The Devil's Touch

The Devil's Touch
#185



Setelah menyelesaikan pemakaman Felix, Rhea dan yang lain kembali ke mansion. Rhea menangis sendirian di dalam kamar dengan masih memakai pakaian hitam.


Kemudian Magma membuka pintu kamar Rhea dengan membawa kanvas. Ia baru saja selesai melukis wajah dirinya, Aberto dan Rhea.


Dengan ragu-ragu, Magma menghampiri Rhea.


"Mama ..." panggilnya.


Rhea mengacuhkan keberadaan Magma, ia menyeka air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


"Mama, aku buat lukisan kita bertiga ..." Magma memperlihatkan hasil lukisan nya.


Lagi, Rhea bahkan tidak perduli dengan hasil lukisan putranya.


"Menurut Mama, lukisanku bagus tidak? ada yang kurang tidak?"


"Maaa ..." Magma memegang paha Ibunya dengan cepat Rhea menepis tangan Magma dengan kasar sampai membuat lukisan di tangan kanan Magma terhempas ke lantai.


"BISA TIDAK KAU PERGI KE KAMARMU DULU, MAGMA!!"


"RHEA!!" Teriak Aberto dengan mata melotot menatap Rhea.


Saat Magma masuk ke kamar, Aberto menunggu di depan pintu kamar itu dan langsung masuk ketika mendengar Rhea berteriak.


Magma terlihat ketakutan akan kemarahan Ibunya sampai ia mundur beberapa langkah. Aberto berjalan mendekati mereka lalu mengambil lukisan Magma.


"Magma, kau pergi ke kamarmu dulu. Mama mu sedang tidak enak badan, jadi tidak mau di ganggu dulu. Nanti Papa ke kamarmu."


Magma mengangguk dengan wajah kecewa untuk kesekian kalinya. Karena ini bukan kali pertama Magma berusaha mencuri perhatian Ibunya. Tapi respon Rhea selalu sama, seakan tidak perduli dengan apa yang dilakukan Magma.


Ketika Magma sudah keluar dari kamar, Aberto menatap tajam istrinya.


"Dia anakmu, Rhea! anak kandungmu! hanya karena menangisi Felix, kau sampai berani membentak anakmu!!"


Rhea berteriak. "Ini salahmu, Aberto!! salahmu!! andai saja kau langsung bertindak, Felix tidak mungki mati sekarang!! Kau terlalu banyak menunda!!"


"Dia yang bod*h!! aku sudah bilang jangan gegabah, tapi dia malah nekat!!"


"Seharusnya saat kita ke Negara X, kita langsung membunuh Maxime!!"


"Kalau kita melakukannya, bukan hanya Felix yang mati. Tapi kita juga!! aku tidak mau mati karena aku masih mempunyai Magma yang harus aku jaga!! Mengertilah sedikit tentang hidup anakmu Rhea!!"


Rhea kembali terisak dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan, tangisan nya pecah mengisi ruangan kamarnya, Aberto menghela nafas panjang.


"Aku tidak punya urusan lagi dengan Maxime ..." Aberto berjalan hendak keluar dari kamar tapi ucapan Rhea menghentikan langkahnya.


"Aku mau kau balas dendam Aberto!!"


Aberto membalik menatap Rhea. "Aku tidak akan pernah melakukannya!! Magma segalanya untukku, aku ingin menjaga dia!!"


"Kalau kau ingin menajaganya, kau harus menang melawan dia!!" sahut Rhea.


Rhea beranjak dari duduknya. "Kenapa kau terlihat lemah Aberto, kau mafia tidak ada gunanya!! apa karena kau sudah tua, kau lebih banyak mengalah!!"


"Ini bukan masalah aku mafia atau bukan!! ini masalah Magma!!"


Aberto melengos begitu saja meninggalkan Rhea yang terlihat mengepalkan tangannya.


"Aku bersumpah, aku sendiri yang akan menghukum keluarga De Willson!!" gumam Rhea dengan geram.


Aberto berjalan ke kamar Magma, membuka knop pintu itu perlahan dan melihat Magma sedang duduk di ranjang dengan menundukkan kepalanya, tangannya memeluk lukisan wajah Magma, Aberto dan Rhea.


Aberto menghela nafas panjang lalu masuk ke kamar Magma dan menutup pintu kamarnya perlahan.


"Magma ..."


Aberto duduk di samping Magma.


Magma menoleh. "Iya, Papah?"


"Mana lukisanmu, Papah mau lihat."


Magma dengan ragu-ragu memberikan lukisan di dalam pelukannya. Aberto mengambil lukisan tersebut menatap hasil lukisan putranya, hatinya begitu tersentuh melihat dirinya, Rhea dan Magma.


Aberto tersenyum. "Bagus ... kau pintar sekali."


"Masih ada yang kurang, Papah."


"Apa? ini sudah bagus."


"Masih ada yang kurang, buktinya Mama tidak mau melihat hasil lukisanku."


Aberto bisa melihat, wajah datar Magma menyimpan kekecewaan yang besar atas sikap Rhea. Tidak pernah ada hal yang membuat Rhea bangga terhadap Magma.


"Mama mu hanya sedang bersedih saja, Magma. Kau bisa tunjukan lagi lukisanmu nanti."


"Tidak, Pah. Aku akan melukis yang baru saja."


Magma turun dari ranjangnya berjalan mendekati alat-alat melukid yang tersusun rapih di meja belajar.


"Magma ... istirahat saja dulu, kau bisa melukisnya lagi besok." Aberto berkata seraya mengambil pensil di tangan Magma.


"Tapi kalau besok Mama tidak ada di sini bagaimana? Mama kan suka sekali pergi."


"Papah akan bicara dengan Mama mu agar dia ada di mansion terus." Aberto mengelus kepala putranya.


Akhirnya Magma menganggukan kepalanya lalu berjalan ke atas ranjang. Aberto mengikuti dan menyelimuti tubuh Magma sebelum ia keluar dari kamar.


Ketika memegang knop pintu, Aberto sempat kembali menoleh ke arah putranya yang sudah memejamkan mata. Hatinya begitu sakit, mengingat jarang sekali Rhea memberikan perhatian kepada putranya, walaupun itu hanya perhatian kecil seperti mengapresiasi hasil lukisan Magma.


Bersambung