
"Selesai ..." teriak Summer sambil membuka pintu toiletnya. Ia pun hendak mencuci tangannya di wastafel dengan menaiki beberapa bangku sebagai pijakan karena wastafelnya terlalu tinggi untuk tubuh pendeknya.
Winter masih berdiri di belakang Summer memperhatikan saudara kembarnya yang mencuci tangan tanpa mengenakan celana.
Setelah selesai, Summer bukan memakai celana nya tapi malah lari terbirit-birit keluar dari kamar mandi. Winter melebarkan mata, ia segera mengambil celana Summer yang ada di sisi wastafel tersebut dan segera berlari mengejar Summer.
Gadis kecil yang ada di dekat pintu langsung menutup matanya kala melihat Summer keluar tanpa celana. Winter terus mengejar Summer seraya memanggil nama sodara kembarnya itu dan di belakangnya gadis kecil tersebut juga ikut mengejar.
"Winter tunggu ..." teriak gadis kecil itu.
"Winter ..."
Winter menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan mata kecilnya membulat kala melihat teman kelasnya berlari mengejarnya. Ia melihat ke arah Summer yang berlari di lorong, kemudian ia menatap gadis kecil yang mulai semakin dekat dengannya.
Winter akhirnya memilih menghampiri gadis itu. Ia segera menutup mata gadis itu dan mendorongnya ke dinding.
"Ih Winter ..." gadis itu berusaha menjauhkan tangan Winter.
"Diam!" ucap Winter.
Winter kembali melihat ke lorong, Summer sudah menghilang entah kemana. Winter pun menarik kembali tangan nya dari mata gadis kecil itu.
"Aku tadi liat Summer tidak pakai cel-"
"Ssssttt." Winter membekap mulut gadis itu. "Diam!"
Winter berlari meninggalkan gadis itu. Gadis itu terus berteriak memanggil Winter yang berlari dengan memegang celana Summer.
Winter sempat bertemu dengan Aiden dan mengatakan kalau Summer kabur tanpa memakai celananya.
Mereka pun menyebar mencari Summer di bantu Irina. Entah pergi kemana anak itu karena ia tidak kembali ke kelas. Mereka saling berteriak.
"Summer ..."
"Summer ..."
"Summer anak nakal kau dimana!" teriak Keenan.
"Di lantai atas tidak ada," ucap Jonathan yang baru saja menuruni anak tangga bersama Winter.
Keenan berdecak. "Anak itu suka sekali sembunyi kan."
Winter menatap taman yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Winter pun berlari menuju taman tersebut.
"Winter kau mau kemana, jangan ikut-ikutan hilang juga. Winter!!" teriak Jonathan.
Winter melihat ada pohon besar di sana, perlahan ia mendekati pohon itu dan mendapati Summer sedang berjongkok di sana seraya memainkan sesuatu.
Summer menoleh dengan mata berbinar. "Wintel, liat ..." Summer memperlihatkan serangga yang berhasil ia tangkap.
"Pakai celanamu ..." ucap Winter memberikan celana Summer.
Summer mengangkat kedua bahunya menolak membuat Winter berjongkok.
"Ayo pakai Summel," ucap Winter.
Summer pun akhirnya menurut memasukan kakinya satu persatu ke celana yang Winter pegang dengan satu tangan memegang bahu kecil Winter dan satu tangan yang lain masih memegang serangga hasil tangkapannya.
"Summer astaga ..." Keenan menepuk jidat nya dengan nafas memburu melihat Summer sedang memakai celana di bantu Winter.
"Kau mau uncle mu ini mati kalau kau hilang!" ucap Jonathan yang baru saja datang.
"Kubur saja kalau mati uncle hehe," sahut Summer yang pernah mengubur burung mati bersama Maxime.
Keenan berdecak dan Jonathan hanya bisa menghela nafas.
*
Mereka kembali ke kelas setelah kejadian Summer bersembunyi di balik pohon itu. Mereka kembali menulis, Summer masih sibuk dengan serangga nya.
"Wintel liat ..." Summer menunjukan serangga itu kepada Winter.
Winter menjauhkan tangan Summer dari wajahnya.
"Wintel engga takut?"
Winter menggeleng.
"Huh ..." Summer mencebikkan bibirnya. "Yang takut siapa dong?"
Winter menoleh ke samping kanan nya, tempat duduk Laura dan Lalita. Summer pun tersenyum dan turun dari kursinya, ia berjalan mengendap-ngendap ke meja Laura dan Lalita, kemudian.
"Laula liat ..."
"Aaaaaa ..."
Laura menjerit bersama Lalita, dua anak perempuan itu langsung turun dari kursinya dan berlari ke meja guru.
"Wuahahahah ..." Summer tertawa puas sementara Winter kembali menulis seakan-akan tidak terjadi apa-apa padahal Winter lah yang membuat Summer mendekati meja Laura dan Lalita. Hanya saja jahilnya Winter tidak kelihatan karena selalu diam.
Irina menggelengkan kepala melihat Summer tertawa, ia berusaha menenangkan Laura dan Lalita.
"Bu Gulu, Summer bawa selangga," ucap Nathan.
"Summer," panggil Irina.
