The Devil's Touch

The Devil's Touch
#179



Saat mereka hendak berlari ke pintu keluar tiba-tiba mereka dihadang oleh Felix, keduanya berbalik dan ternyata di belakang juga ada tiga orang anak buah Felix.


"Sudahlah nona-nona ... kembali ke sel kalian saja," ucap Felix dengan senyuman meledek.


Miwa mencengkram tangan Milan lalu berbisik. "Kau bisa bertengkar kan Milan?"


"Apa maksudmu?"


"Perempuan tomboy sepertimu tidak mungkin tidak pernah memukul orang!"


"Ya, tapi mereka membawa senjata." Milan menatap pistol di saku celana Felix.


Felix menyunggingkan senyumnya ketika Milan menatap pistol miliknya. Ia tahu pasti Milan ketakutan karena melihat pistol itu.


Kemudian Miwa berbicara kepada Felix. Ia setengah berteriak.


"Darimana kau mendapatkan pistol itu bedeb*h sial*n!! kau bukan polisi dan tidak termasuk organisasi mafia manapun!!"


Felix menarik ujung bibirnya tersenyum lalu berdecih. "Memang hanya orang-orang yang termasuk Yakuza saja yang boleh mempunyai pistol?"


Miwa mengulurkan tangan nya untuk menghalangi Milan, pasalnya Milan terlihat sedikit ketakutan ketika tahu Felix mempunyai pistol. Dan Miwa mengerti, mungkin ini kali pertama Milan berada di situasi menyeramkan seperti ini.


"Berdiri di belakangku!" bisik Miwa kepada Milan.


Milan berada di belakang Miwa dengan menghadap ke anak buah Felix yang berada di belakangnya. Sementara Miwa masih adu mulut dengan Felix.


"Adik ipar yang baik, melindungi kakak iparnya," kata Felix seraya tertawa.


"Dari pada kau, meminta di lindungi oleh Recobra!! kau pikir kakak ku tidak tau, kau meminta bantuan Recobra!!"


"Heh, Recobra bahkan tidak ada di sini!!"


"Karena Recobra naj*s membantu pria lemah sepertimu!!"


"Kalau aku lemah, kalian tidak berada di genggamanku sekarang!!"


Miwa menyunggingkan senyuman sinisnya. "Baru bisa menangkap ku kau sudah merasa bangga saja!!"


Felix mulai muak berbicara dengan Miwa, ia mendengus kasar lalu menyuruh ketiga anak buahnya itu menangkap Miwa dan Milan.


Tapi sontak Milan menendang perut salah satu dari mereka, Miwa segera berbalik untuk membantu Milan sementara Felix masih berdiri memperhatikan.


Milan menangani satu pria, sementara Miwa dua pria. Felix santai memperhatikan karena yakin dua perempuan itu pasti akan kalah.


Dengan gerakan gesit, Miwa menendang satu pria sampai tersungkur ke belakang, satunya lagi ia pukul wajahnya dengan keras. Sementara Milan, tubuhnya berhasil di kunci dari belakang oleh pria itu, pria itu melingkarkan tangannya di leher Milan dari belakang.


Miwa hendak membantu tapi ketika mendekati Milan kakinya di tendang oleh pria lain yang membuat Miwa jatuh, kepalanya terbentur lantai berhasil mengeluarkan darah dari keningnya.


Miwa meringis, kemudian tangannya di tarik oleh dua pria tersebut dengan kasar.


"Cepat bangun!"


Milan melebarkan matanya melihat kening Miwa terluka, tubuhnya sudah terkunci oleh pria yang melingkarkan tangan di lehernya, tangannya di pegang kuat oleh pria tersebut.


Alhasil Milan mengigit tangan si pria itu dengan kuat.


Pria itu pun mendorong tubuh Milan, Milan hendak berdiri tapi naas sebuah tangan berhasil menampar pipinya dan Milan kembali tersungkur ke lantai bersamaan dengan itu Maxime dan Arsen datang ke bangunan tersebut membuat mereka semua sontak melebarkan matanya.


Maxime terbelalak melihat pipi Milan yang merah dan kening Miwa yang terluka.


"BERANI SEKALI KALIAN MENGANGGU ISTRI DAN ADIKKU!!" teriaknya menggelegar membuat Felix sontak memundurkan langkahnya perlahan.


Arsen segera berjibaku dengan dua pria yang menahan Miwa. Maxime mendekati Felix, satu pria yang hendak melawan Maxime di tepis dengan mudahnya oleh Maxime, Maxime mengeluarkan pistol lalu menembak satu pria tersebut.


Miwa berlari menghampiri Milan dan membiarkan Arsen mengurus dua pria itu.


"Kau benar-benar memancingku Felix ..." ucap Maxime datar tapi penuh ancaman.


Felix sedikit gemetar melihat wajah marah Maxime, ia merogoh pistol di sakunya tapi dengan cepat Maxime menendang wajahnya. Pistol itu terlempar jauh dan segera di ambil oleh Miwa.


Felix beringsut mundur menjauhi Maxime dengan hidung yang berdarah.


"Kau bukan lawanku!! berani sekali kau menyentuh dua perempuan milikku itu brengs*k!!"


Felix berusaha bangun untuk lari tapi kakinya segera di injak kuat oleh Maxime, ia meronta-ronta agar kakinya lepas dari injakan kaki Maxime tapi itu mustahil untuk terlepas.


Dua pria yang tadi menyerang Miwa kini sudah menjadi mayat. Arsen mengusap keringat di keningnya lalu berjalan menghampiri Maxime tapi Miwa segera berlari menghampiri Arsen dan memeluk pria itu.


Arsen mengusap kening Miwa yang berdarah. Maxime menoleh ke arah Milan, pipi gadis itu semakin merah karena tamparan tadi dan itu membuat Maxime semakin marah alhasil Maxime menginjak lebih kuat kaki Felix.


"Akkhhh!!"


"Tutup matamu!" titah Maxime kepada Milan.


Milan menurut apalagi melihat wajah Maxime yang tanpa senyuman itu.


Maxime merogoh pistol di saku nya lalu mengarahkannya ke arah Felix. Felix melebarkan mata, sungguh ia semakin kuat untuk menarik kakinya tapi sangat sulit.


"Aku benar-benar menyesal tidak langsung membunuh kedua perempuan itu!' kata Felix sebelum akhirnya satu peluru melesat masuk ke kepalanya.


Maxime memasukan kembali pistolnya ke saku jas dan berjalan menghampiri Milan, ia merangkul istrinya itu lalu menggendong tubuh Milan.


"Jangan buka mata!" titahnya ketika Milan hampir membuka matanya.


Maxime keluar dari bangunan tua itu dengan menggendong Milan dan Arsen menarik tangan Miwa tapi perempuan itu menahannya.


"Apa aku tidak di gendong?"


Arsen menghela nafas. "Yang terluka itu keningmu bukan kakimu!"


"Milan juga yang di tampar wajahnya tapi tetap di gendong!" Miwa mencebikkan bibirnya.


"Sudahlah, mereka lebay!"


"Gendong aku, baru aku mau keluar dari sini!!" keukeuh Miwa.


Arsen berdecak dan akhirnya menggendong tubuh Miwa, Miwa menggulum senyum di wajahnya sembari tangan nya bergelayut manja di leher Arsen.


Bersambung