The Devil's Touch

The Devil's Touch
#49



"K-kau ..." Milan menggantung kalimatnya ia berdiri dari duduknya.


"Kau seorang ..." matanya bergerak naik turun seakan sedang meneliti penampilan satpam sekolah yang sebenarnya seorang mafia ini.


"Jadi kau sudah tau?" Maxime berbicara santai seakan melihat rasa gugup di wajah Milan bukan hal yang membuatnya takut akan kehilangan gadis itu.


"Kau penipu Maxime!!" Suara Milan seakan tercekat dengan kenyataan yang sebenarnya ini.


"Kau pura-pura menjadi penjaga petshop, kau pura-pura menjadi seorang satpam!! kau penipu ... PENIPU!!" Milan berteriak keras lalu berlari keluar dari petshop.


Tapi sayang, pintu sudah terkunci. Entah kapan Maxime mengunci nya dan bahkan kuncinya tidak tergantung seperti biasa di pintu. Di jalan tadi Maxime mendapatkan pesan dari nomor tidak di kenal, dia memberitahu Maxime kalau Milan akan tahu identitas aslinya. Jadi, Maxime sudah siap dengan resiko Milan agar kabur dan akhirnya mengunci pintu tepat ketika Keenan keluar.


Milan terus menarik-narik gagang pintu tersebut dan Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum, perlahan ia mendekati Milan.


Maxime menarik leher Milan agar kembali menatapnya.


"Dari awal aku sudah menyuruhmu pergi!! tapi kau yang terus memaksa masuk ke hidupku, mulai sekarang ... pergimu hanya sebatas mimpi!! kau akan tinggal di hidupku selamanya, Milan Kanaya!!"


"Tidak, aku tidak mau!!" Milan menatap kesal Maxime tapi dengan santai nya Maxime tersenyum.


Milan mencoba memberontak dengan berusaha melepaskan cengkraman tangan Maxime di tengkuk nya.


Maxime terkekeh meremehkan usaha Milan. "Jam segini biasanya kita menyiapkan makan malam, kita masak apa hari ini sayang ..."


Walaupun berbicara santai Maxime menunjukan seringai tajam nya, ia sedang menahan amarah dalam dirinya karena Milan mencoba untuk pergi.


Bola mata Milan bergerak-gerak, senyuman Maxime bukan senyuman biasa yang sering ia lihat. Ini berbeda, kenapa senyuman itu membuat Milan seakan bergidik ngeri.


Dalam diam nya Milan mencoba berpikir keras bagaimana bisa keluar dari petshop ini. Tenang, ya dia harus menuruti keinginan pria ini terlebih dahulu.


"Aku hanya ingin mie," sahut Milan seraya menelan saliva nya susah payah menyembunyikan rasa gugupnya.


"Mie?" Maxime menaikkan satu alisnya lalu tangan nya mengelus pipi Milan dan lagi, sentuhan itu sekarang terasa berbeda. Menyeramkan.


"Baiklah, ini terakhir kau makan mie. Jangan banyak makan mie lagi nanti."


Maxime melepaskan tangan nya dari tengkuk Milan lalu mengenggam tangan gadis itu ke dapur.


Mereka memasak mie bersama, Milan menuangkan bumbu ke mangkuk dengan sesekali menoleh ke arah pintu depan mencoba berpikir bagaimana dia bisa keluar dari petshop ini.


"Tidurlah jika ingin pergi, karena pergimu hanya sebatas mimpi!" Javier berkata seraya mengaduk mie yang ia masak.


Sontak Milan menoleh ke arah pria yang membelakangi nya itu, ia menelan saliva nya susah payah.


Tidak, dia tidak takut dengan Maxime. Hanya saja Milan tidak mau berurusan dengan mafia besar di negara ini.


Milan dan geng ikan lele pernah membahas soal Yakuza dan Antraxs yang berhasil membunuh ratusan anak buah mudork. Tapi mereka tidak pernah mencari tahu lebih dalam tentang pemimpin pertama sampai pemimpin sekarang Yakuza dan Antraxs. Milan benar-benar tidak menyangka ia berada di petshop dengan pemimpin dua kelompok mafia tersebut.


Maxime berbalik menghampiri Milan dan memeluk gadis itu dari belakang.


"Kau gadis nakal. Bolos dan suka memalak orang, apa yang kau takutkan dari seorang mafia hm? kau bukan gadis baik-baik Milan."


Milan melepaskan pelukan Maxime lalu berbalik menatap pria itu. "Setidaknya aku tidak membunuh orang seenaknya!!"


Maxime menarik ujung bibirnya. "Jadi itu yang ada di pikiranmu? aku membunuh seseorang seenaknya?"


"Ya!!" Milan melipat kedua tangan nya di dada. "Mafia sepertimu haus kekuasaan bukan, bahkan ketika kau membunuh tidak mungkin ada polisi yang berani menahanmu!! orang-orang sepertimu hidup seenaknya seakan-akan negara ini milik kalian!!"


