The Devil's Touch

The Devil's Touch
#28



(Mulai besok aku up sehari 3 bab asal langsung di baca jangan di tabung dulu nunggu banyak hehe. Sekalian like sangat berarti untuk penulis seperti diriku hehehe🤭)


Setelah selesai makan malam, Maxime mencuci piring sementara Milan mengajak induk kucing dan anaknya bermain.


"Milan, bukankah seharusnya kau mengerjakan tugas sekolah?" ucap Maxime seraya menggosok piring di wastafel.


"Nanti saja, liburnya masih panjang," sahut Milan yang sekarang sedang menyuapi Blacky makan dengan tangan nya.


"Coba kerjakan sekarang agar tugasmu tidak menumpuk."


"Aku masih ingin bermain dengan Blacky."


"Kau bisa bermain setelah tugasmu selesai."


Milan mendengus, Maxime sudah seperti orang tua yang memaksa anaknya belajar saja.


Pria itu pun mengeringkan tangan nya dengan handuk kecil menggantung di atas wastafel. Sementara Milan sedang mengeluarkan peralatan tulis dari dalam tas nya, gadis itu duduk di meja kasir.


Maxime berjalan menghampiri Milan, menarik kursi di depan Milan dan menaruhnya di samping gadis itu. Biasanya mereka duduk berhadapan sekarang Maxime memilih duduk di samping Milan.


Milan menggulir ponsel nya, membuka pesan dari guru matematika yang mengirimkan tugas di grup chat.


Melihat deretan angka di sana saja sudah membuat Milan ingin mual. Matematika benar-benar musuhnya.


Milan menyalin soal tersebut ke buku tulisnya, setelah selesai ia menggeser buku nya ke arah Maxime yang berada di sampingnya.


"Kenapa memberikan nya kepadaku?" tanya Maxime seraya menaikkan alisnya.


"Aku yang menulis soal, kau yang mencari jawaban. Bagaimana?"


Maxime menggeleng dengan tersenyum tipis lalu mulai melihat deretan soal di buku tulis Milan.


"Ini mudah, kalau kau tau rumusnya."


"Itu yang menjadi masalah, rumusnya saja aku tidak tau."


"Aku akan menulis rumusnya." Maxime mengambil bollpoint di tangan Milan. "Dan kau hitung sendiri untuk mencari jawaban nya, oke."


Milan spontan menaruh telapak tangan nya di atas buku tulis. Ia menatap Maxime dengan wajah memelas.


"Bisakah sekalian dengan jawaban nya saja?"


Pletak.


"Akhh!!"


Maxime memukul pelan kening Milan dengan bollpoint, membuat gadis itu menggosok keningnya sendiri dengan meringis.


"Kau ini pemalas sekali!"


Maxime tidak habis pikir, selain suka bolos Milan juga pemalas. Wajar kalau orang tua nya marah, tapi di sisi lain Maxime bersyukur orang tua Milan mengusir gadis ini dari rumahnya dan berakhir tinggal bersama dengan dirinya.


"Aku bukan pemalas, aku memang bod*h soal matematika!!" sahut Milan dengan mengerucutkan bibirnya.


"Sudah diam, aku akan menulis rumusnya dulu."


Tepat ketika Maxime hendak menulis rumus matematika, tiba-tiba dua orang pria menggedor keras pintu depan membuat keduanya menoleh ke arah pintu.


"Mereka tidak liat, petshop sudah tutup," ucap Milan.


Maxime pun segera beranjak dan membuka pintu. Terlihat dua orang pria dengan jaket hitam kulit memandangi nya dari atas sampai bawah seakan sedang mengamati sosok Maxime di depan nya.


Setelah itu, kedua polisi tersebut menoleh ke arah Milan yang sedang duduk. Wajahnya sangat mirip dengan foto yang di tunjukan klaen nya, Sani dan Rio.


"Maaf Tuan ... kami mendapat laporan dari Ibu Sani dan Bapak Rio untuk membawa anda atas kasus penganiayaan dan penculikan yang menimpa keluara mereka."


Maxime menoleh ke belakang ke arah Milan. "Milan apa kau merasa di culik olehku?" tanya nya.


Milan pun menggeleng. "Hah, tidak."


Gadis itu pun menghampiri Maxime dan dua polisi itu dan Maxime sendiri kembali menatap dua pria di depan nya.


"Bisa aku lihat surat penangkapan itu?"


Polisi itu pun memberikan surat kepada Maxime. Maxime membuka nya dengan Milan yang mengintip di samping, gadis itu harus menjinjitkan kakinya sedikit karena Maxime lebih tinggi darinya.


"Apa ini benar nama panjang Ibu dan Ayahmu?" tanya Maxime seraya menunjukan pelapor di kertas tersebut.


Dan Milan pun mengangguk. "Iya, itu benar."


Kemudian Milan menatap kedua polisi di depan nya.


"Maaf, Pak. Tapi saya tidak di culik oleh pria ini." Milan menoleh ke arah Maxime.


"Justru dia lah yang membantu saya ketika Ayah dan Ibu saya tidak mau merawat saya lagi."


