The Devil's Touch

The Devil's Touch
#162



Hari perlahan berlalu, satu bulan kemudian Maxime semakin lengket bersama Milan, begitupula dengan Arsen dan Miwa.


Sementara Daniel selama satu bulan itu ia pakai untuk menulis novel baru dan setiap hari berkunjung ke apartemen Tessa. Tessa sering kali mengusir pria itu tapi Daniel tetap berusaha masuk ke apart Tessa sampai akhirnya perempuan itu mengalah.


Mereka terkadang pergi berdua hanya untuk jalan-jalan, makan bersama di luar atau shopping.


Dan lagi, Daniel menyewa apartemen yang tak jauh dari apartemen Tessa. Kedua orang tua Tessa sudah tahu keberadaan dirinya, ia hanya mengatakan ingin mencoba tinggal sendirian tanpa bantuan kedua kakak laki-laki nya.


Begitupula dengan Maxime dan Arsen, mereka tidak terlalu khawatir karena ada Daniel yang menjaga Tessa di Negara M.


Hari ini, hari dimana ujian kelulusan untuk Milan berlangsung. Maxime keluar dari kamar mandi dan mendapati gadis itu masih saja tertidur padahal ini hari penting untuk Milan.


Maxime menghela nafas, menggelengkan kepalanya kecil lalu berjalan naik ke ranjang. Pria itu tidak berteriak untuk membangunkan Milan. Tapi malah memberi kecupan bertubi-tubi di pipi Milan, ia juga mengigit kecil pipi Milan dan tak lupa mencubit gemas gadis itu.


"Padahal pertama bertemu denganmu pipimu tidak sebesar ini," ucap Maxime terkekeh seraya menekan-nekan pipi Milan dengan telunjuknya.


Tidak ada gerakan sedikit pun dari Milan yang itu artinya gadis itu masih terlelap tidur.


"Sayang bangun, hari ini ujian." Maxime berkata seraya memainkan pipi Milan.


Pandangan Maxime turun ke kancing piyama Milan, dengan tersenyum miring pria itu membuka satu-persatu kancing baju Milan sampai di kancing terakhir. Lalu ia berbisik.


"Kalau kau tidak bangun aku akan memperk*sa mu lagi ..."


Sayangnya cara Maxime membangunkan Milan tetap saja gagal, gadis itu hanya mengerang sesaat lalu kembali tidur seakan tidak perduli dengan dirinya yang setengah telanj*ng.


Maxime mendengus. "Kau benar-benar tidak bisa jauh dariku, bagaimana kalau ada yang memperk*sa mu dalam keadaan tidur!" gumam Maxime.


Alhasil pria itu mengangkat tubuh Milan dan membawa nya ke kamar mandi.


"Maxime ..." suara serak khas bangun tidur nya pun akhirnya keluar.


"Bangun."


Milan menggeleng dan kedua tangan nya malah bergelayut manja di leher Maxime dengan mata yang masih tertutup.


Maxime menghela nafas lalu menidurkan Milan di bath up kamar mandi. Maxime mengambil shower dan menyemprot tubuh Milan dengan air shower.


Milan pun yang terkejut sontak menutupi wajahnya. "Maximeeee ..."


Maxime tertawa. "Mau bangun atau mau tenggelam di bath up hm?"


"Hentikan!!!"


Maxime pun dengan tersenyum mematikan shower nya, Milan mengusap wajahnya kasar lalu melihat baju tidurnya yang sudah berantakan tidak terkancing sama sekali.


Matanya membulat sempurna lalu ia menoleh ke arah pelaku, siapa lagi kalau bukan Maxime yang kini tersenyum tanpa dosa.


"Maxime kau--"


"Salahmu, tidak mau bangun. Mandi lah, aku akan menyiapkan bajumu dulu."


Pria itu pun keluar dari kamar mandi meninggalkan Milan yang berteriak.


"MANDILAH DULU SAYANG!"


Milan mendengus dan akhirnya melakukan ritual mandi pagi hari nya itu.


Tiga puluh menit kemudian Milan keluar dari kamar mandi, ini terhitung cepat karena biasanya gadis itu mandi hampir satu jam. Kalau bukan Maxime yang terus menggedor pintu kamar mandi, Milan pasti keluar satu jam kemudian.


Maxime yang duduk di sofa mendengar pintu kamar mandi terbuka akhirnya beranjak dari duduknya mendekati Milan dan menarik tali bathrobe nya, Milan yang terkejut sontak memeluk tubuhnya sendiri.


"Kau mau apa?"


"Mandi mu sangat lama, jangan sampai pakai seragam juga lama. Sudah diam!" Maxime dengan cepat membuka bathrobe gadis itu walaupun awalnya sedikit kesusahan karena harus beberapa kali menepis tangan Milan.


Sekarang gadis itu telanj*ng tanpa satu helai benang pun, Milan akhirnya berjongkok hanya untuk menutupi tubuhnya.


Maxime mengambil seragam di lemari, tak lupa dengan pakaian dal*m Milan.


"Maxime aku bisa pakai sendiri."


"Sini aku pakaian, pakai ini dulu." Ia menunjukan celana dal*m Milan.


Milan membulatkan mata lalu mengulurkan tangan nya masih dalam keadaan jongkok. "Berikan kepadaku ..."


Maxime tersenyum miring. "Biar aku yang pakaikan saja bagaimana?"


Milan dengan cepat menggelengkan kepala nya. "Tidak, tidak perlu. Aku bisa sendiri, berikan."


Bukannya memberikan celana itu kepada Milan tapi Maxime malah mendekati gadis itu dan ikut berjongkok di depan Milan.


Mata Maxime terus bermain-main di tubuh Milan, menatap semua bagian tubuh gadis itu. Milan yang sadar Maxime memandangi tubuhnya dengan tatapan aneh segera menutup mata Maxime dengan kedua tangan nya.


"Menyebalkan sekali, kenapa melihatku seperti itu!!"


Maxime malah tertawa mendengar kekesalan Milan, satu tangan Milan masih menutupi mata Maxime sementara tangan yang lain berusaha meraih selimut di ranjang, ketika berhasil ia segera menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Percuma di tutupi selimut, aku sudah melihat tubuhmu dari dulu." Maxime berkata setelah Milan melepaskan tangan nya dari mata pria itu.


"Jangan di bahas!" Milan pun berdiri dan berjalan mendekati lemari dengan selimut tebal. Ia sedikit kesusahan berjalan karena selimutnya.


Maxime mengikuti Milan dan berdiri di belakang gadis itu. "Kalau tidak salah sebesar ini punya mu." Maxime mengangkat tangan nya seolah-olah sedang mengukur ukuran buah d*da Milan.


Milan membalik dan terkejut dengan tangan Maxime, pria itu malah tersenyum miring.


"Maxime jangan sampai aku menend*ng itu mu lagi!" Milan menatap harta berharga milik Maxime yang pernah ia tendang, sontak senyuman di wajah Maxime memudar.


Tidak, jangan sampai yang di bawah sana ditendang lagi karena itu benar-benar menyakitkan.


"Kau jahat sayang, yasudah aku tunggu di bawah. Jangan lama hm?"


Maxime keluar dari kamar setelah mengecup kening Milan.


Bersambung