The Devil's Touch

The Devil's Touch
#41



Setelah menonton acara perkenalan Muklis alias Maxime, Arsen kembali sibuk dengan pekerjaan nya, sesekali menyesap kopi di pinggir laptop. Sampai akhirnya ponselnya berdering.


Miwa akan menjadi sekretaris pribadimu. Berikan dia tugas yang mudah selama bekerja!


Arsen menautkan kedua alisnya, lalu menyimpan kembali ponselnya dengan menghela nafas. Bukan tidak senang, terkadang Miwa ini sedikit ceroboh. Arsen tidak suka hal itu.


Sementara itu di mansion Maxime, Miwa sedang mengeluarkan beberapa baju nya, melemparnya ke ranjang membuat semua bajunya itu berserakan.


"Pakai baju yang mana ya!" gumam nya.


Ia merasa tidak ada baju yang cocok untuk bekerja di hari pertama menjadi Sekretaris kakak angkat nya itu.


"Yang ini aja kali ya." Ia memegang dress hitam. "Eh tapi seharusnya sedikit formal, ini kan untuk party."


Miwa berdesis kesal lalu melempar lagi baju itu karena belum menemukan baju yang pas menurutnya.


Tiba-tiba Ara membuka pintu kamarnya dengan secangkir teh dan cake di atas nampan.


"Miwa, kau sedang apa?" tanya nya heran seraya mengedarkan pandangan ke tumpukan baju yang berserakan di atas ranjang.


Miwa berbalik. "Aunty ... aku mau pergi bekerja hari ini," sahutnya.


"Hah? bekerja ... bekerja dimana?"


"Di perusahaan De Willson."


Ara menyimpan nampan nya di meja. "Miwa memangnya Maxi mengizinkan mu bekerja di sana?"


Miwa mengangguk. "Ya, aku menjadi sekretaris Kak Arsen. Aku bosan di sini terus, oh iya Tessa dimana, Aunty?"


"Belum keluar dari kamarnya," sahut Ara lalu duduk di ranjang Miwa dan membereskan baju-baju tersebut.


"Ah dia tidak akan bosan, banyak hal bisa dia lakukan."


"Kau bisa belajar masak juga, Miwa." ucap Ara karena Ara lebih sering memasak berdua dengan Tessa.


Miwa menaikkan kedua bahu nya. "Aku lebih suka makan."


Ara menggelengkan kepala.


*


Sebuah mobil berhenti di depan perusahaan De Willson group, supir segera keluar dari kemudi dengan tergesa-gesa mengitari mobilnya membukakan pintu untuk seorang perempuan yang kini bekerja sebagai sekretaris di perusahaan De Willson group.


Perempuan itu keluar dari mobil dengan elegan dengan kemeja putih di balut blezer hitam dan rok pendek di atas lutut. Rambutnya tertata rapih dan yang menjadi pandangan orang-orang, perempuan tersebut memakai kacamata.


Suara langkah pentofel nya berjalan ke arah lift, di sepanjang jalan dia menjadi bahan tatapan orang-orang, mereka saling berbisik untuk mencari tau siapa perempuan tersebut.


Apalagi menurut mereka penampilan nya begitu berlebihan. Rok nya benar-benar pendek dan kenapa juga harus memakai kaca mata.


Miwa Louisa De Willson, putri dari Javier De Willson yang tidak di ketahui orang-orang kini masuk ke dalam lift, tidak memperdulikan mereka yang berbisik-bisik tentang dirinya.


Ketika pintu lift terbuka ia masuk ke ruangan kakak angkatnya. Miwa mengetuk pintu ruangan.


"Masuk!" teriak Arsen dari dalam sana dengan jari-jemari dan pandangan fokus ke laptop.


Ketika pintu terbuka perlahan mata Arsen mendongak menatap pintu dan ia begitu terkejut sampai berdiri dari duduknya.


"Miwa!!" teriaknya.


"Hai kakak ..." Miwa melambai dengan senyuman.


"Kau ..." Arsen menggantung kalimatnya, matanya bergerak dari atas sampai bawah dan berhenti di rok perempuan itu.


Arsen mendesis kesal. "Miwa kau!!" pria itu melepas jas nya dan berjalan dengan langkah cepat menghampiri Miwa dan menyampirkan jas nya dari depan untuk menutupi rok pendek Miwa.


Miwa mendesis kesal dan menepis jas milik Arsen. "Ih kakak apaan sih!"