"Tapi bagaimana dengan video ini."


"Pak itu ...."


"Lebih baik jelaskan di kantor saja." Polisi tersebut memotong ucapan Milan.


Di saat Maxime hendak di borgol, Milan menepis tangan polisi itu.


"Tunggu, jangan bawa dia. Ini salah paham."


Maxime berbisik di telinga Milan. "Aku pergi bersama mereka sebentar. Kau tidurlah, kita akan mengerjakan tugasmu besok pagi."


"Tapi--"


"Aku akan pulang secepatnya hm. Kau tahu itu bukan sepenuhnya salahku, bukan."


Milan pun mengangguk dengan pasrah dan Maxime menyodorkan kedua tangan nya untuk di borgol dengan suka rela.


Mereka membawa Maxime masuk ke mobilnya dan meninggalkan Milan yang mondar-mandir frustasi menelpon Ibunya agar mencabut laporan terhadap Maxime. Tapi sayang, panggilan nya tidak di angkat sama sekali.


Sementara itu di dalam mobil terjadi sebuah keheningan antara Maxime dan dua polisi yang duduk di depan.


Polisi yang duduk di balik kemudi itu menatap Maxime dari spion di depan nya, terlihat Maxime menatap balik dengan mata tajam nya. Membuat polisi tersebut sedikit kikuk karena tatapan tajam itu, apalagi mata elang Maxime menatapnya tajam tanpa berkedip.


Polisin itu pun berdehem lalu berbicara. "Jangan angkuh seperti itu, kau akan tinggal di dalam sel kalau laporan itu terbukti benar."


Polisi yang satu nya lagi pun menoleh ke jok belakang lalu berdecak melihat ekspresi wajah Maxime.


"Benar-benar angkuh sekali wajahmu!! seperti manusia yang tidak punya rasa takut, apa kau tidak takut di penjara!!"


Mobil pun sampai di halaman kantor polisi, mereka menyeret Maxime keluar dari mobil lalu membawa nya masuk.


Maxime duduk dengan dua polisi itu di depan nya.


"Bisa kau ceritakan kronologi nya, maksudku apa benar kau melakukan penganiayaan terhadap Ibu sani?"


Maxime mengangguk pelan. "Menampar wajahnya hanya satu kali, tidak termasuk penganiayaan."


"Satu kali kepada orang yang tidak di kenal harus di berikan sanksi!" ucap Polisi yang satunya lagi.


Maxime menghela nafas. "Lalu?"


"Siapa namamu?" tanya polisi tersebut yang sudah kesal melihat tampang santai Maxime.


"Maxime," sahut Maxime seraya mengedarkan pandangan melihat segala sudut ruangan dalam kantor polisi tersebut.


Ia juga melihat beberapa orang yang berada di balik jeruji besi lalu pandangan nya terhenti di sebuah dinding yang menampakkan foto pria yang ia kenal, Arsen.


Maxime pun terkekeh sinis memandang foto Arsen yang sedang berjabat tangan dengan komandan polisi di depan kantor ini. Hal itu membuat dua polisi di depan nya heran dengan sikap Maxime.


"Jadi Arsen memberikan donasi untuk kantor polisi ini? dia yang merenovasi bangunan ini, benar? Dulunya bangunan ini begitu kumuh, pemerintah tidak terlalu perduli dengan hal itu. Dan polisi tidak akan pernah berani menangkap bagian dari De Willson karena tahu mereka seorang Mafia," ucap Maxime menatap lekat kedua polisi di depan nya.


Kedua polisi itu masih belum sadar dengan ucapan Maxime.


Maxime menunjuk foto Arsen dengan jari telunjuknya yang masih di borgol. "Dia ..."


"Turunkan tanganmu!!" polisi itu pun mendorong tangan Maxime ke bawah.


"Dia pemimpin De Willson group dan juga bagian dari Yakuza dan Antraxs. Bersikaplah sopan dengan nya!!" ujar Polisi tersebut memperingati Maxime.


"Dia bukan pemimpin, dia hanya sekretaris," sahut Maxime.


"Kau tau siapa nama pemimpin De Willson sebenarnya?" tanya Maxime menaikkan satu alisnya dengan tersenyum masam.


"Ya, tentu saja kami tau, kami hanya tidak tau wajahnya saja. Dia Tuan Max ..."


Kalimat tersebut terpotong kala dua polisi itu menyadari sesuatu yang aneh. Apalagi kala melihat Maxime menatap mereka semakin tajam.


"Ma-Maxime ..."


Maxime pun melepas dengan kasar jam tangan di pergelangan tangan nya lalu melempar jam tangan itu ke arah dua polisi di depan, untung keduanya dengan sigap menghindar.


Dan terlihatlah, tatto sayap garuda dengan bola api merah di atasnya membuat kedua polisi itu bungkam seketika.


Jam tangan itu tidak pernah lepas dari pergelangan tangan Maxime untuk menutupi tatto nya dari siapapun.


*


#Bersambung


Maxime Louis De Willson