The Devil's Touch

The Devil's Touch
#146



Maxime membuka pintu kamar bersamaan dengan itu Milan hendak keluar dari kamarnya lengkap dengan seragam sekolahnya.


"Sayang ..."


"Darimana?" tanya Milan.


"Mengobrol saja dengan Miwa dan Arsen," sahut Maxime dengan tersenyum.


"Ohh ..." Milan mengangguk-ngangguk.


"Sarapan dulu ..." Maxime menggenggam tangan Milan tapi Milan menahan nya.


"Ada apa?" tanya Maxime.


Gadis itu melepaskan tangan nya dari genggaman Maxime lalu menunduk seraya mengambil sesuatu di dalam saku roknya.


Maxime diam memperhatikan. Milan mengigit bibir bawahnya dengan ragu-ragu Milan pun mengeluarkan gelang tali yang ia buat sendiri, gelang hitam dengan bentuk singa.



Milan membuka telapak tangan nya, membiarkan Maxime melihatnya. Seraya menunduk ia berkata.


"Harusnya aku memberikan ini di hari ulang tahunmu, tapi karena Tessa sudah memberikan hadiah untukmu semalam, jadi aku memutuskan membuat gelang ini waktu di kamar mandi tadi agar bisa memberikan nya sebelum hari ulang tahunmu ..."


Maxime masih termangu memandang gelang hitam singa di telapak tangan Milan.


"Maaf ... hadiahnya sangat murah." Milan mendongak menatap Maxime. "Aku membeli tali dan singa ini pakai uangku sendiri, aku berani sumpah. Aku tidak memakai uangmu ..."


Milan berkata seperti itu karena teringat ucapan Tessa, jika membelikan hadiah memakai uang Maxime sama saja bohong. Lagipula tali dan bentuk singa itu ia beli sudah lama, sebelum bertemu dengan Maxime.


Maxime masih membisu, membuat Milan mengernyit bingung. Pria itu masih menatap gelang di telapak tangan Milan.


"Maxime kalau kau tidak suka ..." Milan menutup kembali telapak tangan nya tapi langsung di cegah oleh Maxime.


"Aku suka ..."


"Hah?"


"Aku suka sayang ... aku mau pakai gelang ini." Maxime mengambil gelang itu dari tangan Milan. Ia menatap lebih dekat gelang itu lalu tersenyum haru.


"Terimakasih ..." Maxime memeluk Milan penuh sayang seraya mengusap lembut kepala gadis itu.


"Aku ini bukan anak muda lagi, hari ulang tahun tidak berarti lagi untukku sayang ... tapi aku senang kau membuat gelang ini untukku sambil telanj*ng ..."


"Hei!!" Milan mendorong tubuh Maxime.


"Apa?" tanya Maxime seraya terkekeh pelan. "Tadi kau bilang kau membuatnya di kamar mandi, itu artinya sambil telanj*ng di bathup. Iya kan?"


Milan membisu menutup rapat mulutnya, karena itu memang benar. Milan berendam di bathup sambil membuat gelang untuk Maxime tadi.


Maxime tergelak. "Jadi benar sayang? kau membuatnya sambil telanj*ng?"


"Maxime aku tidak punya waktu, tadi aku ingin cepat selesai membuat gelang itu," sahut Milan mencebikkan bibirnya membuat Maxime gemas sendiri.


"Ah gelang ini sangat berharga untukku karena di buat dengan tubuh telanj*ng," ucap Maxime seraya mengusap gelang di tangan nya menahan tawa nya.


Milan mendengus lalu mengambil satu gelang lagi di saku rok nya.


"Aku juga punya ..." Milan memperlihatkan gelang miliknya.



Maxime melebarkan matanya. "Kita pakai gelang couple?"


Milan mengangguk. "Kau singa, aku kucing ..." sahut Milan seraya tersenyum. Maxime segera meraup kedua pipi Milan dan menci*m gadis itu.


*


Pagi ini Maxime mengantar Milan sekolah, biasanya Milan berangkat dengan Miwa tapi karena ini hari bahagia Maxime mendapatkan hadiah dari Milan alhasil pria itu memilih pergi ke sekolah Milan daripada pergi ke kantor.


Maxime sesekali mengacak-ngacak gemas kepala Milan yang duduk di sampingnya. Milan hanya tersenyum.


Sesampainya di depan gerbang SMA Ganesha, Maxime melepas seatbealt dan mendekat ke arah Milan hanya untuk memberi cium*n sebelum Milan masuk kelas.


Milan mendorong tubuh Maxime ketika merasa cium*n nya sudah terlalu lama.


"Maxime aku harus ke kelas ..."


"Semangat sekali, biasanya juga mau bolos huh," sahut Maxime seraya tersenyum dan mengusap pipi Milan.


"Aku rajin salah, aku bolos salah juga." Milan mencebikkan bibirnya membuat Maxime terkekeh.


"Kau harus rajin sebentar lagi ujian nasional hm ..."


Milan mengangguk. Maxime mencium punggung tangan Milan. "Aku mencintaimu ..."


"Aku juga mencintaimu ..."


"Aku masuk kelas dulu," ucap Milan yang di jawab anggukan dari Maxime.


Milan pun membuka pintu mobilnya keluar meninggalkan Maxime yang hanya bisa menatap punggung gadis itu seraya tersenyum. Pria itu kembali melihat gelang yang ia pakai di tangan kanan nya, mengusap gelang tersebut dengan senyum haru di wajahnya. Akhirnya, setelah susah payah dulu ia menangkap Milan yang suka kabur-kaburan sekarang Milan bisa mencintainya.


*


Di kelas Milan hanya memamerkan gelang miliknya kepada Alvin dan yang lain.


"Tuan Maxime juga memakainya Milan?" tanya Alvin.


Milan mengangguk. "Tentu saja, aku yang membuatnya."


"Bentuknya apa?" tanya Tino.


"Singa," sahut Milan membuat Aken melebarkan mata seraya menelan saliva nya susah payah.


"Si-singa?" tanya Aken terbata.


Faiz menepuk pundak Aken. "Jangan pingsan lagi!! Tuan singa tidak ada di sini!!"


"Tidak akan pingsan, paling hanya pipis di celana lagi," ledek Alvin membuat semuanya tergelak tak bisa menahan tawa. Aken hanya berdecak sebal.


"Milan aku benar-benar bersyukur bisa keluar dari mansion neraka itu," ucap Faiz seraya menggedikan bahu nya takut ketika membayangkan suasana mansion Maxime lagi.


"Ya, Milan ... kalau kita mati kau harus tanggung jawab!" sambung Aken.


"Kalian tidak akan mati, kalian hanya menjadi mainan uncle Keenan dan yang lain saja ..." sahut Milan.


"Mainan darimana, bertemu dengan mereka saja membuat senam jantung!" sahut Tino.


"Ya, jantungku terdengar deg deg deg begitu ..." sambung Aken.


"Kau pasti pipis di celana karena jantungmu deg deg deg ya?" ledek Alvin lagi.


"Kalau tau, tidak perlu tanya!"


Faiz, Tino dan Alvin tertawa dengan jawaban Aken. Milan sendiri hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala.


Bersambung