
Gabriel merayakan pembukaan cabang perusahaan barunya dengan mengundang beberapa pengusaha terkenal, termasuk keluarga De Willson group.
Daniel juga termasuk salah satu rekan kerjanya, ia datang bersama Tessa, Maxime bersama Milan dan Arsen menggandeng Miwa. Acara tersebut berada di mansion Gabriel.
"Aku tidak pede masuk ke acara seperti ini," ucap Milan pelan.
"Kenapa sayang? kau sangat cantik malam ini," ucap Maxime dengan tersenyum mengusap tangan Milan yang menggandeng tangannya.
Kemudian mereka semua masuk ke dalam lift menuju lantai dua, tempat pesta berada.
"Hei De Willson family ..." ucap Gabriel datang menghampiri Maxime dan yang lain. Mereka bersalaman satu sama lain.
"Selamat untuk pembukaan cabang barumu," ucap Maxime.
"Selamat, kau sangat bekerja keras," ucap Arsen.
"Selamat Gabriel, semoga kita tetap menjadi rekan bisnis," ucap Daniel.
"Terimakasih ... kalian benar-benar tamu berhargaku malam ini ..."
"Nikmati acara malam ini. Malam ini kalian boleh makan sepuasnya ..."
"Kau berkata seperti aku tidak mampu membeli semua makanan ini," ucap Maxime membuat mereka kemudian tertawa.
"Baiklah, aku kesana dulu," ucap Gabriel pergi menyambut tamu yang lain.
Miwa, Milan dan Tessa berkumpul dengan memegang segelas minuman di tangannya masing-masing, sementara para suami sedang mengobrol dengan rekan bisnis yang lain.
"Baru kali ini ada acara pesta di mansion semeriah ini, aku pikir acara meriah hanya di rayakan di hotel atau gedung," ucap Milan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang di hias begitu elegan.
Pemain piano, pemain biola, penyanyi, terlihat bergantian memberikan penampilan terbaik mereka.
"Ini sudah biasa Milan," ucap Miwa.
"Acara seperti ini sangat membosankan, aku lebih suka melukis," ucap Tessa.
"Ya, tapi kalau tidak ikut ke sini, kau mau Daniel selingkuh. Lihat, perempuan banyak sekali di sini ..." ucap Miwa.
Milan menatap perempuan di ruangan itu, gayanya sangat elegan, mereka CEO perempuan yang hebat, bahkan datang ke pesta Gabriel tanpa pria di sampingnya.
"Perempuan seperti mereka pasti sulit di dekati, mereka sudah kaya tanpa laki-laki," ucap Milan.
"Ya, seandainya aku mengerti bisnis, mungkin aku akan seperti mereka. Tapi sayangnya, aku lebih suka melukis," sahut Tessa.
Kemudian seorang MC membuat mereka hening tiba-tiba dengan ucapannya.
"Selamat malam semua ..."
"Malam ..." sahut mereka semua.
"Malam ini, malam yang sangat menyenangkan bagi kita semua. Terimakasih untuk para tamu yang sudah hadir ... saya di sini akan menampilkan seorang gadis kecil yang akan bermain piano untuk kita semua ..."
Mereka pun terlihat saling menoleh, mempertanyakan siapa gadis itu. Milan menatap Maxime yang sedang berdiri bersama Arsen dan Daniel.
Maxime terlihat menyunggingkan senyumnya kepada Milan, membuat Milan sedikit khawatir jika gadis yang di maksud itu dirinya.
"Dan gadis itu adalah istri dari seorang pengusaha terkenal yaitu Tuan Maxime Louis De Willson ..."
Sontak tepuk tangan para tamu saling bergerumuh menatap Maxime, karena Maxime menatap istrinya, para tamu pun mengikuti arah pandang Maxime dan kini Milan yang menjadi sorot mata orang-orang di sekitarnya.
"Milan, ayo naik ke sana ..." bisik Miwa.
"A-aku ..." Milan terlihat gugup, apalagi para tamu terus menatapnya.
"Aku tidak berani," ucap Milan kepada Miwa.
"Lihat Milan, Kak Maxi menatapmu terus."
Milan menatap suaminya dan benar Maxime menatap dirinya kemudian menganggukan kepala dengan tersenyum untuk meyakinkan Milan kalau ia harus percaya diri.
Milan menghela nafas dan akhirnya berjalan ke arah MC itu yang di sampingnya ada piano berwarna putih, sangat cocok dengan gaun Milan yang berwarna putih dengan bando bunga di kepalanya.
"Silahkan Nona ..." Mc itu bergeser memberi jalan untuk Milan.