*
Setelah pulang sekolah mereka makan siang terlebih dahulu di mansion bersama yang lain, lalu kembali mengerjakan tugas sekolahnya di bantu orang tuanya masing-masing.
Winter dan Summer ada di kamar, mengerjakan pr bersama dengan Summer yang terus bernyanyi.
"Satu-satu aku sayang Wintel, dua-dua juga sayang Wintel, Wintel. Tiga-tiga sayang Wintel, Wintel, Wintel. Satu dua tiga aku sayang WINTELLLLL ..." Summer berteriak keras di ujung nama Winter yang terakhir.
Winter yang ada di sampingnya menutup kuping kirinya dengan tangan kanan terus menulis angka 2.
"Balonku ada lima, yang satu punya Wintel, yang satu punya Natan, yang satu punya Nala, yang satu punya Laula dan satunya lagi punya Lita. Dan aku tidak punya ..."
Maxime tertawa di belakang mereka. Winter dan Summer menoleh ke belakang.
"Daddy ..." teriak Summer senang.
"Kenapa Summer tidak kebagian balon nya hm?" tanya Maxime menghampiri dua anak lelaki yang mengerjakan tugas dengan duduk lesehan di lantai.
"Aku yang jual balon nya, Dad ..." sahut Summer dengan tertawa.
"Oh iya? kenapa hanya lima balon yang di jualnya hm?" tanya Maxime lagi.
"Balon yang lain udah meledak Daddy." Kini Winter yang menjawab.
"Hahahah." Summer dan Maxime tertawa.
"Ayo kebawah, ada tante Sabrina di bawah."
"Ada Tiala juga, Dad?" tanya Winter.
"Ada."
Tiara adalah anak Sabrina dan Peter. Tiara baru berumur tiga tahun. Hari dimana Sabrina melihat cinta Maxime begitu besar untuk Milan, ia tidak berniat menganggu atau mengagumi Maxime lagi sampai akhirnya Sabrina dekat dengan Peter lalu menikah.
"Dad mau ke pantai," ucap Winter.
"Aku juga, aku juga mau."
"Sekarang?" tanya Maxime.
"Nanti sole aja. Liat matahali bobo," ucap Summer.
Winter dan Summer sering melihat matahari tenggelam bersama. Menghitung mundur detik-detik siang yang di gantikan malam.
*
Dari sore keluarga De Willson pergi ke pantai bersama. Mereka sibuk masing-masing, ada yang bermain pasir, ada yang bermain dengan ombak, ada yang makan, main voli bersama. Sementara Winter dan Summer berdiri berdua di pinggir pantai menatap matahari yang mulai tenggelam, mereka menghitung mundur senja di sore hari tersebut.
"Sepuluh ..." ucap Winter.
"Sembilan," sambung Summer.
"Lima ..." lanjut Summer kembali.
"Delapan Summel," ucap Winter membenarkan.
"Ohhh ... delapan ..."
"Tujuh," sambung Winter kembali.
"Berapa lagi Wintel?" tanya Summer.
"Enam," ucap Winter.
"Lima," lanjut Summer dengan berjingkrak senang melihat matahari yang mulai tenggelam.
"Empat ..." Winter.
"Tiga ..." Summer.
"Dua ..." Winter.
"Satu ..." angka satu itu di ucapkan oleh Summer yang kini berusia dua puluh tahun.
Dua anak lelaki yang selalu bersama-sama menghitung tenggelamnya matahari itu kini sudah beranjak dewasa. Kebiasaan mereka tidak pernah hilang dari kecil sampai sekarang. Summer menyukai senja dan Winter hanya mengikuti apa yang di sukai kembarannya itu saja.
"Membosankan ..." ucap Winter.
"Ayolah, ini menyenangkan," ucap Summer menepuk pundak Winter dengan tersenyum.
"Aku terbebas dari menghitung matahari tenggelam ketika kau tidak ada saja, Summer." kata Winter karena mereka kuliah di Negara yang berbeda dan membuat Winter terbebas dari menghitung matahari tenggelam permintaan kembarannya itu.
"Kau pasti merindukanku. Iya kan?" Summer tersenyum.
"Menjijikan!"
Winter melengos meninggalkan Summer. Suasana mulai gelap, matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Summer menyusul Winter dan merangkul kembarannya itu dengan tertawa.
"Aku ke bandara hari ini. Sedihnya, aku harus meninggalkan kembaranku ini ..." Summer memasang wajah sedih sambil memainkan pipi Winter menggoda kembarannya itu.
Winter berdecak menepis tangan Summer dari pipinya. Yang berbeda dari mereka hanya lah Winter yang selalu terlihat rapih dan Summer yang rambutnya selalu berantakan. Summer yang ramah cerewet dan mudah tersenyum dan Winter yang lebih sering diam dengan wajah datarnya.
Winter hanya banyak bicara kepada kembarannya itu saja. Summer.
**Bersambung
besok Tamat guys hehe.
Kenangan mereka waktu kecil.
Winter & Laura**
Summer & Lalita
Winter dan Nala.
Nathan, Nala & Summer
Nathan, Nala & Winter
Winter & Laura
Winter & Si gadis kecil