
Maximilian terlihat sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Sebuah ketukan pintu membuat perhatiannya teralihkan.
"Masuk." ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang berada di dalam gengamannya.
"Sir, orang yang mengikutimu beberapa hari yang lalu sudah aku bereskan." ucap Dominic. Pria itu menyodorkan sebuah map berwarna biru di hadapan Maximilian.
"Lalu? Siapa orangnya." Maximilian melepaskan kacamatanya. Menatap tajam pada Dominic yang sedang berbicara.
Dominic terlihat terkejut, namun dengan cepat pria itu mengembalikan raut wajahnya seperti biasa. Dia cukup heran dengan bossnya, dan anehnya tebakan pria itu selalu benar.
"Seorang wanita, Sir."
Maximilian menaikan sebelah alisnya. Seorang wanita? Sepertinya dia telah melewatkan sesuatu yang menarik.
"Siapa wanita itu?" Maximilian terlihat penasaran. Musuhnya kali ini berbeda, seorang wanita. Bukankah ini menarik?
"Kau ingat kejadian beberapa minggu lalu, Sir?"
Maximilian mengangguk. Ingatannya berputar pada kejadian minggu lalu. Sepertinya dia melupakan wanita itu, seorang wanita yang hendak menculiknya di sebuah bar yang berada di New York. Beruntungnya dia bisa mengagalkan aksi nekat wanita gila yang hendak menyuntikan sesuatu ditubuhnya dan dengan secepat kilat wanita itu melarikan diri setelah gagal dalam aksinya.
Malam itu penjagaan Maximilian tidak diperketat seperti biasanya, dan kesempatan itu digunakan dengan baik oleh orang orang yang mengincar nyawanya.
"Dia menginginkan nyawamu, Sir. Putri dari Davis Meyer itu seorang pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk menculikmu." jelas Dominic. Wajahnya masih sama, datar dan terlihat biasa saja.
"Pria yang hendak menjalin kerja sama itu?" kebetulan macam apa ini? Semuanya saling burhubungan satu sama lain. Seorang pria paruh baya yang tiba-tiba ingin menjalin kerja sama dan putrinya menginginkan nyawanya.
Dominic mengangguk. Membenarkan ucapan bossnya. David Meyer memang ingin menjalin kerja sama dengan Jhonson Corp tapi Maximilian belum menyetujuinya.
"Tangkap dia Dom. Aku menginginkannya." sesuatu dalam diri Maximilian terlihat bergejolak, ambisi untuk membunuhnya meningkat. Sepertinya dia bisa menjadikan wanita itu untuk kelinci percobaannya.
"Aku sedang memantaunya dan kebetulan sekali dia sedang berada di Roma, Sir."
***
Seorang wanita cantik melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan kesal.
Elena menghentikan langkahnya saat mendengar suara teriakan sang ayah.
"Jangan ikut campur, Dad. Urus saja wanita ****** itu, tak perlu mencampuri urusanku." ucap Elena sinis.
"Jaga mulutmu itu, Elena! Wanita yang kau sebut ****** itu adalah ibumu." teriaknya marah. Sebuah tamparan yang cukup keras dia berikan pada Elena.
Elena berdecih. Pipinya terasa panas akibat tamparan sang ayah yang lumayan keras.
"Tampar lagi, Dad! Kau sudah tidak waras." maki Elena marah.
"Jaga bicaramu, Elena! Kau tidak boleh berkata seperti itu pada ayahmu sendiri." ibu tirinya menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Wanita itu langsung keluar dari kamar saat mendengar suara keributan.
"Kalian berdua sama sama tidak waras. Yang satunya ****** dan satunya lagi tidak tahu diri."
"Kau!" sang ayah hendak melayangkan tamparannya, namun lengannya ditahan oleh Elena.
"Hanya sekali, tidak untuk yang kedua kalinya." Elena menepis lengan ayahnya kasar.
"Pergi kau dari sini Elena! Dasar anak tidak tahu diri." teriak ibu tirinya murka.
Elena tertawa sinis. Siapa dia hingga berani mengusirnya? Wanita itu hanya orang asing yang kebetulan dibawa oleh sang ayah beberapa tahun lalu.
"Apa Daddy tidak memberitahumu? Rumah ini adalah milikku, ibuku yang memberikannya untukku. Jika kau tidak percaya kau bisa bertanya padanya?" Elena menunjuk ayahnya. Tatapan tajam dia dapatkan dari sang ayah.
Marrie menatap pada suaminya. Wajah pias sang suami menjawab semuanya, dia terlihat syok.
"Kau terkejut? Apa dia tidak memberitahumu selama ini, uang yang kau gunakan itu memang miliknya, tapi rumah yang kau tinggali ini milikku, atas namaku." Elena tersenyum mengejek.
"Kembali ke kamarmu sekarang juga!" Davis berteriak. Ucapannya kali ini tidak bisa dibantah.
"Cih, tidak perlu menyuruh. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Elena melangkahkan kakinya pergi. Siapapun tidak bisa mengusir dirinya dari rumah, karena rumah itu atas namanya, termasuk sang ayah sekalipun.