The Devil's Touch

The Devil's Touch
#26



Maxime sedang duduk di kursi bersama Milan di sampingnya, pria itu tidak berhenti mengenggam tangan Milan.


Dua pelayan sedang mengurusi pesanan mereka. Kedua perempuan itu berbisik dengan sesekali menatap Milan dengan tatapan meremehkan gadis itu.


"Seharusnya kalau tidak punya uang, tidak usah berbelanja di sini! kau lihat tadi, gadis itu tidak tahu malu sekali meminta diskon di toko kita padahal dia sendiri belanja gratis karena Tuan Peter. Apa dia tidak tau semua barang yang kita jual bukan barang murahan."


"Sudahlah, jangan seperti itu. Biar bagaimana pun gadis itu harus tetap di layani."


"Cih, kalau aku jadi dia aku akan tau diri untuk tidak masuk ke mall besar seperti ini."


"Jangan banyak bicara, cepat bungkus semua pakaian ini! Aku mau membungkus sepatu nya dulu." Satu pelayan yang baik hati itu pun pergi meninggalkan teman nya yang masih menggerutu sendirian.


"Gadis itu beruntung sekali mempunyai kekasih yang tampan seperti pria itu, tapi bagaimana bisa pria tampan sepertinya memilih gadis sekolah yang kucel dan tidak terurus seperti dia!!"


Pembicaraan pelayan itu di dengar jelas oleh Maxime, tetapi tidak dengan Milan karena gadis itu sedang memasang earphone di telinga nya. Dari awal melihat pelayan yang menyebalkan itu Maxime bisa menebak karakter pelayan itu yang suka sekali membicarakan dan mengurusi hidup orang lain.


Itu sebabnya Maxime memasang earphone di telinga Milan dengan alasan meminta gadis itu menilai lagu kesukaan nya agar Milan tidak mendengar cacian dari pelayan tersebut.


"Aku suka lagu ini," ucap Milan seraya menggerak-gerakan kepala nya menikmati alunan musik yang ia dengarkan.


Maxime hanya tersenyum dan mengangguk, ia menarik sedikit satu earphone di telinga Milan. "Tunggu di sini, aku ingin mencoba bajuku dulu," ucap Maxime yang di jawab anggukan dari Milan.


Pria itu mendekati pelayan perempuan tersebut lalu berkata. "Aku ingin mencoba bajuku dulu, apa ada ruang ganti di sini?"


"Dia tampan sekali dari dekat ... tapi sayang, dia bukan orang kaya, belanja aja dapat gratisan dari Tuan Peter," batin perempuan tersebut.


"Nona?" panggil Maxime.


"Eh iya, ada. Ikuti aku."


Maxime pun mengekori perempuan itu dari belakang dan ketika sampai di ruang ganti, Maxime segera mendorong pelayan tersebut dengan satu tangan membekap mulutnya agar tidak bisa berteriak.


Perempuan itu berusaha melawan tapi Maxime mencekik keras lehernya membuat nafas si pelayan tersenggal, wajahnya merah karena sulit bernafas.


Di waktu bersamaan rahang Maxime mengeras kuat dengan amarah mengkilat di kedua bola matanya. Giginya menggertak kesal.


"Berani sekali kau menghina Milan ku!!" Sentak Maxime dengan pelan tapi penuh penekanan.


Pelayan tersebut memukul-mukul tangan Maxime meminta di lepaskan.


"Kau tidak tau siapa aku? kau tidak tau bekerja dengan siapa sekarang!!" ucap Maxime mendorong tubuh perempuan itu sampai menubruk cermin di belakangnya, beruntung saja cermin nya tidak pecah dan tidak mengeluarkan suara apapun.


Perempuan itu menghela nafas panjang dengan memukul-mukul dada nya dan terus batuk karena oksigen yang tertahan masuk tadi.


Maxime menggulung kemeja di tangan kiri nya lalu menunjukan tatto bola api dan sayap burung garuda di sana.


Sontak mata pelayan itu membulat sempurna, hanya bagian Yakuza dan Antraxs yang memiliki lambang tersebut.


Seingat nya lambang Yakuza berada di belakang leher dengan tatto sayap garuda dan lambang antraxs ada di pergelangan tangan dengan tatto bola api merah.


Tiba-tiba ingatan pelayan tersebut berputar ke belakang, dua tahun yang lalu Javier De Willson pernah di wawancarai di stasiun Tv mengenai identitas putranya.


"Lambang anak buah Yakuza berada di belakang leher mereka dengan tatto sayap burung garuda di sana dan lambang Antraxs ada di pergelangan tangan dengan tatto bola api merah. Sementara pemimpin nya mempunyai kedua tatto tersebut di pergelangan tangan, sayap burung garuda dengan bola api merah di atasnya hanya di miliki oleh putraku, Maxime Louis De Willson sebagai lambang pemimpin kedua kelompok mafia tersebut ..."


Deg.


Kaki pelayan itu pun bergetar takut sampai-sampai tak bisa menopang tubuhnya sendiri saking lemasnya. Dan ia pun ambruk jatuh ke lantai.


Perlahan ia mendongak menatap Maxime yang kini sedang memberikan tatapan kematian untuknya.


"T-tuan ... Maafkan saya ... sa-saya tidak bermaksud ... untuk ... untuk menghina kekasihmu Tuan ..."


"Hukuman apa yang pantas untukmu, Nona?"


