
Di ruangan nya Aberto hanya duduk di kursi seraya merokok. Di sampingnya Smith hanya berdiri memperhatikan.
"Apa istriku sudah pulang?" tanya nya.
"Nyonya Rhea masih belum pulang Tuan ..."
Aberto menghembuskan nafas kasar. "Dari semalam dia masih belum pulang juga!" kesalnya.
Smith menatap Aberto sejenak kemudian kembali menunduk.
"Magma sedang apa?" tanya Aberto kini.
"Tuan muda sedang belajar di kamarnya Tuan," sahut Smith.
Aberto mengangguk-ngangguk lalu beranjak dari kursinya untuk pergi ke kamar Magma meninggalkan Smith seorang diri di ruangan.
Pria tua itu membuka pintu kamar anaknya. Saat itu ia berusia tiga puluh tahun menikah dengan perempuan bernama Rhea Anasya yang usianya jauh di bawahnya. Yakni tujuh belas tahun.
Mereka baru di karuniai seorang putra setelah pernikahan mereka berjalan sepuluh tahun. Yakni ketika Aberto berusia empat puluh tahun ia baru menjadi seorang Ayah dan sekarang pria paruh baya itu berusia lima puluh tahun.
"Magma ..." panggilnya.
Magma yang sedang duduk di meja belajar menoleh.
"Papah ..." ia tersenyum.
Aberto duduk di ranjang, Magma turun dari kursinya menghampiri lalu duduk di samping Aberto.
"Papah, mama?" tanya nya.
Aberto menghela nafas. "Mama masih di rumah teman nya ..."
Terlihat raut wajah kecewa dari Magma. Pasalnya sering sekali Rhea pergi dari rumahnya dan jarang pulang.
Aberto mengusap kepala Magma. "Kau tidak membenci Ibumu kan Magma?"
Magma menggeleng ragu. Aberto menghela nafas.
"Begini, Papa dan Mama harus pergi ke Negara X. Kau di sini bersama para pelayan ..."
Kedua mata Magma menatap Ayahnya, ada kesedihan di kedua mata Magma.
"Kenapa kalian selalu sibuk?" tanya nya dengan polos. "Kenapa selalu membiarkan ku sendirian ..."
"Magma ..."
Magma menepis tangan Aberto dari kepalanya. "Tidak apa-apa ... pergi saja, aku sudah terbiasa sendiri ..."
Magma turun dari ranjang kembali menghampiri meja belajarnya. Aberto menghela nafas kasar, kalau bukan permintaan Rhea yang meminta dirinya membantu Felix, ia tidak akan mau pergi ke Negara X untuk mengundang masalah dengan Yakuza dan Antraxs.
*
Malam nya Aberto benar-benar berniat pergi, ia duduk di ruang tamu menunggu Rhea pulang. Sepuluh menit kemudian pintu depan terbuka, Aberto menoleh, melihat istrinya berjalan ke arahnya lalu duduk di depan Aberto, Smith hanya berdiri di samping sofa.
"Berapa lama waktu yang di butuhkan untuk menyingkirkan Maxime?" tanya Rhea tak mau basa-basi lagi.
"Kau tampak bersemangat sekali Rhea," sahut Aberto dengan suara seraknya lalu mengambil secangkir teh di meja dan meneguknya setengah.
"Aku hanya ingin masalahnya cepat selesai saja," sahut Rhea.
Smith menggeleng pelan, pasalnya ia tak habis pikir dengan sikap Nyonya nya itu yang selalu ingin bertindak secepatnya tanpa memikirkan konsekuensi yang ada.
Rhea berdecak. "Sudahlah, biarkan saja ... jangan di biasakan manja. Dia anak laki-laki."
Magma yang mendengar pembicaraan mereka di lantai atas hanya bisa menekuk wajah lalu pergi kembali ke kamarnya. Selalu seperti itu, Rhea selalu menganggap dirinya manja padahal Magma juga menginginkan perhatian dari Ibunya.
*
"Kwek ... Kwek ... kwekk ..." Oris bersuara seraya menyimpan beberapa menu makan malam di meja.
Miwa menahan senyumnya, Tessa hanya diam tidak mengerti kenapa Oris tiba-tiba bersuara seperti bebek.
Di dapur tadi Miwa cerita kepada Oris kalau Maxime akhirnya mau naik bebek-bebek kan padahal sebelumnya pria itu sangat benci dengan bebek-bebek kan.
Maxime berdecak mendengar Oris yang tak henti meledeknya.
"Tuan ..." panggil Oris.
"Apa?!" tanya Maxime kesal.
"Kwek ... Kwek ... kwekk ..."
Maxime mendesis kesal dan Oris pun pergi dari meja makan seraya tertawa. Milan dan Arsen tersenyum seraya menggelengkan kepala.
"Kenapa dia?" Tanya Tessa.
Miwa menoleh. "Meledek Kak Maxi ..."
"Meledek apa?"
"Kak Maxi naik bebek-bebek kan tadi," sahut Miwa seraya terkekeh pelan.
Tessa melebarkan matanya tak percaya lalu pandangan nya beralih menoleh ke arah Milan yang sedang makan.
"Eh bagaimana kalau nanti kita pergi ke wahana bermain?" ajak Miwa begitu semangat.
"Ayo ..." sahut Milan tak kalah semangat.
"Hei, berapa usiamu. Kau masih mau pergi ke sana!" sahut Maxime.
"Aku ingin naik bianglala emangnya salah? romantis kan, Kak Maxi dan Milan. Aku dan Kak Arsen."
Tessa mendengus kasar karena merasa tidak di anggap di meja makan, ia menyimpan sendok dan garpuh di tangan nya dengan kasar lalu pergi meninggalkan mereka semua.
Maxime dan yang lain hanya mengernyit bingung.
"Kenapa lagi dia?" tanya Miwa.
Maxime menggeleng. "Biarkan saja ..."
Milan memandang kepergian Tessa yang sedang menaiki anak tangga, terlihat kesal.
Di kamar Tessa duduk di sofa nya, ia beberapa kali ganti posisi karena merasa tak nyaman dan merasa kesal sendiri selalu tidak di anggap oleh yang lain semenjak adanya Milan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia mengambil ponselnya di saku lalu membuka pesan masuk dari seseorang.
Daniel : Hai Tessa ...
Bersambung