"Diam Miwa!" Arsen masih berusaha menutupi rok Miwa dengan mengikat jas di bagian bawah tubuh gadis itu tapi lagi-lagi di tepis oleh Miwa.


Perempuan itu pun berjalan duduk menyilangkan kaki di sofa, karena cara duduknya itu membuat bagian paha nya yang mulus terlihat sangat jelas.


Arsen melebarkan mata lalu melempar jas nya ke paha Miwa. "Tutupi dengan itu!" kesal Arsen lalu kembali ke meja.


Dengan menekuk wajahnya Miwa pun akhirnya menurut.


"Diam saja disitu, pesan makanan kalau mau," sahut Arsen tanpa menoleh ke arah Miwa.


"Ah masa aku di perlakukan seperti tamu. Aku kan kerja di sini!"


"Iya, itu tugas pertamamu."


"Tapi kak--"


Ucapan Miwa terpotong dengan tatapan serius dari Arsen.


"Iya-iya ... aku diam saja di sini," sahut Miwa mengalah dengan wajah cemberut.


*


Javier, Sekretaris Han, Thomas dan istri-istri mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka dengan santai nya menonton film, tertawa bersama dengan makanan penuh di atas meja.


Semakin tua hal yang mereka inginkan hanya lebih banyak waktu berkumpul bersama dari pada harus keluar dari mansion.


Kara terlihat duduk santai dan sibuk dengan ponsel nya, di atas paha nya ada toples berisi kue kering. Sesekali ia mengigit kue nya sampai mata nya melebar seketika melihat foto seorang perempuan yang tersebar di internet.


Kara seketika menarik tubuhnya duduk tegak seraya menyipitkan mata nya ke layar ponsel membuat yang lain menoleh ke arahnya.


"Kenapa sayang?" tanya Sekretaris Han.


"I-ini kan ... ini Miwa kan?" Kara memperlihatkan ponselnya ke semua orang.


Sky pun mengambil ponsel Kara dan melihat foto tersebut.


"Sayang, ini Miwa." Sky berujar kepada Javier yang berada di sampingnya.


Javier menepuk jidatnya. "Anak itu astaga!" gumam nya.


"G*la, anakmu seksih sekalih!" ucap Liana dengan nada lebay nya.


"Javier!" panggil Xander yang baru saja menuruni anak tangga. Semua orang menoleh ke arah Xander.


"Apa kau sudah melihat foto Miwa di perusahaan?" tanya Xander yang di jawab anggukan dari Javier.


"Anak itu ... kenapa berpakaian seperti itu di perusahaan, kau tidak melarang nya Javier!!" kesal Xander melihat foto cucu nya tersebar di internet.


"Daddy, kita tidak tau kalau Miwa berpenampilan seperti itu," sahut Sky.


Xander pun berjalan dan duduk di samping Thomas seraya berkata. "Anak itu ... aku curiga dia sedang menggoda lelaki di perusahaan!"


"Hey, jangan asal bicara Ayah mertua!" kesal Javier tak terima.


"Dia kan lebih dekat dengan Maxime, suruh Maxime menegurnya," ambung Thomas.


"Dia ada di perusahaan sekarang dan hanya ada Arsen di sana, aku akan menelpon Arsen saja." Sekretaris Han mengambil ponselnya di meja lalu mencari nama Arsen di kontak panggilan.


Tidak perduli jika Miwa berpakaian seperti itu di pesta, semua orang tidak akan sibuk menegur. Tapi sekarang mereka terpaksa harus menegur Miwa karena tidak mau ada rumor jelek tentang perusahaan De Willson group.


"Arsen."


"Iya dad?" sahut Arsen di kantor.


"Miwa bersamamu, kan?"


Arsen melirik Miwa yang sedang menghias kuku nya dengan kutek di sofa.


"Iya, Dad. Dia di sini."


"Bisa kau suruh dia memanjangkan rok nya," ucap Sekretaris Han tanpa basa-basi.


"Sudah, tidak perlu di besar-besarkan masalah ini. Hanya rok, Dad. Lagi pula dia ada di ruanganku, tidak kemana-mana."


"Tapi fotonya sudah tersebar di internet!"


"Aku akan menyuruh orang untuk menghapus semua fotonya, oke Dad? Bye."


Arsen mematika telpon nya sepihak dan menggelengkan kepala menatap Miwa. Masalah rok saja keluarga besar nya sampai harus ikut campur seperti ini.


Bersambung