The Devil's Touch

The Devil's Touch
#230



Winter berada di balik kemudi hendak mengantar Summer ke bandara. Di belakangnya ada Maxime dan juga Milan yang ikut mengantar.


"Jangan lupa telpon Mom ketika sudah sampai di sana Summer," ucap Milan.


"Jangan lupa makan makanan sehat selama di sana," sambung Maxime.


"Iya Mom, Dad astaga ... kalian berbicara hal yang sama dari tadi."


Winter hanya tersenyum miring. Ia juga pernah di nasehati banyak hal setiap kali mau liburan ke luar Negeri. Kedua orang tuanya itu memang cerewet sekarang.


"Lima tahun lagi, ada pelantikan pemimpin perusahaan. Summer kau--"


"Aku memilih cabang perusahaan di Negara X saja Dad," potong Summer dengan tersenyum menatap Maxime di spion depan.


"Padahal lima tahun lagi, kau sudah memilih cabang perusahaan saja!" ucap Maxime lalu berdecak.


"Dad, perusahaan utama kita lebih baik di pimpin Winter. Iya kan ..." Summer menepuk pundak Winter.


"Winter justru menyerahkan kepemimpinan kepadamu Summer. Kau yang mengelola perusahan utama keluarga De Willson ..."


"Aku tidak mau, aku mau cabang nya saja," ucap Summer kemudian melipat kedua tangannya dibelakang kepala sebagai bantalan lalu bersiul santai menatap ke luar jendela.


Maxime hanya menggelengkan kepala dan Milan hanya tersenyum.


Summer berhenti bersiul ketika melihat ada motor dari depan yang melaju ke arahnya dengan menodongkan pistol.


"Winter awas!" teriak Summer.


Satu peluru berhasil melesat dari musuh di depan dan Winter dengan cepat membanting stir ke kanan menabrak pohon. Milan menjerit.


"Si*l!!" umpat Maxime.


Mereka melihat keluar, pria itu kembali menodongkan pistol ke arah mobil mereka.


"Menunduk!" titah Maxime.


Mereka pun menunduk agar kepala mereka tak terkena peluru. Maxime menekan tombol merah di jam tangan nya.


Anak buah Recobra menguasai jalanan tersebut. Terlihat di luar ada anak buah Maxime yang sedang berjibaku dengan mereka.


Maxime perlahan mendongak kemudian menggeram kesal.


"Diam di sini!" ucap Maxime yang hendak keluar dari mobil.


"Dad ... kami akan turun," ucap Winter.


"Diam! jangan kotori tangan kalian untuk membunuh siapapun!!" ucap Maxime kemudian keluar dari mobil membantu yang lain.


"Sial*n siapa mereka!" kesal Summer.


"Mom aku harus membantu Dad!"


Milan dengan cepat menarik kerah belakang baju Summer, kemudian mengambil borgol di dalam tasnya dan memborgol tangan Summer ke belakang. Summer memberontak tapi Milan cukup terlatih ketika menikah dengan Maxime. Kekuatannya seakan bertambah.


"Mom!!"


"Diam!!"


Milan menoleh ke arah Winter. Winter menaikkan satu alisnya.


"A-aku tidak berniat keluar ..." ucap Winter dengan mengangkat kedua tangan nya.


Mereka hanya melihat bagaimana anak buah Yakuza itu berjibaku dengan anak buah Recobra. Summer tak henti-hentinya takjub melihat cara sang Ayah mengalahkan lawan.


"Bagaimana kalau kau menjadi janda Mom," ucap Summer tanpa mengalihkan tatapannya dari sang Ayah.


"Jangan bicara sembarangan!"


"Mom, kenapa kita tidak boleh membunuh seperti Dad?" tanya Winter kini.


"Karena kalian terlahir bersih, jangan mengotori tangan kalian dan jangan hidup di dunia gelap seperti Dad ..."


"Bagaimana jika aku membunuh?" tanya Winter.


Magma menarik keras pintu mobil sampai terbuka membuat Milan, Winter dan Summer terbelalak.


