
Maxime menghela nafas, setelah mengirim pesan kepada Milan. Ia menoleh ke belakang dengan gelisah, Tessa tak sadarkan diri di pelukan Miwa.
Sementara Arsen tak henti-hentinya melayangkan tatapan permusuhan kepada Daniel di spion depan.
"Kau bisa lebih cepat tidak?!" Maxime berseru dengan kesal kepada Daniel.
"Ini sudah cepat Maxime. Kau kan biasanya menyuruh dokter Aliandra ke mansion."
"Tidak ada peralatan medis di mansion ku, kalau adikku kenapa-kenapa bagaimana?!"
Daniel menghela nafas kasar lalu menatap Arsen di spion, dari tadi mata itu terus saja menatapnya tajam tanpa berkedip. Daniel hanya bisa berdecak, lalu menginjak pedal gas dengan kuat. Mobil melesat dengan kecepatan maksimum.
Sesampainya di rumah sakit Maxime masuk menemani Tessa, seharusnya mereka menunggu di luar biarkan dokter yang memeriksa. Tapi karena mereka tahu siapa Maxime, melarangnya sama seperti mempertaruhkan nyawa.
Sementara dan yang lain menunggu di luar. Miwa duduk di samping Arsen seraya membalas pesan dari Liana. Daniel duduk lebih jauh dari Arsen, keduanya terus melempar tatapan tak bersahabat.
Miwa menghela nafas, memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia hanya duduk bersilang seraya menatap pintu tertutup yang di dalamnya ada Tessa sedang di periksa.
Lalu tatapan nya berpindah ke arah Arsen dan Daniel. Dua pria itu malah saling menatap penuh permusuhan satu sama lain, Miwa hanya berdecak seraya menggelengkan kepala.
"Kalau bukan rumah sakit sudah habis kau!" batin Arsen.
"Ada apa dengan nya, aku salah apa?!" batin Daniel.
*
Awalnya Milan sarapan bersama Ara, kemudian Ara pergi untuk membereskan kamar Tessa. Alhasil di meja makan itu tinggalah dia sendiri.
Tak lama kemudian Oris datang dan duduk di sebrang Milan seraya menyomot ayam di piring.
"Kau sudah dapat kabar soal Tessa?"
Milan menggeleng. Oris mengangguk-ngangguk lalu melahap lagi ayam di tangan nya.
"Semalam ada suara benda pecah, kau tau itu apa? aku penasaran tapi Aunty Ara melarangku melihatnya huh ..."
Milan menunduk, kemudian dia ingat kembali soal lukisan itu dan pelukan Maxime kepada Tessa.
Kalau saja pelukan itu terjadi ketika Tessa tidak menyukai Maxime mungkin Milan tidak akan cemburu. Tapi lukisan itu seolah jawaban dari apa yang Milan pikirkan sekarang, Maxime memeluk perempuan yang menyukainya.
"Milan ..."
"Milan ..."
"Mi-lan ..."
"Eh iya?" Milan mendongak menatap Oris.
"Kau melamun Milan?"
Milan menggeleng. "Tidak."
"Ah kau melamun, aku lihat tadi," sahut Oris.
"Pagi ..." Peter datang dan langsung menghampiri meja makan. Mengambil piring dan segera menyambar semua lauk pauk yang tersedia di atas meja.
"Datang-datang kok makan," ucap Oris.
"Cih, kau sudah berani melarangku makan di sini? aku lebih lama tinggal di sini," sahut Peter seraya menyendok nasi ke piring.
"Sekarang kan sudah tidak tinggal di sini lagi," sahut Oris.
"Banyak bicara kau ini! ambilkan aku babi kecap dan kecambah!" Peter menyodorkan piring nya.
Oris mengangkat kedua bahunya. "Ambil saja sendiri, kau bukan lagi orang yang harus aku hormati di sini."
"Manusia satu ini ..." Peter menatap Oris kesal dan kemudian piring Peter di ambil Milan. Milan menyendok paha ayam dan kecambah ke piring Peter.
"Hayoloh kau pasti di marahi Maxime, Peter. Milan tidak pernah melayani Maxime makan, kau yang pertama. Aku akan melaporkanmu kepada Maxime hayolohhh ..." Oris berkata seraya tersenyum jahil menatap Peter.