"Aku tidak mengakui ini negaraku, aku hanya membuat orang-orang di dalam negara ini tunduk dengan kelompok mafia ku sayang ..."


"Untuk apa kau hidup seperti itu Maxime!! kau ingin semua orang tunduk kepadamu!!"


Maxime berjalan selangkah lebih dekat menghampiri Milan.


"Apa aku pernah bertanya untuk apa hidup seorang gadis sepertimu suka sekali bolos dan memalak orang lain? kau punya tujuan sendiri dengan sikap nakal mu itu kan Milan?"


Maxime mencengkram pipi Milan kuat dan berbicara penuh penekanan. "Berhenti berteriak kepadaku, little cat!!"


"Le-lepaskan aku!!" Milan berusaha melepaskan tangan Maxime dari cengkraman wajahnya.


Setelah berhasil terlepas gadis itu pun berlari ke kamar dan mengunci pintu. Kabur dari petshop ini masih sulit lebih baik ia mengurung diri agar tidak bertemu Maxime saja.


Maxime menggedor pintu kamar. "Buka, Milan!!" teriaknya.


"MILAN!!"


"Aku tidak mau melihat wajahmu penjahat!!" sahut Milan dari dalam.


BRAKH


Maxime mendobrak pintu kamar membuat Milan terkejut sampai mulutnya terbuka. Ia hendak berlari menjauhi Maxime tapi pria itu lebih cepat menangkap tubuh Milan dan mendorongnya ke ranjang.


Maxime mengusap bibirnya, teriakan Milan berhasil menyulut emosi nya. Matanya menggelap, seakan kemarahan sudah mulai naik di tubuh pria itu.


Milan beringsut ke tepi ranjang melihat wajah Maxime yang tiba-tiba berubah, tajam dan marah.


"Berhenti menjauhiku seperti itu!!"


"Tidak, kau bukan manusia Maxime!! kau mirip seorang devil sekarang!!" teriak Milan.


Maxime terkekeh sinis. "Akan ku tunjukan bagaimana Devil ini memperlakukanmu!!"


Dengan cepat Maxime menarik kaki Milan agar mendekat ke tubuhnya dan tangan Milan di ikat ke atas ranjang dengan tali yang ia ambil dari laci di samping ranjang. Milan berteriak dan memberontak tapi kemarahan Maxime membuat teriakan Milan seakan angin lalu.


Maxime membuka satu persatu kancing seragam Milan dan terlihat tanktop hitam selepas kancing bajunya terbuka.


"MAXIME JANGAN!!" teriak Milan dengan mata berkaca-kaca.


Maxime menyeringai tajam tepat di depan wajah Milan. "Kau punya rasa takut ternyata!!"


cuihh


Milan meludah tepat di wajah Maxime. "Aku tidak takut denganmu!!" teriak Milan.


Maxime mengusap wajahnya, rahangnya seakan mengeras seketika, berani sekali gadis itu meludahi wajahnya.


"Milan kau ..." Maxime mencekik Milan dengan satu tangan nya, tidak terlalu kuat tapi berhasil membuat nafas Milan tersenggal.


"Ma-max ..." Milan memanggil terbata karena kesulitan bernafas.


Maxime mendekatkan wajahnya ke wajah Milan. "Aku tidak mungkin membunuhmu sayang ... tapi setidaknya jangan memancing emosiku!!"


Tangan Maxime melonggar dan beralih mengusap pipi Milan lalu menci*m gadis itu dengan ganas. Tidak ada kelembutan di dalam nya, Maxime menyalurkan cium*n nya dengan penuh emosi.


Kaki Milan terus menendang-nendang, tapi itu hal sia-sia karena tubuhnya sudah terkunci oleh tubuh Maxime.


Tangan Maxime pun tidak tinggal diam, ia meraba semua bagian tubuh Milan sampai tangan nya hendak masuk ke dalam tanktop tapi tiba-tiba ia mendengar rintihan gadis itu. Milan menangis.


Maxime melepaskan cium*n nya, di lihatnya mata Milan yang mengeluarkan air mata. Maxime menarik kembali tangan nya dari dalam tanktop.


Milan lebih takut jika di perk*sa Maxime dari pada di kasari pria itu.


Maxime menghela nafas. "Baiklah, aku tidak akan melakukan nya." Pria itu mengusap air mata Milan membuka kembali ikatan tangan nya dan mengancingi lagi seragam Milan.


"Tidurlah ..." Maxime mengusap wajah Milan lalu beranjak pergi ke kamar mandi.


Milan terduduk memeluk tubuhnya sendiri dengan rambutnya yang kini sudah berantakan. Air mata nya masih mengalir, sesekali ia menyeka nya dengan punggung tangan.


#Bersambung