakuza dan Antraxs musnah seperti mudork dulu," ucap Miwa
"Itu juga bisa jadi," sambung Arsen.
"Suruh seseorang untuk mencari Felix, aku akan berusaha terhubung dengan Aberto."
Maxime beranjak dari duduknya menghampiri meja kerja nya, duduk di sana lalu membuka laptop. Sedangkan Arsen menelpon anak buahnya yang lain untuk menangkap Felix.
Maxime mengetik pesan dan mengirimkan ke email perusahaan Aberto, meminta sekretarisnya untuk berhubung langsung dengan Aberto.
Lima belas menit menunggu, akhirnya email itu di balas oleh Smith yang menyetujui Maxime berbicara di video call dengan Aberto.
Kemudian keduanya benar-benar melakukan video call, Arsen dan Miwa diam memperhatian Maxime yang tersenyum sinis ke arah laptop.
"Hai, Pak Tua ..."
"Maxime Louis De Willson ... Apa kabar?" tanya Aberto dengan tersenyum sinis.
"Jangan menanyakan kabar ku, kita bukan teman Pak Tua!!"
Aberto tergelak. "Ah iya, kita bukan teman kau benar."
"Lalu untuk apa kau menghubungiku?" tanya Aberto.
"Organisasi yang kau dirikan bergerak untuk membantu orang-orang lemah seperti Felix benar?" Maxime tersenyum miring. "Apa tidak ada pekerjaan yang lebih penting dari pada di anggap bawahan oleh orang lemah? Recobra memalukan!!"
Aberto mengepalkan tangannya geram dengan menggertakkan giginya marah mendengar Maxime berkata demikian. Perkataan yang terkesan meledek, Maxime sendiri hanya bisa tersenyum puas karena berhasil memancing emosi Aberto.
"Felix hanya pengusaha biasa tapi hebatnya dia bisa memerintah organisasi mafia besar di Negara XX dan lebih hebat lagi pemimpin Recobra seakan berada di bawah kaki Felix! Menurut seperti anjing jalanan padahal kau seorang pemimpin Aberto Robert ..."
"Hentikan omong kosong mu itu Maxime!!" sahut Aberto penuh penekanan menatap tajam wajah Maxime di laptopnya.
"Sudah tua, lebih baik istirahat. Selamat pagi Tuan anjing jalanan ..."
"MAXIME ..." teriak Aberto dengan suara seraknya, kemudian Maxime menutup laptopnya.
Bersambung