
Dua puluh menit kemudian Tessa menyeret sebuah koper besar menuruni anak tangga, Maxime, Arsen dan Miwa menoleh ke arah tangga. Maxime beranjak menghampiri Tessa.
"Kau mau kemana?"
Tesaa mengacuhkan Maxime berjalan melewati pria itu, tapi Maxime segera menarik tangan Tessa. Arsen dan Miwa pun segera menghampiri mereka.
"Lepaskan!" Tessa menepis kasar tangan Maxime.
"Tessa--"
"Aku mau pergi," potong Tessa.
"Kau mau kemana?" Tanya Arsen.
"Tessa jangan pergi, kita selesaikan masalah ini di sini oke," sambung Miwa.
Tessa dengan nafas memburu kesal mendelik ke arah Arsen dan Miwa bergantian.
"Aku sudah tidak mau tinggal di sini!! Semenjak kehadiran Milan dan semenjak Miwa sudah bersama dengan Kak Arsen kalian menganggap ku tidak ada di mansion ini!! jadi untuk apa aku tinggal di sini!!"
"Tessa, kenapa kau bilang seperti itu. Kau merasa di abaikan oleh kami? kami minta maaf kalau kau merasakan seperti itu!!" ucap Miwa.
Tessa tidak menjawab ia kembali hendak berjalan tapi langkahnya di hadang Arsen dari depan.
"Biarkan saja, mungkin dia butuh waktu," ucap Maxime.
"Kau mau pergi ke mansion Daddy Javier?" tanya Arsen.
"Bukan urusan kalian kemanapun aku mau pergi!" Tessa menabrak tubuh Arsen pergi meninggalkan mansion.
Maxime menghela nafas kasar kemudian Ara datang dari arah dapur.
"Kenapa Tessa membawa koper?" tanya nya.
Yang lain tidak menjawab hanya menggelengkan kepala membuat Ara bingung.
*
Miwa masuk ke kamarnya di ikuti Arsen ia duduk di sisi ranjang. Arsen berdiri di dekat Miwa seraya mengelus kepala nya.
"Tak apa, biarkan saja. Tessa butuh waktu ..."
Miwa mendongak. "Kalau dia tidak mau kembali ke sini bagaimana?"
"Dia pasti kembali ..."
Miwa hanya kembali menunduk seraya menghela nafas. Arsen duduk di sampingnya lalu menarik kepala Miwa masuk ke dalam pelukan nya.
"Bagaimana kalau Daddy Thomas dan yang lain tau?"
"Mereka harus tau, memangnya kita tidak akan menikah?
Miwa mendongak lalu tersenyum, Arsen membalas senyuman Miwa lalu menci*m kening perempuan itu.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Semua akan baik-baik saja ..." Miwa mengangguk.
*
Sementara itu Tessa berada di dalam Taxi, ia hendak pergi ke bandara, Tessa memilih tinggal di Negara M sementara waktu tanpa sepengatahuan yang lain.
Jika terus berada di mansion, Tessa takut dirinya akan kembali terobsesi memiliki Maxime. Tessa sadar, ucapan Daniel di dalam novel yang pria itu tulis sangat benar.
Tessa menghela nafas panjang seraya menatap jalanan di luar sana, mata nya berkaca-kaca. Sakit, itu sudah pasti.
Merasa di bohongi dan tidak di anggap oleh Maxime, Arsen dan Miwa.
Tadi Tessa mengirim pesan kepada Daniel dan mengatakan dirinya akan pergi ke Negara M. Daniel masih belum membalas sampai sekarang.
Sesampainya di bandara, ia keluar dan mengambil kopernya di bagasi di bantu supir taxi tersebut.
"Terimakasih Nona ..." Supir Taxi itu kembali masuk ke mobilnya, Tessa menghela nafas menatap kepergian Taxi tersebut seraya meremas gagang koper di tangan nya.
Ketika ia berbalik, Tessa terlonjak kaget tiba-tiba Daniel sudah berdiri di belakang nya entah dari kapan.
"Maaf tidak membalas pesanmu ..." ucap Daniel.
Pria itu hanya membaca pesan dari Tessa tadi, Daniel langsung pergi ke bandara, Daniel hampir saja menabrak beberapa para pengguna jalan yang melintas karena melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Daniel menatap koper di tangan Tessa. "Kau benar-benar mau pergi?"
Tessa hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Apa Maxime tau?" tanya Daniel.
"Tidak, kalau kau mau memberitau mereka tunggu sampai aku sudah di Negara M."
"Bagaimana dengan orang tua mu?" tanya Daniel kini.
"Mereka juga tidak tau."
"Tessa kau tidak bisa pergi sendiri, aku akan menemani mu di sana ..."
Tessa berdecak. "Aku ini bukan anak kecil lagi Daniel!"
"Tetap saja, orang yang baru patah hati biasanya suka melakukan hal-hal di luar nalar. Aku tidak mau itu---"
BUGH
"Akkhh!!"
Tessa menendang lutut Daniel membuat pria itu merintis kesakitan.
"Aku ini masih waras, apa kau berpikir aku ke sana untuk bunuh diri? aku kesana hanya ingin menjauh dari Kak Maxi dan yang lain untuk sementara waktu ..." Tessa menggantung kalimatnya lalu menghela nafas.
"Aku juga mau menjauh dari Milan ... setidaknya aku pergi untuk mengumpulkan keberanian agar aku bisa meminta maaf kepada Milan. Aku memojokan masalah bakat kepada dia. Dan lagi ... aku melempar Miwa dengan asbak tadi karena amarahku."
Daniel melebarkan matanya. "Apa?! kau melempar Miwa dengan asbak? lalu ..."
"Miwa baik-baik saja," potong Tessa. "Kau jangan terlalu khawatir dengan dia, kau hanya pria yang menyedihkan!"
"Ah iya ... aku pria yang menyedihkan ... sama sepertimu, wanita menyedihkan," ledek Daniel seraya menarik ujung bibirnya tersenyum.
BUGH
Tessa menendang lagi lutut Daniel membuat Daniel mengumpat kesal. "****!!"
Tessa pun berjalan melewati Daniel. "Tessa tunggu ..." teriak Daniel.
Bersambung