
Malam hari Maxime membuat tiga susu di dapur dan menyimpan nya di atas nampan. Dulu ia sering sekali membuatkan susu sebelum tidur untuk Miwa dan Tessa, tapi ketika ia tinggal di petshop Maxime sudah jarang memberikan perhatian kepada dua adik perempuan nya itu.
Oris datang menyimpan piring kotor ke wastafel bekas ia makan mie instan.
"Malam Tuan ..."
Maxime hanya menjawab dengan deheman seraya menyimpan sendok bekas mengaduk susu ke wastafel.
"Tuan jadi gadis itu kekasihmu?" tanya Oris.
Maxime menjawab lagi dengan deheman lalu membawa nampan itu menaiki anak tangga. Oris sempat menggelengkan kepala melihat perhatian Maxime kepada adik-adiknya sampai di buatkan susu.
"Pasti nona Miwa dan nona Tessa bahagia punya kakak yang perhatian seperti Tuan Maxime ..."
Maxime sendiri enggan berbicara banyak dengan Oris, sedikitpun ia tidak curiga dengan lelaki itu. Ia yakin bukan Oris yang menerror keluarganya.
Maxime mengetuk pintu kamar Tessa, perempuan itu pun membuka pintu membuat Maxime mengernyit.
"Tessa, kenapa?" tanya Maxime melihat mata Tessa yang sembab.
Tessa tersenyum. "Tidak kak, tadi abis nonton film dan film nya sedih jadi aku menangis hehe ..."
"Kau ini ..." satu tangan Maxime mengacak-ngacak gemas rambut Tessa.
"Susu untuk siapa kak?" tanya Tessa.
"Ini untukmu ..." Maxime mengambil segelas susu dan memberikan nya kepada Tessa.
"Terimakasih," ucap Tessa. "Oh iya, tumben ada dua gelas lagi. Buat Miwa sama Kak Arsen ya?" tanya Tessa.
"Ini untuk Miwa dan Milan, kau belum bertemu dengan nya kan? besok bertemu dengan dia ketika sarapan ya."
"O-oh ..." Tessa seakan tidak punya alasan untuk tersenyum mendengar nama yang asing di telinga nya. Jadi gadis itu namanya Milan.
"Jangan tidur terlalu malam, oke?"
Tessa mengangguk seraya tersenyum samar. "Oke kak."
"Kakak ke kamar Miwa dulu ..." Maxime pun pergi meninggalkan Tessa, membiarkan perempuan itu mematung menahan rasa sakitnya lagi. Ia mencengkram gelas dengan kuat lalu menghela nafas berusaha untuk sabar.
"Tidak Tessa, kau harus kuat ..." gumam nya menyemangati dirinya sendiri dengan memejamkan mata.
Maxime mengetuk pintu kamar Miwa dan di dalam kamar Miwa berteriak.
"Siapa?"
Maxime tidak menjawab, ia malah mengetuk kembali pintu kamar Miwa dengan keras.
Miwa yang kesal pun turun dari ranjang dan membuka pintu, tapi ketika melihat wajah Maxime, ia hendak menutup kembali pintu kamarnya.
"Buka," titah Maxime.
"Tidak, kakak mau apa?" tanya Miwa dengan terus mendorong pintu kamarnya.
Maxime menghela nafas. "Cepat buka, kakak mau bicara!!"
Maxime mendorong pintu itu dengan kaki nya dan Miwa pun pasrah untuk membuka pintu kamarnya.
Maxime memberikan segelas susu kepada Miwa. Perempuan itu mengambilnya lalu menatap satu gelas susu lagi di atas nampan.
"Itu buat Tessa?" tanya nya.
"Tessa sudah, ini untuk Milan," sahut Maxime.
"Ohh buat si sayang." Miwa terkekeh menggoda Maxime dan pria itu hanya menggeleng pelan.
Miwa meminum susu di tangan nya setengah lalu menyimpan nya di meja. Begitu pula dengan Maxime, ia menyimpan nampan nya di meja lalu berjalan ke sofa dekat ranjang.
"Kemari ..."
Miwa pun berjalan menghampiri kakaknya dan duduk di samping Maxime.
Beberapa detik suasana hening sampai akhirnya Maxime bertanya. "Kenapa kau diam? tidak mau menjelaskan sejak kapan kau mempunyai perasaan dengan Arsen?" tanya Maxime.
"Sejak ... sejak kakak bilang aku harus menikah dengan pria yang berani menghadapi kakak, siapa pria yang berani menghadapi kakak selain kak Arsen," sahut Miwa dengan polosnya membuat Maxime menepuk jidat nya. Secara tidak langsung ini terjadi karena salahnya sendiri mengatakan hal demikian kepada Miwa.
"Aku tidak salah kan kak? seandainya aku mengejar Peter atau Jack, percuma juga. Mereka kalau kakak pukul belum tentu melawan, tapi kak Arsen? Hanya kak Arsen yang berani melawan kakak. Coba saja kakak pukul, pasti di pukul balik!"
"Tentu saja dia berani, kita menganggap adik kakak satu sama lain. Bukan atasan dan bawahan yang harus bersikap sopan!"
"Nah itu maksudku, kak!" sahut Miwa seraya tersenyum.
"Tapi bagaimana kalau kalian bercerai setelah menikah dan membuat kita berempat jadi ribut tidak jelas hah! kau mau seperti itu? Kalau dia sampai menyakitimu sulit untuk kakak membunuhnya!!"
"Astaga kakak ..." Miwa menggelengkan kepala tak habis pikir dengan perkataan Maxime.
"Kakak ini bukannya mendoakan yang baik-baik untukku, malah berpikir aku akan bercerai!!"
"Ini hanya seandainya Miwa!!" sahut Maxime dengan geram.
"Yasudah sekarang begini, kalau ternyata kakak tidak berjodoh dengan si sayang bagaimana?"
"Jangan berkata seperti itu!" kata Maxime dengan ketus.
"Nah ... nah ..." Miwa menunjuk wajah Maxime. "Tidak mau kan berandai-andai hal yang jelek!!"
Bersambung