
Maxime menggenggam tangan Milan masuk ke mansion nya dengan langkah cepat, Milan harus sedikit berlari untuk menyeimbangi langkah Maxime, belum lagi ia harus memegang gaun nya yang kepanjangan.
Mansion sepi karena semua orang masih di gedung, termasuk Oris dan Ara.
"Maxime pelan-pelan." Kata Milan seraya menaiki anak tangga dengan hati-hati.
"Ini sudah pelan sayang," sahut Maxime.
Pria itu pun membuka pintu kamarnya lalu menutup pintu dengan cepat dan menguncinya ketika berbalik ia terkejut karena Milan tidak ada di depannya, gadis itu sudah mengurung diri di kamar mandi.
Maxime mendengus kasar lalu mengetuk pintu kamar mandi dengan tak sabaran.
TOK TOK TOK
Milan yang berdiri menyenderkan punggungnya di pintu terkejut dengan suara gedoran pintu.
"Untuk apa kau masuk ke kamar mandi?!" teriak Maxime.
"A-aku sakit perut," sahut Milan.
"Jangan bohong Milan!!" teriak Maxime kembali.
Maxime tidak memanggilnya sayang, Milan tahu pria itu sedang kesal sekarang.
"Bagaimana ini." Milan bergumam dengan mengigit jari-jemarinya. Ia begitu gelisah sekarang.
"Maxime aku harus melepas gaunku dulu," teriak Milan dari kamar mandi.
"Aku akan membantumu!!"
Milan sontak menepuk jidat nya, melepas gaun tentu saja Maxime akan senang membantu dirinya. Ia terlalu bod*h dengan alasan itu.
"BUKA ATAU AKU DOBRAK!!"
Maxime pun mundur beberapa langkah bersiap untuk mendobrak pintu tapi sedetik kemudian pintu kamar mandi terbuka, tatapan Maxime yang tadi kesal perlahan melunak melihat Milan.
Maxime menyunggingkan senyumnya, selangkah demi selangkah ia menghampiri Milan dan gadis itu sendiri mundur perlahan-lahan menjauhi Maxime.
Terlihat antara keduanya seperti seekor macan yang hendak menerkam kucing kecil.
"A-aku masih kecil belum bisa hamil. Jadi, jadi sebaiknya kau sabar dulu ..."
"Tapi membuatnya sekarang bisa kan?" Maxime menaikkan satu alisnya dengan tersenyum miring seraya terus melangkah mendekati Milan.
Milan menggeleng pelan, ia tidak bisa mundur lagi karena dibelakangnya ada bathup.
"Bagaimana kalau besok saja? ini sudah sangat malam aku lelah. Hoaammm ..." Milan menguap membuat Maxime terkekeh.
"Aku benar-benar lelah Maxime." Milan memijit keningnya seraya memejamkan mata. Berharap Maxime luluh dengan akting dirinya yang pura-pura kelelahan.
Maxime berdiri di depan Milan seraya tangan bersedekap dada. Dengan menahan kedutan di bibirnya agar tidak tersenyum ia terus menonton Milan yang banyak drama malam ini.
"Aku sepertinya butuh tidur sekarang, kalau tidak aku akan sakit besok. Ah, kepalaku mulai sakit ..." gadis itu memijit kepalanya seraya pura-pura meringis kesakitan.
Diam-diam ia menatap Maxime dengan ujung matanya, Maxime terlihat datar menatapnya tidak ada rasa khawatir sama sekali. Biasanya pria itu selalu panik kalau dirinya sakit.
"Aduh ... pinggang ku juga sakit, tadi kebanyakan berdiri."
Mata Maxime yang tadi menatap wajah Milan berpindah ke pinggang Milan yang kini sedang di pijat pelan oleh gadis itu. Dahi Milan mengkerut seakan-akan sedang menahan rasa sakit di pinggang nya.
"Sudah akting nya?" tanya Maxime membuat kerutan di kening Milan perlahan memudar. Kemudian gadis itu menatap Maxime.
"A-aku---"
Belum selesai Milan bicara tangannya sudah ditarik oleh Maxime. Pria itu membawa Milan keluar dari kamar mandi lalu mendorong pelan tubuh Milan ke ranjang.
"Eeehhhh ... sebentar-sebentar." Milan segera beranjak memegang tangan Maxime agar tidak melanjutkan membuka kancing bajunya.
Maxime mendengus kasar. "Apalagi sekarang?"
Milan menyengir. "Hehe ... biar aku saja yang buka bajumu ya."
Sebenarnya Milan melakukan itu untuk mengulur waktu saja, gadis itu sangat lama hanya untuk membuka satu saja kancing baju Maxime.
Maxime tidak tinggal diam, ia menarik resleting gaun Milan. Milan sontak mendongak dan Maxime segera mendorong gadis itu ke ranjang lalu menindihnya.
"Kau berusaha mengulur waktu hm?"
"A-aku---"
Cup
Maxime memberi kecupan kepada Milan.
"Maxime aku takut." Milan berkata pelan seraya mengigit bibir bawahnya.
"Kita sudah pernah melakukannya ..."
"Waktu itu aku tidak sadar. Aku lebih setuju kalau kau melakukannya ketika aku tidak sadar saja."
"Dan aku lebih setuju ketika kau juga merasakannya ..."
Maxime tersenyum lalu menci*m Milan dengan lembut untuk menenangkan gadis itu.
"Aku akan melakukannya dengan sangat pelan hm."
Maxime menarik tubuhnya, kembali berdiri hanya untuk membuka bajunya saja. Milan duduk di ranjang seraya meremas dadanya dan memalingkan wajah dari Maxime yang kini telanj*ng bulat di depannya.
"Maxime bisa kau pakai celanamu saja tidak?"
"Lalu bagaimana aku akan mengirim ben*hku untukmu kalau pakai celana?"
Milan menghela nafas panjang dengan memejamkan matanya sementara Maxime hanya tersenyum lalu mendekati Milan dan hendak membantu gadis itu melepas gaunnya.
Milan hanya memejamkan matanya disaat tangan Maxime sibuk melepas gaun yang ia kenakan.
Kini gadis itu hanya memakai baju dalam*n nya saja. Milan buru-buru masuk ke bawah selimut lalu membaringkan dirinya membelakangi Maxime.
Maxime ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk Milan dari belakang. Milan menelan salivanya susah payah kala Maxime memeluk dirinya pertama kali dalam keadaan telanj*ng.
"Ini sepuluh kali lipat lebih tegang dari ujian ku kemarin," ucap Milan pelan.
Maxime tertawa lalu menarik pundak Milan agar gadis itu menatap dirinya.
"Kau siap?"
Milan menggeleng. "Tidak."
Maxime tersenyum. "Aku tidak perduli."
Pria itu pun menc*um Milan, menghujani wajahnya dengan c*uman, berpindah dari pipi, kening, hidung dan kembali ke bibir gadis itu.
Kemudian cium*n nya perlahan turun ke leher, merasa geli luar biasa Milan hanya memejamkan mata seraya merem*s bantal.
"Jangan tegang." Maxime berkata seraya melepas semua pakaian dal*m Milan.
Milan menghela nafas seraya mengigit bibir bawahnya, ia pasrah.
Bersambung