
Pagi hari Maxime, Arsen, Miwa dan Milan sarapan di meja makan. Maxime dan Arsen harus pergi ke kantor sementara Milan dan Miwa pergi ke sekolah.
"Bagaimana rasanya menjadi guru BK?" tanya Maxime.
"Seru," sahut Miwa seraya mengoleskan selai ke rotinya.
"Dia lebih baik jadi sekretaris lagi saja," sambung Arsen.
Miwa langsung mendongak menatap Maxime, terlihat raut wajah tak suka Maxime memandang Arsen.
"Kau mau berduaan dengan adikku, iya kan?"
"Iya tentu saja," sahut Arsen menyunggingkan senyumnya.
Maxime berdecak hendak kembali memotong steak di piring tapi matanya mendapati mata Milan yang terlihat kebingungan. Maxime tahu mungkin Milan bingung dengan ucapan Arsen barusan.
"Makan sayang," titah Maxime. Milan mengerjap lalu mengangguk dan kembali dengan sarapan nya. Maxime tidak mau terlalu banyak menjelaskan biarkan Miwa saja yang menjelaskan nya kepada Milan nanti.
Ketika mereka sarapan terdengar beberapa mobil parkir di depan, mereka menoleh ke arah pintu. Javier dan yang lain keluar dari mobil.
Tessa juga terlihat keluar dari mobil di bantu oleh Ayahnya, Thomas.
Mereka masuk ke mansion seraya mengucapkan selamat pagi kepada Maxime dan yang lain.
"Pagi ..." sahut Maxime dan yang lain.
Mereka semua berjalan menghampiri meja makan. Javier, Sky, Kara, Sekretaris Han, Liana, Thomas dan Tessa duduk di bergabung bersama mereka. Meja makan panjang itu sangat cukup untuk sarapan keluarga besar untuk mereka semua.
"Aku tidak tau kalau Tessa akan pulang sepagi ini dari Rumah Sakit," ucap Miwa.
"Aku bosan di Rumah Sakit," sahut Tessa lalu matanya tertuju kepada Milan yang duduk di samping Maxime.
"Ya, anak ini memaksa untuk cepat pulang," sambung Liana.
"Sudah kita sambil makan saja." Javier berkata seraya mengambil sandwich di meja.
Mereka pun mulai mengambil hidangan yang di inginkan di meja makan. Milan hanya menunduk seraya memotong steak miliknya, begitupula dengan Maxime yang sibuk sendiri dengan sarapan nya.
"Miwa kau pergi ke sekolah lagi?" tanya Tessa.
Miwa mendongak. "Iya. Aku pergi bersama Milan," sahutnya dengan menoleh ke arah Milan.
"Oh ..."
Yang lain terlihat bingung karena memang tidak tahu jika Miwa menjadi guru BK di sekolah Milan.
"Miwa kenapa kau pergi ke sekolah? bukan nya kau menjadi sekretaris Arsen?" tanya Sky.
"Tidak Mom, aku sekarang jadi guru BK."
"Apa?" Sky, Liana dan Kara sontak menoleh ke arah Miwa. Javier, Thomas dan Sekretaris Han yang kaget hanya bisa melebarkan mata menatap Miwa.
"Kenapa?" tanya Miwa menoleh mereka satu persatu.
"Sejak kapan kau jadi guru BK dan siapa yang memindahkan mu ke sekolah?" tanya Javier.
"Belum lama, Kak Maxi yang memindahkan ku kesana." Miwa menoleh ke arah Maxime yang terlihat santai sarapan.
"Kau langganan keluar masuk ruang BK waktu sekolah dan sekarang kau malah jadi guru BK." Sekretaris Han berdecak seraya menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Jangan tanyakan aku, tanyakan saja Kak Maxi. Kak Maxi yang memberikan ku pekerjaan ini."
Sekarang Maxime menjadi bahan tatapan semua orang tapi pria itu malah terlihat cuek dan tidak perduli.
"Kenapa kau menyuruh Miwa jadi guru BK Maxi?" tanya Sky.
"Itu lebih baik dari pada menjadi guru matematika, satu sekolah bisa bod*h karena Miwa," sahut Maxime acuh tak acuh.
Miwa hanya mengerucutkan bibirnya walaupun ucapan Maxime ada benarnya juga.
"Maxime takut Milan bersama lelaki lain di sekolah, jadi dia menyuruh Miwa menjadi satpam nya Milan," sambung Arsen membuat Maxime yang sedang memotong steak berhenti seketika.
