
Dua polisi itu pun sontak berdiri seraya menunduk. "Ma-maafkan kami, Tuan ..."
Tidak ada jawaban, selepas melayangkan tatapan permusuhan Maxime beranjak dari duduknya berjalan mengitari jeruji besi dengan beberapa pria di tahan di sana.
Ia hanya melihat wajah-wajah melas mereka yang menginginkan kebebasan. Maxime masih berjalan dengan memasukan kedua tangan nya ke saku.
"Apa kesalahan pria ini?" tanya Maxime menunjuk salah satu pria dengan dagu nya.
"Dia memperk*sa seorang gadis di bawah umur."
Maxime mengangguk-ngangguk.
"Dia?" tanya Maxime menoleh ke arah pria yang memakai kaos hitam.
"Dia mencuri uang dan ponsel mahasiswa di dekat kampusnya lalu membunuh mahasiswa tersebut, Tuan."
"Lalu si culun ini?" Maxime menatap pria yang terlihat kucel tidak terurus.
"Dia mencuri singkong di kebun tetangga."
Maxime sontak menoleh ke arah polisi dengan menaikkan satu alisnya heran. "Singkong?"
Dua polisi itu pun mengangguk.
Maxime menendang jeruji besi itu dengan kaki nya membuat semua yang di dalam terhentak kaget.
"Hei kau!! dari banyaknya barang, kenapa singkong yang kau curi?"
"A-aku ..."
"Jawab!!" ucap Maxime dengan lantang.
"Aku mencuri itu untuk makan nenek ku, hari itu aku berjualan dan tidak laku sama sekali, jadi aku terpaksa mencuri singkong di kebun tetangga, Tuan." jawab si pria itu dengan menahan tubuhnya yang gemetar ketakutan. Pria itu terlihat masih muda.
"Siapa namamu?"
"Oris, Tuan."
"Keluarkan manusia ini," pinta Maxime kepada dua polisi itu.
"Dan kau ikut denganku mulai sekarang," lanjut Maxime menoleh ke arah Oris.
Terlihat mata Oris berbinar senang membuat iri tahanan yang lain.
Sebelum pergi Maxime sempat mendelik ke arah dua polisi yang masih menunduk itu.
"Ini malam terakhir kalian menjadi polisi, aku akan mencopot jabatan kalian!!"
Dua polisi itu sontak mendongak dengan tatapan tak biasa. Kaget, sangat kaget.
Maxime pun keluar dari ruangan membuat para tahanan yang lain berteriak memanggil dirinya berharap bisa di bebaskan seperti Oris.
Dua polisi itu pun segera membebaskan Oris dan Oris segera berlari menyusul Maxime. Tak perduli dengan di copotnya jabatan mereka, karena nyawa mereka jauh lebih penting, mereka tidak mau lagi berurusan dengan mafia kejam seperti Maxime.
"Tuan ... Tuan ..."
Oris berlari menuju Maxime yang sedang menelpon seseorang, Maxime mengangkat telapak tangan nya dengan maksud meminta Oris diam.
Pria itu pun diam di samping Maxime menunggu Maxime selesai menelpon.
Setelah selesai, Maxime memasukan kembali ponselnya ke saku lalu berbalik ke arah Oris untuk berbicara masalah pekerjaan yang akan ia berikan kepada Oris.
Dan di saat bersamaan entah dari mana ada seekor katak meloncat ke arah Oris.
Oris yang sangat phobia terhadap katak pun sontak meloncat ke arah Maxime seraya menjerit seperti seorang perempuan.
Sekarang Oris berada di gendongan Maxime. Kedua mata mereka bertemu saling menatap beberapa detik sampai akhirnya.
"ASTAGA MAXI!!" teriak Peter.
BRUKH
"Auuww!!"
Maxime segera mendorong tubuh Oris karena kaget dengan suara Peter. Pria itu sudah ada di depan Maxime dan Oris dengan wajah terkejut sampai mulutnya terbuka melihat Maxime menggendong seorang pria culun. Apa Maxime sebenarnya Homo, hanya itu yang ada di pikiran Peter sekarang.
Peter berjalan mendekat dan berhenti di depan Maxime lalu meraup kedua pipi Maxime dengan tangan nya membuat bibir Maxime sedikit maju.
Peter menggeleng. "Astagaa ... jadi kau Hom-"
BUGH
Maxime memukul perut Peter membuat Peter duduk bersimpuh karena kesakitan. Kini ada dua orang yang sedang kesakitan, Oris yang mengelus-ngelus ****** nya karena terasa ngilu setelah di jatuhkan dari gendongan Maxime.