"Tuan ... jangan Tuan ..."


Mendengar kata hukuman pelayan itu pun langsung memeluk kaki Maxime tapi dengan cepat Maxime mendorong kakinya membuat si pelayan kembali tersungkur ke belakang.


"Dengarkan aku, kalau sampai identitasku terbongkar, kau lah orang pertama yang mendapat kematian dari tanganku!! kali ini aku maafkan tapi keluar dari mall ku sekarang juga!!" ucap Maxime lalu keluar dari ruang ganti itu meninggalkan pelayan yang masih ketakutan dan sesekali menyeka air mata yang membanjiri wajahnya.


Sebenarnya Milan pun bukan gadis penakut, kalau di hina gadis itu pasti marah dan melawan. Tapi sekarang bagaimana bisa, Maxime tidak mengizinkan Milan mendengar hinaan dari pelayan itu.


*


Maxime dan Milan berjalan di garasi menghampiri mobilnya, pria itu terlihat menenteng banyak kantung belanja karena bukan hanya sepatu yang mereka beli. Di mulai peralatan tulis lengkap, tas baru, jam tangan, baju untuk santai di rumah dan juga beberapa pasang sendal.


Sebenarnya Milan terus menolak sedari tadi, apalagi kala Maxime mengambil perlengkapan tulis lengkap. Untuk apa, dia saja lebih sering bolos dari pada belajar di kelas. Buku di tas nya saja masih banyak yang kosong.


"Apa ini tidak berlebihan, bagaimana kalau Tuan Peter marah soal ini," ucap Milan yang duduk di samping Maxime.


"Tidak akan, dia pelanggan setiaku dan aku sudah sangat dekat dengan nya," sahut Maxime yang sedang memasang seatbealt.


Mobil pun melaju untuk kembali ke petshop Maxime. Di perjalanan Maxime sesekali menoleh ke arah Milan seraya tersenyum sementara gadis itu memalingkan wajahnya ke arah jendela dan memilih menikmati indahnya kawasan kebun teh yang luas.


Sampai akhirnya tiba-tiba mobil butut Maxime kembali mogok. Pria itu pun mendengus kesal.


"Ada apa?" tanya Milan.


"Maafkan aku, mobilnya mogok." pria itu pun bergegas keluar dari mobil dan membuka bagian depan mobilnya.


Entah apa yang salah tapi ketika buka ada asap yang keluar dari mobilnya. Milan pun ikut keluar dan berdiri di samping Maxime.


Ia tidak mengerti apa yang salah tapi Milan hanya berdiri saja melihat tangan Maxime yang terus berpindah-pindah memperbaiki mobilnya.


Sampai akhirnya Milan bosan sendiri dan memilih berjalan masuk ke kawasan kebun teh, Maxime yang langsung sadar Milan tak ada di sampingnya pun berteriak.


"Jangan pergi!! apa kau tidak takut hilang?!!"


Milan pun berbalik seraya mengerutkan dahinya. "Hilang? aku bahkan baru lima langkah di depanmu. Bagaimana bisa hilang."


Maxime pun berjalan menghampiri gadis itu. "Mau pergi kemana?"


"Tidak ada, hanya jalan-jalan saja."


"Baiklah, aku akan menemanimu."


Pria itu pun masuk ke kawasan kebun teh dengan mengenggam tangan Milan di belakangnya. Mereka berjalan seraya terus mengobrol.


"Bagaimana dengan mobilmu?"


"Dia sudah mati."


"Mati?"


"Ya, sudah tidak bisa di pakai lagi. Sepertinya aku akan meminjam uang kepada Arsen untuk membeli mobil baru."


"Memangnya dia akan meminjamkan uangnya?"


"Tentu saja, kami sudah berteman sangat lama."


"Kau kan masih ada motor," ucap Milan.


"Aku tidak mau kau sakit kalau aku harus mengantarkanmu sekolah di musim hujan nanti."


Milan hanya mengangguk dengan jawaban Maxime. "Maaf merepotkanmu ..."


Maxime pun seketika berhenti dan membalik menatap Milan.


"Aku benci kata-kata itu!!"


"Hah?"


"Kau tidak merepotkanku, little cat ..." tutur Maxime mengelus puncak kepala Milan dengan gemas.


Mereka pun terus berjalan sampai akhirnya duduk berdua di sebuah gubuk kecil di tengah-tengah kawasan kebun teh.


Milan masih memakai seragam sekolahnya, ia terus memandangi sejuknya kebun teh walaupun sudah sore hari.


Sesekali ia tersenyum seraya menikmati udara yang menyegarkan pernafasan nya.


Dan di sampingnya ada Maxime yang sedari tadi menatap Milan tanpa bosan.


"Aku suka kebun teh di sini," ucap Milan lalu menoleh ke arah Maxime.


Senyuman Milan langsung pudar dan berubah menjadi gugup kala Maxime menatapnya tanpa berkedip.


"Kenapa?" tanya Milan.


Dengan cepat Maxime meraup wajah Milan lalu menc*umnya, Milan memberontak tapi sia-sia. Di gubuk kecil di tengah-tengah kawasan kebun teh untuk kali pertama Maxime menc*um seorang perempuan.


"Kau Milan ... Milan-ku ... My little cat ..." ucap Maxime setelah melepaskan cium*n mereka. Dan Milan masih mematung saking terkejutnya mendapat cium*n mendadak dari Maxime.


Bersambung