The Devil's Touch

The Devil's Touch
#137



Laptop di atas meja memutar cctv di SMA Ganesha, Maxime dan Arsen menatap lekat bagaimana cctv itu memutar Milan yang sedang mengejar-ngejar murid lelaki karena berani mengambil buku pelajaran nya, Maxime mengepalkan tangan melihat itu, saat dirinya menjadi satpam di sekolah jarang sekali ia melihat Milan saling mengejar dengan murid lelaki tapi kenapa sekarang. Ah ... menyebalkan.


Begitupula ketika cctv memperlihatkan dimana Miwa memukul bok*ng murid lelaki dengan gulungan buku di tangan nya, murid lelaki itu keluar dari kelas di ikuti Miwa dari belakang dengan sesekali memukul bok*ng mereka.


Arsen menghela nafas kasar melihat itu, ia berharap Miwa menjadi sekretaris nya lagi saja dari pada guru BK seperti itu.


Dua pria itu grasak-grusuk tidak jelas di kursinya beberapa kali ganti posisi duduk hanya karena merasa panas melihat Milan dan Miwa bersama para murid lelaki.


"Max, sudahlah keluarkan Miwa dari sekolah!" kesal Arsen.


"Iya, nanti setelah Milan lulus," sahut Maxime tanpa mengalihkan pandangan nya dari cctv yang kini sedang memutar adegan dimana Milan sedang bermain basket di lapangan dan ada beberapa murid lelaki yang iseng mengambil bola basket dari tangan Milan.


Maxime berdecak sebal. Arsen menyambar gelas di meja meminumnya sekali tegukan dengan kasar kala melihat Miwa berada di ruangan bersama empat murid lelaki.


Sepertinya ke empat murid lelaki itu sedang ada masalah dan Miwa lah yang bertugas membantu mereka menyelesaikan masalahnya.


Tapi, apa harus dengan berfoto. Empat murid lelaki itu malah berfoto bersama dengan Miwa, membuat Arsen geram bukan main.


"Apa-apaan mereka itu!!" kesal Maxime melihat para murid lelaki tak henti merebut bola basket dari tangan Milan.


"Mereka pikir Miwa itu selebriti sampai harus minta foto segala!" kesal Arsen melihat ke empat murid lelaki yang tak henti berfoto dengan Miwa.


"Haruskah aku menghapus ekstrakurikuler basket di sekolah itu!" ucap Maxime dengan geram.


"Haruskah aku melarang para murid membawa ponsel mereka ke sekolah agar mereka tidak bisa berfoto!" sambung Arsen yang juga di buat geram oleh tingkah ke empat murid lelaki tersebut.


Kekesalan mereka di akhiri dengan hembusan nafas lega dari keduanya kala melihat para murid masuk ke kelas masing-masing. Mungkin bel masuk sudah berbunyi. Milan yang berada di lapang berlari ke kelasnya, empat murid lelaki yang berada di ruangan Miwa pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut.


*


Siang ini geng ikan lele. Alvin, Faiz, Tino dan Aken berada di mobil bersama Miwa dan Milan.


Mereka tak henti-hentinya memuji mobil mewah Miwa, meraba-raba apa saja yang ada di dalam mobil.


"Wihhh ... Miss mobilnya bagus sekali," puji Aken memainkan AC mobil.


Miwa hanya tersenyum dari kaca spion depan melihat mereka semua.


"Miss harganya pasti mahal ya?" tanya Faiz.


"Ya, lumayan lah," sahut Miwa membuat Milan menggulum senyum di wajahnya seraya menggelengkan kepala.


"Oh iya, kalian tadi bilang apa ke teman-teman kalian?" tanya Miwa. Karena sebelum mereka pulang sekolah di kelas begitu ribut dan selalu menyebut nama Miss Miwa.


"Hehehe ... kami memberitahu mereka kalau kami di undang ke rumah Miss Miwa," sahut Alvin seraya menyengir.


"Lalu?" tanya Miwa.


"Mereka ingin ikut katanya tapi kami bilang yang mengundang Tuan Maxime jadi mereka mengurungkan niatnya Miss, karena takut oleh Tuan Maxime ..."


Alvin dan yang lain bukan tidak tahu soal video yang hari itu beredar tentang Milan dan Maxime. Mereka tahu berita besar hari itu, tapi mereka tidak seperti teman Milan yang lain. Tidak mau ikut campur dan tidak perduli soal itu, mereka hanya sedikit kaget saja Milan bisa berhubungan dengan seorang mafia kejam di negaranya.


Sekarang saja mereka di undang kerja kelompok di mansion dengan rayuan bahwa Maxime tidak ada di mansion, pria itu ada di kantor.


