
Setelah kepergian Keenan dan yang lain Arsen masih duduk di sofa bersama Miwa seraya menyenderkan punggung mereka di senderan sofa.
Hanya Arsen yang merasa gelisah setelah Keenan dan yang lain mengetahui soal dirinya dan Miwa. Miwa sendiri malah terlihat santai, selama yang tahu itu bukan Maxime tidak menjadi masalah baginya.
Ia juga sangat mempercayai Keenan dan yang lain. Mereka pasti bisa menjaga rahasia dengan baik asalkan uang pun terus mengalir kepada mereka. Memang mata duitan.
Miwa kembali membawa piring cupcake di meja dan memakan nya lagi sementara Arsen membuka dompet dan memberikan blackcard miliknya kepada Miwa.
"Pakai ini untuk kebutuhan mu." Arsen meletakan nya di meja. Arsen hanya ingin mengganti kartu Miwa yang di berikan kepada Keenan.
Miwa langsung mengambil blackcard tersebut. "Sudah seperti suami yang menafkahi istrinya ya," ucapnya seraya tersenyum senang memandangi blackcard dari Arsen.
Arsen menggeleng dengan tingkah Miwa yang sekarang. Ponsel Arsen bergetar ia membuka pesan dari Maxime.
Belikan baju laki-laki untuk usia lima tahun.
Arsen sontak melebarkan mata, untuk siapa baju anak kecil itu. Ia pun menghela nafas berat. Mood nya sudah hancur malah di tambah hancur karena di suruh membeli baju anak kecil.
Arsen beranjak dari duduknya dan Miwa pun berteriak.
"Kak, mau kemana?"
"Bertemu Maxime!" sahut Arsen berteriak.
Kalau berurusan dengan kembaran nya, Miwa enggan untuk ikut campur. Ia hanya menekuk wajahnya di tinggalkan Arsen.
*
Arsen memarkirkan mobilnya di depan Petshop setelah berkeliling mencari baju anak kecil di mall. Ia masuk dan mendapati Maxime, Milan dan seorang anak laki-laki duduk di meja makan dengan memakai sweater panjang. Itu pasti milik Maxime.
Arsen menyimpan kantung baju itu di atas meja dan Maxime mengambilnya lalu memberikan nya kepada Aron.
"Bisa ganti baju sendiri?" tanya nya.
Aron mengangguk. "Bisa Paman."
Anak itu pun membawa kantung baju ke kamar Maxime dan Milan. Ia mengganti baju di sana.
Arsen duduk di tempat Aron seraya bertanya. "Siapa dia?"
Maxime mengangkat kedua bahu nya. "Tidak tau anak siapa, dia datang menanyakan makanan untuk kelinci nya."
Arsen hanya mengangguk-ngangguk lalu menyenderkan punggung nya di kursi sementara Milan sedang bermain cacing di ponselnya.
Maxime menoleh kepada Milan sebentar lalu beranjak dan memberi kode agar Arsen mengikutinya.
Mereka berbicara di dalam mobil Arsen agar Milan tidak mendengarnya.
"Bagaimana dengan Oris?" tanya Maxime.
"Tidak ada yang aneh, aku menanyakan soal pria yang berbicara di pasar hari itu dengan nya tapi Miwa keburu datang."
"Aku yakin bukan Oris," sahut Maxime dengan menyimpan silangan tangan nya di belakang kepala sebagai bantalan.
"Lalu siapa?" tanya Arsen.
Maxime mengeluarkan ponselnya dari saku dan memberikan nya kepada Arsen. Arsen mengambilnya dan mata nya melebar seketika melihat foto di ponsel Maxime.
"Mencari musuh memang sulit tapi lebih sulit lagi mencari pengkhianat!!" ucap Maxime.
"Memangnya kau punya bukti?" tanya Arsen.
"Aku sedang mencari nya," sahut Maxime.
"Bantu aku mencari tahu orang tua Aron," lanjut Maxime.
"Siapa Aron?" tanya Arsen.
"Anak kecil tadi. Namanya Aron."
Arsen mengangguk lalu kembali memberikan ponsel Maxime.
"Lalu masalah Oris?" tanya Arsen.
"Pura-pura saja tidak tau dan tetap bersikap curiga dengan Oris."
*
Arsen kembali pulang setelah mengantarkan baju dan berbincang dengan Maxime.
Sementara itu Aron sedang melambaikan tangan kepada Maxime. ia pun pulang dari petshop nya.
"Bye Paman ..." ucapnya dengan tersenyum serta tangan mungil yang terus melambai.
Maxime membalas lambaian tangan Aron seraya tersenyum pula sementara Milan meminta Aron untuk cepat pergi.
"Pergilah, sampai kapan kau melambaikan tangan seperti itu?!"
Maxime menoleh kepada Milan di sampingnya. Tersenyum dan merangkul pundak gadis itu.
"Musuhmu selain Daffa ternyata anak kecil juga."
Aron pun berlari pergi setelah menjulurkan lidah kepada Milan.
Sekarang hanya ada mereka berdua di petshop. Mereka kembali duduk di meja. Milan menoleh kepada Maxime yang masih menatapnya dengan tersenyum.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya nya.
"Aku hanya membayangkan bagaimana kelak kalau kita punya anak. Apa kau akan bertengkar dengan anakmu sendiri hm?" Maxime mengelus gemas kepala Milan.
"Kalau dia lahir seperti Aron. Mungkin saja," sahut Milan lalu tiba-tiba Mila mematung. Kenapa ia menjawab perkataan Maxime. Memangnya ia akan menikah kelak dengan Maxime.
Maxime sendiri malah terkekeh gemas. "Jadi kau mau punya anak denganku? goda Maxime.
"Ti-tidak," sahut Milan.
"Mau berapa sayang?" tanya Maxime merangkul Milan dengan berbisik di telinga nya.
"Satu, lima, tujuh atau sebelas?" lanjut Maxime.
Milan melepaskan rangkulan Maxime. "Jangan harap!" ucapnya lalu pergi ke kamarnya meninggalkan Maxime yang hanya tersenyum menatap pintu kamar yang tertutup.
Bersambung