
"Sayang ..."
Milan menoleh ke arah pintu, Maxime tersenyum seraya menutup pintu kamarnya.
Milan yang duduk di ranjang segera menghampiri suaminya lalu memeluk Maxime dengan erat.
"Kau baik-baik saja?" tanya nya.
"Aku baik-baik saja sayang. Kau tidak perlu khawatir. Bagaimana? menyenangkan masuk di hidupku, bukan?" ucap Maxime dengan terkekeh pelan.
"Aku sudah pernah di culik bersama Miwa dan sekarang hampir mati terbakar di mansion itu. Duniamu hitam sekali tau ..." Milan mengerucutkan bibirnya membuat Maxime tersenyum gemas.
"Duniaku penuh warna setelah kehadiran kau dan si kembar," ucap Maxime.
"Sayang, aku harus pergi sebentar. Kau di sini selama aku pergi ya ..."
"Loh, mau kemana?"
"Ada hal yang harus aku urus sayang. Kau di sini, ada banyak orang yang menjagamu ..."
"Apa masalah tadi belum selesai?"
"Sedikit lagi sayang," ucap Maxime lalu mengecup kening Milan.
"Kalau aku memintamu jangan pergi bagaimana?"
"Aku akan tetap pergi. Aku harus memastikan tidak akan ada musuh untuk anakku di masa depan." Maxime mengelus pipi Milan dengan mata sendu nya. "Kau tau, aku berharap mereka tidak hidup sepertiku. Aku ingin mereka hidup normal. Jika laki-laki, belajar bela diri itu penting. Tapi bukan untuk membunuh sepertiku."
"Kau berharap mereka tidak menjadi pemimpin mafia sepertimu?" tanya Milan.
Maxime mengangguk perlahan. "Setiap hari aku di hantui rasa takut sayang ... aku selalu yakin bisa melindungi keluargaku dari setiap musuh yang membenciku tapi aku tidak bisa melindungi keluargaku dari karma jahat yang aku perbuat sekarang. Aku takut mereka yang menerima karma itu, aku takut mereka tidak bahagia di masa depan ..."
Milan terdiam dengan ucapan Maxime. Bola mata suaminya yang ia tatap sekarang sangat berbeda, seakan penuh kekhawatiran dan ketakutan. Milan tidak tahu, kenapa dengan suaminya itu. Tapi ucapan Maxime juga berhasil membuat Milan sedikit gelisah akan nasib si kembar di masa depan.
"Kau benar, aku juga sedikit khawatir akan hal itu ..."
"Aku akan membereskan semuanya sekarang sayang, ini terakhir kali aku membunuh. Aku janji. Aku pergi dulu ya ..." Maxime mencium bibir Milan sedikit lebih lama sebelum akhirnya ia keluar dari kamar.
*
Maxime, Arsen dan Daniel pergi ke Negara XX membawa puluhan anak buah Yakuza dan Antraxs. Ia hanya ingin memastikan dengan musnahnya Recobra.
Kepergian mereka tentu saja tanpa sepengetahuan Javier dan yang lain. Maxime benar-benar tidak mau melibatkan keluarganya yang sudah tua itu, mereka sudah waktunya istirahat.
Kejadian di mansion Gabriel pun, Maxime tidak berpikir jika Javier dan yang lain akan datang membantu. Karena tombol merah di jam tangan itu hanya untuk memanggil anak buah Yakuza dan Antraxs saja, tapi ternyata Javier dan yang lain juga masih memakai jam tangan tersebut.
Maxime bersikap acuh di depan Javier dan yang lain tentang banyaknya kejanggalan saat Smith di wawancara, padahal sebenarnya ia tidak tinggal diam. Sekarang, mereka berada di dalam pesawat.
*
Smith menatap laptop di depannya, ia sedang berada di ruang kerja. Smith sedang membaca sejarah berdirinya Yakuza dari awal kepempimpinan Andreas De Willson. Yakuza masih menduduki peringkat pertama yang di akui dunia sebagai Mafia yang paling kejam dan sulit di kalahkan.
Sementara Recobra menduduki peringkat ke sepuluh. Sangat jauh dari Yakuza.
"Andreas, Ataric, Javier dan sekarang Maxime. Mereka tidak pernah kalah, aku penasaran siapa penerusnya setelah Maxime ..."
Seandainya saja ketika Smith hendak pergi dari Negara X ia tidak bertemu dengan salah satu anak buah Yakuza, mungkin ia tidak akan menerima wawancara wartawan dengan mengatakan Aberto mati karena serangan jantung, mungkin ia juga akan menghilang dan fokus mengurus Magma saja.
Tapi sayangnya, Maxime tahu kalau Smith masih hidup dan membuat Smith harus menyusun rencana baru dengan mengatakan Aberto mati karena penyakitnya
Kalaupun membawa kabur Magma tetap saja dirinya akan menjadi incaran Maxime dan membuat Magma dalam bahaya jika Maxime sampai bertemu dengan anak itu. Ia hanya berharap dengan menyebutkan Aberto mati dan mengakui kekalahan Recobra, Maxime tidak akan kembali menyerangnya dan membuat Magma tumbuh untuk balas dendam di masa depan.
"Ini semua gara-gara wanita itu!! seandainya dia tidak mempunyai hubungan dengan Felix, ini semua tidak akan terjadi!!"
Smith memukul-mukul kepalanya dengan geram. Rencananya seakan hancur berantakan, Smith sangat berhutang budi kepada Aberto dan ia juga menyayangi Magma.
BRAKH
Pintu di tendang dengan keras membuat Smith terperanjak kaget. Maxime berdiri di sana dengan tersenyum miring.
"Di sini kau rupanya ..."
Maxime berjalan menghampiri Smith dengan santai, sementara Smith menghela nafas kasar dengan mengepalkan tangannya.
"Hei, aku melihat ada anak kecil di kamar. Siapa dia?"
"Jangan berani menyentuhnya!" ucap Smith dengan penuh penekanan.
Maxime tertawa. "Aku hanya bertanya ... kau sedang apa?"
Maxime menatap laptop di atas meja, ia melihat sejarah Yakuza di sana. Lalu Maxime tersenyum kecut.
"Bagaimana? kau sudah baca semua? bagaimana rasanya? kau semakin takut?" tanya Maxime seraya menodongkan pistol ke arah Smith.
"Aaaaaaaa ..." terdengar suara Magma menjerit keras membuat Smith melebarkan matanya.
"Magma ..." Smith hendak berlari tapi langkahnya di hadang oleh Maxime, Maxime langsung mecekal leher pria itu dan mendorongnya ke dinding.
"Katakan, siapa anak itu?!!" tanya Maxime dengan wajah geram sampai giginya saling menggertak dengan mata tajamnya menatap Smith.
Satu tangan Maxime mencekik leher pria itu, satunya lagi menodongkan pistol ke kening Smith.
"Bu-bukan urusanmu!!" ucap Smith dengan nafas tersenggal karena Maxime mencekiknya begitu kuat.
"Apa dia anak Aberto?" tanya Maxime lagi.
"JAWAB!!"
Smith diam-diam megambil pisau di saku celananya, karena hanya itu yang ada di saku nya. Ia tidak membawa pistol karena berpikir Maxime tidak mungkin bisa masuk ke mansion Aberto.
JLEB
bersambung