Peter melebarkan mata lalu segera mengambil piring nya di tangan Milan.
"Loh kenapa?" tanya Milan.
"Milan kau kan kalau makan biasanya di ambilkan Maxime, tidak pernah kau melayani Maxime," ucap Oris.
"I-iya sih," sahut Milan terbata.
"Jangan bilang Maxime kau mengambilkan paha ayam untukku Milan," ucap Peter seraya menyuapkan nasi ke mulutnya. Milan hanya mengangguk dengan tersenyum tipis.
"Kau mau mati di tanganku, Oris!" geram Peter.
"Masih ada Tuan Maxime yang melindungi ku," sahut Oris dengan muka meledek, membuat Peter berdecak.
Milan kembali mengeluarkan ponselnya dan ia mengetik sesuatu di sana.
Sambil menunggu balasan dari Maxime, Milan kembali menghabiskan sarapan nya. Oris dan Peter pun sedang makan menemaninya. Lima menit kemudian Maxime membalas pesan dari Milan.
Dengan tersenyum Milan memasukan lagi ponselnya ke saku, ketika mendongak ternyata Peter dan Oris sedang menatapnya tanpa berkedip.
Mereka heran dari tadi melihat Milan membalas pesan dengan tersenyum.
"Ke-kenapa?" tanya Milan.
"Kau sedang chat bersama Maxime?" tanya Oris.
Milan mengangguk.
Peter bertepuk tangan seraya menggelengkan kepala.
"Akhirnya ... akhirnya kau luluh juga dengan si iblis itu."
Milan berdecak. "Dia bukan Iblis!"
Sontak Peter dan Oris saling menoleh, kali pertama mereka mendengar Milan membela Maxime. Soal Milan yang suka kabur-kaburan dulu, mereka tahu itu. Soal Milan yang pernah tidak sengaja di tampar Maxime karena mencoba untuk kabur, mereka juga tahu itu.
Tak di sangka sekarang Milan malah membela Maxime yang tak terima di sebut Iblis.
*
Tessa masih terbaring lemah di ranjang, dokter sudah memeriksa nya. Tessa hanya kelelahan dan banyak pikiran saja, membuat dia stress akhirnya jatuh sakit.
Sedari tadi, Tessa tak henti menatap Maxime yang duduk di sofa seraya tersenyum ke ponselnya. Pria itu pasti sedang chatting bersama Milan.
Tessa tersenyum getir, masih terasa sakit melihat senyuman bahagia di wajah Maxime. Dan senyuman itu untuk Milan, bukan dirinya.
Maxime kembali memasukan ponselnya ke saku, setelah membaca balasan terakhir pesan dari Milan. Gadis itu hendak pergi sekolah. Lalu ia mendongak dan mendapati Tessa sedang menatapnya.
"Tessa ..." Maxime beranjak dari duduknya menghampiri Tessa.
"Makan dulu ya, kau harus minum obat." Maxime mengambil bubur di meja lalu duduk di pinggir ranjang.
"Aku tidak mau makan kak, makanan rumah sakit tidak enak," sahut Tessa dengan pelan.
Maxime menghembuskan nafas. "Bubur buatan aunty Ara saja ya?"
Tessa kembali menggeleng. "Mau buatan kakak saja."
Maxime tersenyum mengelus kepala Tessa. "Oke, kakak buatkan."
Miwa, Arsen dan Daniel masuk ke ruangan. Miwa berlari menghampiri Tessa dengan tergesa-gesa dan berdiri di samping perempuan itu.
"Tessa ..."
"Aku baik-baik saja Miwa."
Maxime menoleh kepada Arsen. "Yang lain sudah di hubungi?"
"Sudah, kak. Mereka sedang di perjalanan." Miwa yang menjawab.
"Yasudah, kalian tunggu di sini."
"Kak Maxi mau kemana?" tanya Tessa.
"Katanya mau bubur buatan kakak," sahut Maxime.
"Hmm ... buatan Aunty Ara aja deh kak."
Di sisi lain, entah kenapa Tessa tidak mau di tinggalkan oleh Maxime. Apalagi di sini tidak ada Milan, ia memang akan melepaskan Maxime untuk Milan, tapi sebentar saja sebelum hal itu terjadi Tessa ingin mempunyai banyak waktu bersama dengan Maxime seperti dulu.
Bersambung