Maxime mendongak menatap Arsen. "Banyak bicara kau ini!"
Arsen tak menjawab, pria itu hanya tersenyum lalu kembali dengan sarapan nya.
Javier dan yang lain hanya menggeleng, Milan terlihat menunduk malu sementara Tessa terlihat menatap Maxime dan Milan bergantian dengan tatapan nanar.
*
Selesai sarapan mereka berempat keluar dari mansion. Maxime, Milan, Arsen dan Miwa berada di teras depan kini.
"Nanti ada kerja kelompok kan di sini?" tanya Maxime mengelus kepala Milan.
Milan mengangguk. "Iya, tapi sebaiknya aku kerja kelompok di sekolah saja."
"Tidak sayang, di sini saja. Memangnya kalau di sini temanmu tidak mau?"
"Bukan begitu, aku tidak enak masih ada Mommy Sky dan yang lain di sini," sahut Sky.
"Tidak apa-apa, mereka tidak akan melarang. Nanti siang aku juga pulang ke mansion hm."
Milan dengan terpaksa hanya mengangguk, dia tidak bisa melawan perkataan Maxime.
Sementara itu Arsen sedang menyisir rambut Miwa dengan tangan nya.
"Sudah?" tanya Miwa.
"Sebentar ..."
Maxime menoleh lalu berdecak. "Cepat lah Ar!!"
"Sudah ..."
Miwa tersenyum. Arsen menoleh kepada Maxime seraya menggeleng kecil lalu melengos masuk ke dalam mobil. Padahal tadi Maxime lah yang membuatnya lama berangkat karena banyak mengobrol dengan Milan.
Arsen masuk ke balik kemudi dan Maxime duduk di sampingnya.
Arsen membuka jendela mobil nya. "Hati-hati," ucapnya melambaikan tangan kepada Miwa.
Miwa tersenyum membalas lambaian tangan Arsen. "Oke ..."
Sebelum menutup jendela Arsen melambaikan tangan kepada Milan yang di sambut deheman keras dari Maxime.
"Berani sekali melambaikan tangan kepada Milan!!"
Arsen tidak menjawab, ia segera menyalakan mesin dan mobil pun melaju keluar dari halaman mansion.
"Ayo ..." Miwa dan Milan berjalan ke mobilnya tapi tiba-tiba Tessa keluar dari mansion memanggil mereka.
"Miwa ... Milan ..." Keduanya membalik menatap Tessa yang sedang berdiri dengan senyuman tipis.
"Loh, kenapa kau keluar? istirahat saja Tessa!" ucap Miwa berjalan menghampiri Tessa.
Tessa menggeleng. "Aku bosan istirahat terus ..."
"Terus kau mau kemana?" tanya Miwa.
Milan di belakang hanya mendengarkan mereka mengobrol saja.
"Aku hanya ingin bicara sebentar, sudah lama kita tidak keluar bareng lagi. Bagaimana kalau nanti kita makan malam di luar," ucap Tessa lalu menoleh ke arah Milan. "Bersama Milan ..."
Miwa menoleh ke arah Milan yang sedang menaikkan kedua alisnya. Mungkin gadis itu kebingungan kenapa Tessa tiba-tiba mengajaknya makan bersama.
"Bagaimana Milan? mau ya?" tanya Tessa.
"Eumm ..." Milan menggantung kalimatnya sesaat. "A-aku harus izin dulu dengan Maxime ..." lanjut Milan membuat Tessa tersenyum getir, keluar saja harus izin segala.
Miwa kembali menoleh kepada Tessa. "Tes, kau baru saja keluar dari Rumah Sakit, lebih baik istirahat saja. Kita bisa keluar nanti kalau kau sudah sembuh ..."
"Aku baik-baik saja Miwa, jangan khawatirkan aku. Aku ini hanya demam biasa saja, bukan penyakit parah."
Miwa menghela nafas mengalah. "Yasudah kalau begitu, nanti kita makan malam bersama ..."
Tessa tersenyum seraya menganggu kan kepala.
"Yasudah aku pergi dulu bersama Milan. Bye Tessa ..."
Miwa melambaikan tangan kepada Tessa. Tessa tersenyum seraya membalas lambaian tangan dari Miwa.
Mobil pun melaju keluar dari mansion menuju SMA Ganesha.
Bersambung