The Devil's Touch

The Devil's Touch
#199



Sepanjang Maxime dan Milan berjalan, orang-orang yang berada di dalam rumah panggung itu mengintip di balik jendela. Maxime berjalan dengan pandangan lurus ke depan sementara Milan sesekali menatap mereka yang sedang mengintip.


Para anak kecil tadi juga langsung masuk ke rumah mereka ketika melihat Maxime.


"Apa orang-orang di sini takut denganmu?" tanya Milan.


"Aku tidak tau sayang."


"Ck, bohong. Kalau tidak takut kenapa anak-anak kecil tadi malah bersembunyi di rumah mereka."


Maxime tidak menjawab, ia hanya memberikan senyuman untuk istrinya. Kemudian Milan mendengar sayup-sayup seseorang tertawa, terdengar bukan hanya satu orang yang tertawa.


Maxime membuka semak belukar di depannya, kemudian Milan melihat di balik semak itu ada lahan yang luas, di sana ada beberapa orang yang sedang makan bersama mengelilingi api unggun. Api unggun itu di pakai untuk membakar ikan.


Mereka terlihat tertawa, makan bersama menggunakan daun pisang sebagai alas.


Maxime menarik tangan Milan, berjalan ke arah lain untuk menghampiri mereka.


"Ikan mas mulai berkurang sepertinya. Aku tadi mencarinya di sungai tidak ada."


"Ah itu karena kau saja yang tidak beruntung."


"Tadi pagi aku lihat ada dua ayam mati di kandang."


"Mungkin kau tidak merawatnya dengan baik."


"Mana ada, aku memberi makan mereka setiap hari."


Perbincangan mereka tiba-tiba hening ketika melihat Maxime berjalan ke arah mereka. Mereka yang sedang makan langsung terdiam sesaat menatap pria di depannya.


"T-tuan ..."


Di rasa matanya tak salah menatap Maxime. Mereka langsung berdiri dari duduknya dengan menundukan kepala. Beberapa orang saling menyikut karena tidak ada yang memberitahu kalau Maxime akan datang ke desa ini.


Milan menatap mereka satu persatu, mereka hanya memakai kaos lusuh dan celana pendek. Beberapa dari mereka wajahnya kotor.


"Dimana Jack?" tanya Maxime.


Mereka saling menoleh kemudian kompak menggelengkan kepala.


"Ka-kami tidak tau, Tuan. Seharian ini kami belum bertemu dengan beliau."


"Jam segini, biasanya Jack ada di sungai Tuan," kata salah satu dari mereka.


Maxime mengangguk lalu kembali menarik tangan Milan. Ketika mereka berjalan menjauh, sesekali Milan menoleh ke belakang, para pria itu memandang Milan seraya berbisik, mempertanyakan apa benar gadis yang di bawa Maxime itu istrinya.


*


Ketika mereka hampir sampai di sungai, Maxime dan Milan melihat Aron yang berdiri di dekat pohon cherry dengan sesekali mengambil buah cherry tersebut dan memakannya.


"Aron ..." gumam Milan.


Milan langsung berlari mendekati Aron. Sementara Maxime mengedarkan pandangannya mencari Jack.


"Aron ..."


Aron berhenti mengunyah ketika mendengar suara seseorang, kemudian ia berbalik dan mendapati Milan berdiri di belakangnya.


"Milan ..." mata kecil Aron berbinar senang.


Milan berjongkok untuk mensejajarkan tinggi nya dengan Aron.


"Milan ... kenapa kau baru datang sekarang, waktu ulang tahunku kau tidak datang. Aku selalu berdiri di dekat pohon cherry ini." Aron menatap pohon cherry di belakangnya lalu kembali menatap Milan.


"Aku ingat, dulu aku bertengkar dengan Milan karena buah cherry."


Aron terlihat menekuk wajahnya membuat Milan merasa bersalah. Gadis itu mengelus kepala Aron.


"Maaf ya, aku baru bisa datang ke sini sekarang."


Dan Aron sendiri ada di desa ini karena tidak mau jauh dari Jack. Padahal Maxime pernah berniat mengurus Aron di mansion nya.


Maxime berjalan mendekati Aron dan berdiri di dekat Milan.


"Paman ..."


Aron berlari memeluk kaki Maxime lalu mendongak.


"Paman, Paman darimana saja?"


Maxime menggendong Aron. "Paman sibuk bekerja."


"Kau suka di sini?" tanya Maxime.


"Ya, aku suka. Banyak teman di sini Paman."


Milan berdiri dan melihat ada pria di dekat air terjun yang sedang mencari ikan.


"Siapa itu?"


Maxime dan Aron menatap air terjun tersebut.


"Itu kakak ku, Kak Jack."


Maxime menurunkan Aron. "Aron bersama Milan dulu ya."


Aron mengangguk, Maxime pun berjalan mendekati Jack yang sedang memancing duduk di salah satu batu yang besar.


"Milan, kau semakin jelek saja."


"Eh, kau ini. Tadi baik, sekarang menyebalkan."


Aron menjulurkan lidahnya lalu berlari, Milan ikut berlari mengejar Aron.


"Tunggu Aron!"


"Ikan apa yang kau dapat?" tanya Maxime.


Jack perlahan menoleh ke belakang dan melihat Maxime berdiri menatapnya. Jack langsung ikut berdiri.


Jack tidak berkata apapun, mereka hanya menatap satu sama lain dengan hening.


Kemudian keduanya duduk di salah satu batu, Maxime memberikan bungkus rokok kepada Jack. Jack mengambil satu rokok dan menyalakannya dengan pemantik api.


"Kau sudah menikah?" tanya Maxime memecah keheningan.


"Ya."


"Siapa nama istrimu?"


"Sherly."


"Sherly?"


Jack mengangguk. "Anak si Tono, pria yang dulu hampir mencelakai Miwa saat kecil."


"Oh. Kau menikahinya karena apa?"


"Apalagi ... karena aku mencintai dia."


"Cih, kau bisa setia dengan satu wanita juga ternyata."


Jack terkekeh pelan. "Terkurung di sini, hanya dia wanita satu-satunya yang mau bicara denganku."


Orang-orang enggan berbicara dengan Jack karena tahu Jack teman Maxime. Walaupun dia ada di desa ini karena sebuah kesalahan.