Milan terpaksa berbohong agar mereka mau datang ke mansion, itu lebih baik dari pada gagal kerja kelompok.


Mobil terparkir di halaman, mereka semua keluar dari mobil dengan Alvin dan yang lain tak henti-hentinya memuji dengan menengadah menatap besarnya mansion milik Maxime.


Mereka berdecak kagum seraya menggelengkan kepala sementara Milan dan Miwa hanya tersenyum.


"Ayo anak-anak masuk," ajak Miwa.


Mereka membuntuti Milan dan Miwa berjalan di belakang, langkahnya ragu-ragu masuk ke dalam mansion yang luas itu.


"Buka saja, ini rumah besar takutnya kotor," sahut Faiz berbisik.


"Tapi Milan saja tidak buka sepatu," sambung Tino menunjuk Milan dengan dagu nya.


"Sudah pakai saja," suruh Aken.


"Kalau tiba-tiba ada Tuan Maxime bagaimana?" tanya Alvin. "Bisa-bisa kita mati tertembak karena mengotori rumahnya."


"Kenapa kalian tidak masuk?" tanya Milan berbalik menatap mereka yang hanya berdiri di pintu masuk.


Miwa pun ikut berbalik. "Ayo masuk anak-anak ..."


"Siapa mereka?" suara Javier menyeruak dari dalam mansion, berjalan menuruni anak tangga menghampiri mereka semua.


Alvin dan yang lain melebarkan mata kala melihat sosok yang hanya mereka tahu dan lihat di tv atau majalah kini berada di depan mereka. Tuan Javier De Willson, pemimpin Yakuza ketiga itu berjalan mendekati mereka dengan perawakan nya yang dingin.


Usianya memang tak muda lagi, tapi semakin tua malah semakin menyeramkan menurut mereka.


Tubuh Aken bergetar hebat, kakinya gemetar. Ia menelan Saliva nya susah payah. Kini Javier berdiri tepat di hadapan mereka.


Mata ke empat lelaki itu tak berkedip sama sekali melihat mata Javier yang tajam dan dingin menatap mereka.


"Siapa kalian?" tanya nya datar dengan kedua tangan bersedekap dada. Milan dan Miwa yang berdiri di belakang Javier hanya saling menoleh.


"Ka-kami ..." Alvin tak berani melanjutkan ucapan nya.


"Mau apa datang ke sini?" tanya Javier lagi memotong pembicaraan mereka yang belum selesai.


Tino menelan Saliva nya kasar seraya berusaha menghela nafas perlahan.


"Tu-tuan kami ..."


Begitupula dengan Tino, mulutnya langsung tertutup rapat kala mata Javier yang tadi menatap Alvin kini beralih menatapn dirinya.


Sekretaris Han datang menghampiri mereka dan hal itu membuat mereka semakin terlonjak kaget.


"Siapa mereka?" tanya Sekretaris Han berdiri di samping Javier. Matanya menatap mereka dari atas sampai bawah.


Mereka tahu Sekretaris Han adalah tangan kanan Javier, sekretaris yang tidak kalah menyeramkan dengan Tuan nya.


Mobil berenti di tepat di depan teras, Maxime dan Arsen keluar dari mobil. Alvin dan yang lain menoleh, lagi-lagi mereka terkejut seraya menghela nafas.


Ia tahu Maxime adalah mantan satpam di sekolah dengan nama Pak Muklis tapi setelah sekian lama Maxime keluar dari sekolah sekarang tubuhnya kenapa menjadi berbeda, brewok di wajahnya semakin lebat dan tatapan nya berbeda dengan tatapan pak Muklis yang mereka kenal. Tatapan nya lebih dingin dan mematikan.


Dan lagi, di sampingnya Arsen. Tangan kanan Maxime kenapa menatap mereka penuh permusuhan.


"P-pak Muklis ..." ucap Aken yang suaranya perlahan menghilang lalu jatuh tak sadarkan diri.


Bagaimana tidak pingsan, mereka berempat harus bertemu Javier, Sekretaris Han, Maxime dan Arsen secara bersamaan.


"Aken ..." teriak Milan yang kaget melihat Aken tak sadarkan diri.


Sementara Javier, Sekretaris Han, Maxime dan Arsen hanya menatap datar lelaki yang terkapar di lantai itu.


Miwa menghela nafas seraya menepuk jidat nya, Aken pingsan karena merasa masuk ke kediaman malaikat maut, hanya itu yang ada di pikiran Miwa, kenapa juga Ayahnya harus keluar menghampiri mereka. Miwa sangat kesal.


Alvin dan yang lain mencoba membangunkan Aken, begitupula dengan Milan yang langsung berlari mendekati Aken. Arsen mengepalkan tangan nya, empat lelaki itu yang berada di ruangan bersama Miwa.


Bersambung