
Tessa duduk di atas ranjang dengan meluruskan kaki nya, wajahnya terlihat pucat dan lemah. Itu karena perasaan yang ia pendam bertahun-tahun terbongkar sudah.
Sementara itu Maxime sedang menuangkan air ke gelas di meja samping ranjang lalu memberikan nya kepada Tessa.
"Minum dulu ..." Maxime duduk di samping Tessa seraya menatap perempuan itu meneguk airnya setengah lalu memberikan gelas itu lagi kepada Maxime.
Maxime menerima nya dan menyimpan gelas itu di meja.
Tessa hanya bisa menunduk, suasana berubah begitu canggung untuknya. Jantungnya berdebar, otaknya sedang berpikir cepat bagaimana menjawab pertanyaan Maxime soal lukisan yang ia lihat tadi.
"Coba jelaskan. Bagaimana bisa hm?"
Tessa menelan saliva nya kasar, bagaimana ini. Untuk mendongak menatap Maxime saja Tessa tidak berani.
Maxime memegang punggung tangan Tessa untuk menenangkan perempuan itu.
"Kakak tidak marah, sedikitpun. Tapi kakak mau tanya bagaimana bisa dan dari kapan?"
Jujur saja pikiran Maxime sedang kalut sekarang, awalnya ia marah karena Miwa mencintai Arsen tapi tak di sangka Tessa pun malah sebaliknya dengan dirinya.
Tapi Maxime berusaha untuk tenang, untuk tidak marah dengan Tessa.
"Tessa ..." panggil Maxime.
Tessa perlahan mendongak dengan mengigit bibir bawahnya gugup.
"Kak Maxi ..."
"Ya?" Maxime menaikkan satu alisnya. "Bicara saja, kakak tidak akan marah ..."
Tessa menghela nafas. "Maaf ..." lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Maxi pasti membenciku sekarang ..."
Maxime menggeleng pelan seraya memejamkan mata. Seandainya Tessa tahu bagaimana Miwa dan Arsen.
"Kakak tidak membencimu, tidak ada yang salah dengan perasaan. Kakak minta maaf ... karena, karena kakak sudah bersama Milan."
Tessa tersenyum getir mendengarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau kakak tau dan kakak belum bersama Milan, apa kita bisa ..."
Maxime menggeleng dengan terpaksa, ia tidak mau menyakiti Tessa lebih dalam. Melihat itu Tessa hanya bisa menghembuskan nafas, hembusan nafas yang keluar dengan rasa sakit.
"Kau tetap adik yang paling baik untuk kakak ..." Maxime berkata seraya mengelus kepala Tessa.
Maxime mendekat dan mendekap perempuan itu dengan memejamkan mata. Tessa menangis tanpa suara di pelukan Maxime.
Di balik pintu yang terbuka sedikit Milan berdiri dan mengintip Maxime memeluk Tessa. Haruskah ia cemburu? Tidak, Tessa tetap adiknya bukan. Milan menghela nafas dan melangkah pergi meninggalkan kamar itu.
"Maafkan kakak ..." ucap Maxime pelan.
"Kau pasti menemukan yang lebih baik dari pada kakak ..." Maxime mengelus punggung Tessa menenangkan.
"Tidak ada yang sebaik kak Maxi," batin Tessa.
*
Jam lima pagi Maxime kembali ke kamarnya, ia melihat Milan tidur menyamping. Maxime tersenyum dan memeluk Milan dari belakang.
"Sudah pagi sayang ... sekolah hm." Maxime mengecup pipi Milan.
Milan hanya bergerak tanpa membuka matanya.
"Ayo bangun jangan jadi pemalas ..."
"Aku masih ngantuk ..." sahut Milan dengan suara khas tidur.
"Tidur lagi setelah pulang sekolah nanti. Ayo bangun!"
Maxime menarik tangan Milan, Milan menekuk wajahnya dengan mata tertutup. Dan itu membuat Maxime terkekeh.
"Cepat ke kamar mandi," titah Maxime.
Milan hanya menggaruk kepala nya dengan masih menekuk wajahnya. Lalu menghela nafas kasar.
"Ingin sekali aku libur setahun ..."
Maxime tertawa dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Milan.
"Sebentar lagi ujian sayang, aku tidak akan membiarkanmu bolos sekolah. Ayo sekarang mandi atau aku yang akan memandikanmu?"
Milan sontak membuka mata nya menatap Maxime tajam.
"Jangan macam-macam!!"
Maxime kembali tertawa dan akhirnya Milan beranjak dari ranjang masuk ke kamar mandi dengan langkah yang tak semangat. Maxime hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum melihat tingkah Milan.
Senyumnya perlahan memudar ketika Milan sudah masuk kamar mandi, ia kembali mengingat Tessa. Apa yang harus ia lakukan dengan adiknya itu selain berharap Tessa bisa melupakan nya.
"Kak Maxi ..." Miwa membuka kamar Maxime perlahan.
"Masuk," sahut Maxime.