Magma sudah tinggal hampir lima tahun di Negara yang di kuasai Yakuza dan Antraxs. Tapi setiap pemimpin mafia yang baru selalu mempunyai cara untuk tidak tercium musuh, seperti Magma yang tidak pernah di ketahui keberadaanya oleh anak buah Yakuza yang lain.


Magma menarik kerah baju Winter keluar dari mobil dengan kasar.


"Winter!!" teriak Milan dan Summer.


Magma hendak menusuk perut Winter tapi dengan cepat Winter menahan ujung pisau tersebut dengan kuat sampai tangannya mengeluarkan banyak darah. Mereka saling mendorong pisau satu sama lain, Winter terus menahan ujung pisau agar tidak menusuk perutnya dan Magma terus berusaha mendorong pisau tersebut.


"Mati kau ..." geram Magma di sela-sela giginya yang menggertak marah.


BUGH


Nicholas menendang kepala Magma membuat Magma menjatuhkan pisaunya.


Winter memegang tangan nya yang berdarah. Ia menghela nafas kasar kemudian mengambil pisau yang tergeletak di bawah.


Winter hendak menyerang Magma tapi Nicholas segera berlari memeluk Winter karena ia melihat ada perempuan yang menodongkan pistol ke arahnya. Lail, perempuan itu gagal menembak Winter tapi berhasil menembak Nicholas.


"Uncle ..." gumam Winter menatap sendu mata Nicholas yang menatapnya.


Magma tersenyum miring kemudian berlari masuk ke dalam mobil ketika Maxime hendak menghampirinya. Maxime menembak Magma setelah berhasil menangani anak buah Recobra yang lain tapi sialnya peluru itu hanya bersarang di bahu Magma karena pria itu lebih dulu masuk ke dalam mobil.


Anak buah Recobra sangat banyak padahal mereka tidak berada di Negara kekuasaan mereka. Selama ini Recobra hidup berdampingan dengan Yakuza tanpa di ketahui siapapun karena mereka tidak memasang tatto apapun di bagian tubuh mereka.


Mereka berlari menghampiri Nicholas yang terlihat pucat di pelukan Winter.


"Uncle ... jangan ..." Winter menggeleng.


"Syu-syukurlah kau selamat," ucap Nicholas dengan lemah.


Maxime berdiri di dekat Nicholas, begitupula dengang Philip dan yang lain. Mereka hanya berdiri mengelilingi Nicholas, menatap sendu sahabat mereka yang terlihat kesulitan bernafas.


Nicholas memalingkan wajahnya menatap Keenan dan yang lain. Sahabatnya yang selalu membuat ulah bersama dirinya dari dulu. Ia tersenyum sesaat lalu pandangannya gelap seketika. Nicholas meninggal di pelukan Winter.


Mereka semua menghela nafas panjang, mengusap wajahnya kasar berusaha menyembunyikan air matanya.


Maxime menggenggam pistol dengan erat seakan tak terima dengan kematian Nicholas.


Milan terlihat menangis di pelukan Summer. Sementara Javier, Sekretaris Han dan Thomas belum mengetahui kematian Nicholas karena mereka berada di mansion.


"Siapkan pemakamannya," ucap Maxime.


#Tamat


De Willson series 3 (Winter & Yura)


Ini judul baru, up nya besok ya hehehe.


Magma masih ada di cerita Winter & Yura. Kan balas dendam nya belum selesai 🙏🏻



Sinopsis--


Ayahnya mengatakan jika Yura akan akan di jodohkan dengan pria baik dan ramah. Tapi setelah menikah Yura justru mendapati suaminya irit bicara membuat Yura terkadang frustasi dengan sikap suaminya itu.


"Sesuai dengan namamu, aku akan memanggilmu pria musim dingin," ucap Yura dengan tersenyum di hadapan Winter.


Selama pernikahan Yura menyembunyikan penyakit mematikan yang mengerogoti tubuhnya.


--Jika aku mati, aku senang ... karena kau lelaki terakhir yang aku cintai--- Ayura Aletta.


 


***Ini sinopsis nya belum selesai, besok aja deh sekalian rilis novel nya ya hehehe 💓


Terimakasih yang udah masuk ke kehidupan De Willson Family. Ikuti terus ceritanya yaaa 💓***