Suara alunan piano itu terdengar merdu di telinga mereka, mereka terpukau dengan penampilan Milan, para tamu seakan terhipnotis dengan musik yang terdengar lembut dan menenangkan. Maxime terlihat tersenyum menandingi istrinya, begitupula dengan Milan yang menatap Maxime dengan senyuman manisnya. Dan sedetik kemudian.
PRANGG
Sebuah peluru berhasil menembak salah satu jendela membuat semua orang sontak menjerit.
Dan kemudian tembakan bertubi-tubi kembali datang menghancurkan beberapa jendela, mereka semua langsung berlari keluar, saling menubruk satu sama lain, Maxime segera menghampiri istrinya. Begitupula dengan Arsen dan Daniel yang langsung mencari Tessa dan Miwa.
"HEI ADA APA INI, ADA APA INI ..." teriak Gabriel dengan kesal karena seseorang berani menghancurkan pestanya.
"Ayo sayang ..." Maxime menarik tangan Milan.
Mereka kembali menjerit ketika hendak keluar dari pintu dan ada dua pria berbaju hitam di balik pintu.
"Si*l!! siapa mereka!!"
Maxime menekan tombol merah di jam tangan nya, tombol itu yang menghubungkannya dengan para anak buahnya. Sebenarnya Maxime pun datang ke acara Gabriel dengan membawa beberapa anak buahnya yang sekarang berada di lantai bawah.
"DIMANA MAXIME DE WILLSON!!" teriak salah satu pria itu.
"SELAIN MAXIME DE WILLSON KELUAR DARI SINI!!"
DOR
Pria itu menembak salah satu jendela untuk membuat para tamu undangan yang lain keluar, mereka sontak menjerit dan langsung keluar melewati dua pria asing itu. Miwa dan Tessa hendak ikut keluar tapi di tahan oleh Daniel dan Arsen, karena mereka yakin. Dua pria asing itu pasti mengenali istri-istri mereka.
Milan terlihat menggenggam tangan Maxime dengan kuat dan bersembunyi di belakang tubuh pria itu.
Dan yang tersisa di ruangan itu hanya De Willson family saja sekarang.
Maxime, Arsen dan Daniel sontak langsung mengeluarkan pistol ke arah mereka berdua.
Dua pria asing itu perlahan mendekati Maxime dengan langkah yang angkuh.
"Cih! Recobra?" ucap Maxime.
"Masih berani kau datang kemari!" sambung Arsen.
"Tentu saja, nyawamu masih di sini kenapa kami harus berhenti," sahut salah satu pria itu.
Kemudian terdengar suara ledakan yang cukup keras, ledakan itu di akibatkan jatuhnya helicopter milik Recobra yang kebetulan di luar sana anak buah Maxime sedang saling menyerang satu sama lain.
Yakuza dan Antraxs datang dengan beberapa helicopternya.
Miwa, Tessa dan Milan langsung memeluk tangan suaminya karena kaget dengan suara ledakan itu.
"Dimana Tuan kalian?" tanya Maxime tanpa menurunkan pistolnya.
"Cih, kau tidak perlu tau dimana Tuan kami."
Miwa yang berada di belakang Arsen diam-diam merogoh pistol di dalam tasnya, kemudian langsung mengirim dua peluru ke kepala pria asing itu.
Mereka saling menggunakan otaknya masing-masing dalam hal ini, para suami yang mengeluarkan pistol nya untuk mengelabui dua pria asing itu agar berpikir hanya mereka yang membawa pistol.
Miwa saja berakting ketakutan di belakang Arsen tadi, padahal dirinya lah yang berperan menembak. Pistolnya berhasil di keluarkan dari tas karena terhalang tubuh Arsen.
Maxime menghela nafas kemudian tersenyum ke arah Miwa.
Hal yang tidak mereka sadari, ada helicopter lain yang sedang menyemprotkan minyak ke mansion Gabriel dari atas sana karena berencana membakar mansion itu. Dan di dalamnya ada Smith.
Smith menekan earphone di telinganya lalu berkata. "Akan lebih baik jika kita yang menang, aku tidak ingin Tuan muda mempunyai musuh ketika dewasa. Bakar mansion itu sekarang!!"
Sebuah korek api di lempar ke mansion itu oleh salah satu anak buah Recobra dan sontak api langsung menyala begitu besar. Maxime dan yang lain sedang berjalan di tangga darurat karena lift entah kenapa tiba-tiba tidak berfungsi.
Javier dan yang lain juga sedang menuju ke mansion Gabriel ketika jam tangan mereka berbunyi dan di jam tangan itu sudah ada lokasi dimana Maxime sekarang. Javier berada di dalam helicopters bersama Thomas dan Sekretaris Han.
Keenan dan para buntutnya mengendarai motor besar mereka menuju mansion Gabriel karena kebetulan mereka sedang shopping di mall dan langsung tancap gas ketika jam tangan mereka berbunyi.
Bersambung