"Kak, Tessa ... bagaimana?"
"Dia sudah tidur," sahut Maxime.
Miwa menghela nafas. "Aku bahkan tidak tau sejak kapan dia menyukaimu kak."
"Seandainya aku tau sebelum Milan datang, mungkin aku akan memberitahu mu. Supaya masalah ini selesai dari dulu ... kasian Tessa, tapi kasian juga Milan ..."
Maxime mengusap wajahnya kasar. "Kakak masih belum memikirkan bagaimana cara mengatasi Tessa selain meminta dia untuk melupakan kakak ..."
"Tapi kakak tidak berniat menjauhi dia kan?" tanya Miwa.
Maxime menggeleng. "Tentu saja tidak, dia sudah kakak anggap adik kandung kakak sendiri."
"Ya, aku harap tidak ada masalah yang memisahkan kita berempat."
Miwa hanya tidak rela, kebersamaan mereka berempat terpisah karena hal ini.
"Kau berbicara seperti itu padahal kau dan Arsen lebih dulu membuat kita hampir bertengkar!"
"Kak Arsen beda kak, dia belum punya kekasih. Jadi aku masih bisa berusaha. Tapi Tessa? Kak Maxi kan sudah punya Milan. Lagipula kalau Kak Arsen sudah punya kekasih mana mungkin aku mau dengan nya."
Maxime menghela nafas. "Bagaimana kalau Tessa tau hubunganmu dengan Arsen, dia pasti marah dan kecewa."
Miwa menekuk wajahnya. "Iya juga, tapi di sisi lain aku tidak bisa melepaskan kak Arsen kak."
Maxime mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Kenapa jadi seperti ini!!"
Miwa menoleh kepada Maxime. Matanya menunjukan permohonan yang besar. "Jangan pisahkan aku dan kak Arsen karena masalah Tessa ya kak ..."
Maxime berdehem sebagai jawaban lalu ia menatap penampilan Miwa dari atas sampai bawah.
"Kau mau kemana?"
Miwa menyunggingkan senyumnya. "Membuat kak Arsen cemburu, aku mau pergi dengan Daniel."
Maxime menghela nafas kasar. "Kakak tidak ikut campur lagi masalah itu, kakak harus memikirkan Tessa."
"Kakak urus saja Tessa dan Milan. Aku bisa urus masalah ku sendiri hehe."
"MAXIME!!" Teriak Arsen membuka pintu dengan kasar. Maxime dan Miwa terlonjak kaget.
"Tessa demam." Arsen berseru dengan wajah panik.
Maxime sontak keluar dengan cepat dari kamarnya di ikuti Miwa dan Arsen. Mereka pergi ke kamar Tessa dan mendapati perempuan itu meringkuk seraya mengigil. Maxime memegang keningnya, tubuh Tessa sangat panas.
Dengan panik Maxime menggendong Tessa hendak membawanya ke rumah sakit.
"Ka-kak ... Ma-xi ..." Tessa berbicara terbata-bata seraya tubuhnya menggigil kuat.
"Kita ke rumah sakit," sahut Maxime.
"Ada apa ini?" Ara menyambut mereka di bawah tangga.
"Astaga Tessa ..."
"Aunty hubungi yang lain, kita akan membawa Tessa ke rumah sakit," titah Miwa.
Ara mengangguk dan segera berlari untuk menelpon Javier dan yang lain. Ketika di teras mereka di sambut oleh Daniel yang sedari tadi diam di dalam mobilnya untuk menunggu Miwa.
"Sial*n kenapa kau di sini?!!" bentak Arsen kepada Daniel.
"Tidak ada waktu lagi, Daniel antar kita ke rumah sakit," ucap Maxime.
"Loh ada apa ini, kenapa dia?"
"Jangan banyak tanya! ayo cepat!"
Daniel mengangguk dan membantu membuka pintu mobilnya.
"Max jangan naik mobil ini!!" ucap Arsen.
Maxime memasukan Tessa perlahan d jok belakang lalu menutup pintu.
"Hilangkan cemburu mu itu!! ini darurat sial*n!!"
"Miwa kau duduk di belakang bersama Tessa."
"Iya kak."
"Dan kau cepat masuk kalau mau ikut!!" pekik Maxime kepada Arsen. Daniel sudah lebih dulu masuk ke balik kemudi.
Arsen berdecak, mau tak mau ia pun mengitari mobil dan duduk di samping kiri Tessa.
Mobil melaju dengan cepat keluar meninggalkan halaman mansion. Di saat bersamaan Milan keluar dari kamar mandi dengan bathrobe melekat di tubuhnya, ia celengak celinguk melihat Maxime yang sudah tidak ada di kamar dan pintu yang terbuka lebar.
"Tadi sepertinya ada suara Miwa," gumam Milan yang mendengar suara Miwa di dalam kamar.
Ia juga mendengar suara Arsen tapi tidak mendengar Arsen mengatakan Tessa sakit karena suaranya tenggelam oleh suara shower di kamar mandi.
Bersambung