Dan Peter yang di pukul keras oleh Maxime. Setelah di setrum pria itu harus merasakan kepalan tangan Maxime, menyedihkan.
"Jangan asal bicara atau aku akan mem*nggal kepalamu!!" ucap Maxime.
"Kau juga!!" sentak Maxime kepada Oris.
"Berani sekali meloncat ke arahku!!"
"Ma-maaf Tuan ... tadi ada katak."
Dan ternyata si katak masih belum pergi, katak itu masih meloncat-loncat di sekitar Oris. Oris yang terlalu takut pun membulatkan mata lalu panik sendirian dengan menjerit seperti seorang ... banci.
Dengan sekali hentakan kaki, katak itu pun mati di injak Maxime.
Nafas Oris masih memburu apalagi melihat Maxime dengan mudah nya membunuh katak itu. Tidak ada rasa kasihan sama sekali.
"Bangunlah kalian berdua!!" sentak Maxime.
Peter dan Oris pun perlahan berdiri dengan Peter yang memegang perutnya seraya mendesis kesakitan dan Oris yang memegang ****** yang masih terasa ngilu.
"Berikan manusia ini pekerjaan di mansionku," ucap Maxime kepada Peter.
Peter menoleh ke arah Oris, meneliti penampilan Oris dari atas sampai bawah lalu mengangguk pelan walaupun sebenarnya sedikit ragu kala melihat penampilan Oris, bisa apa lelaki bertulang lunak seperti dia. Pria gemulay yang bahkan ketika menjerit suaranya melengking melebihi perempuan.
Tapi karena ini sebuah perintah, lebih baik mengiyakan saja.
"Dimana mobilmu?" tanya Maxime.
"Di dekat kedai di depan sana," sahut Peter seraya menunjuk kedai tak jauh dari mereka.
Maxime pun berjalan ke mobil di ikuti Oris di belakang sementara Peter mencoba menghubungi Arsen.
"Ada apa?" tanya Arsen sinis.
"Aku menebak kalau Maxime sepertinya Homo!"
"Jangan asal bicara atau aku akan memenggal kepalamu!!" sahut Arsen lalu mematikan panggilan itu.
Peter mendengus, jawaban Maxime dan Arsen selalu sama dan itu membuatnya jengkel.
"Lebih baik kalian ini masuk lagi ke lubang buaya itu dan keluar bersamaan seperti anak kembar saja, dari pada kembar beda rahim seperti ini," gumam Peter lalu pria itu pun berjalan menyusul Maxime dan Oris.
Peter hendak membuka pintu tapi Maxime menghalangi nya.
"Biar aku yang menyetir," ucapnya lalu masuk ke balik kemudi.
Peter menghela nafas firasatnya tidak enak ketika akan di setiri oleh Maxime.
Oris duduk sendiri di belakang. Peter memakai seatbealt nya begitu pula dengan Maxime.
Setelah selesai tanpa aba-aba Maxime langsung menginjak pedal gas dengan kecepatan maksimum.
Membuat Peter maupun Oris seakan di bawa melayang untuk pergi ke akhirat. Mereka duduk tapi seperti terbang saja, ****** nya seakan tidak menempel dengan kursi saking cepatnya mobil melaju.
Ini bukan kali pertama nyali Peter di uji oleh Maxime. Tapi untuk Oris, pria itu terbanting ke kiri dan ke kanan menabrak pintu mobil.
Bod*h nya pria itu tidak memakai seatbealt, wajar saja karena Oris mungkin tidak berpikir mobil ini akan melaju begitu cepat.
"Tuan ... Tuan ..."
BRUKH
BRAKH
Kepalanya terbentur beberapa kali kala ada tikungan tajam di depan.
"Tuan ... kau ini manusia bukan malaikat maut!! tolong jangan mengambil tugas malaikat maut untuk mengambil nyawaku!!" teriak Oris yang kini sedang ngos-ngosan di jok belakang dengan wajah pucat.
Maxime merendahkan kecepatan mobilnya lalu menatap Oris dari spion di depan. Pria itu menarik ujung bibirnya tersenyum melihat Oris yang ketakutan.
Dan di sampingnya Peter menghela nafas seraya mengusap wajahnya kasar. Hampir saja dirinya bertemu dengan Tuhan kalau saja Maxime tidak menurunkan kecepatan mobilnya.
Mobil terparkir di sebuah toko makanan. "Pergilah, aku naik taxi nanti," ucap Maxime lalu membuka seatbealt dan keluar dari mobil untuk membeli beberapa cemilan yang habis di petshop nya. Karena Milan suka sekali makan.
Bersambung