The Devil's Touch

The Devil's Touch
#100



Maxime menggendong Milan ke kamarnya. "Panggil Dokter Al," teriak Maxime kepada Arsen yang sedang menyeruput segelas kopi.


Arsen berdecak, apalagi yang di lakukan Kakak angkatnya ini terhadap gadis itu.


"Datang ke mansion sekarang!' ucap Arsen kepada Aliandra di telpon, Aliandra adalah Dokter pribadi yang kini bekerja mengurus keluarga De Willson. Dan Aliandra adalah adik angkat Ibu Maxime, Sky Alexander.


"Ini masih pagi," sahut Aliandra dengan suara seraknya.


"Cepatlah ada yang sekarat!!"


"Ah pasti hanya pingsan," sahut Aliandra yang sudah berkali-kali di tipu oleh Maxime dan Arsen. Bilang sekarat padahal hanya pingsan.


Maxime tiba-tiba merebut ponsel di tangan Arsen dengan kasar setelah melihat Arsen malah berdebat dengan Aliandra.


"Cepat datang kemari Dokter tua atau aku akan mengadukanmu kepada Ibuku!!


Aliandra menghembuskan nafas. "Tidak bisakah jangan menganggu kegiatanku bersama istriku di pagi hari," ucap Aliandra lalu mematikan ponselnya dan beranjak ke kamar mandi untuk pergi ke mansion Maxime.


Maxime mendengus lalu melempar ponsel itu ke lantai dengan kasar. Arsen menghembuskan nafas, ponsel nya lagi yang menjadi sasaran.


Maxime duduk di sofa dengan menyenderkan punggungnya. Ia mengerutkan dahi nya dengan dada nya naik turun karena amarah. Ia memijit-mijit pelipisnya.


"Dia masih saja berusaha kabur," ucap Maxime.


"Bagaimana tidak kabur, kau memperlakukan nya dengan kasar," sahut Arsen dengan pelan.


"Aku hanya ingin dia menurut kepadaku," ucap Maxime.


"Perlahan-lahan," sahut Arsen.


"Perlahan-lahan kalau dia tetap di mansionku, aku akan terima. Tapi dia selalu berusaha kabur dan kabur. Apa aku harus mengikatnya sekarang, Ar?" tanya Maxime menatap serius Arsen.


Kini Arsen yang memijat pelipisnya seraya berdecak kesal mendengar ucapan Maxime. Yang ada Milan pasti semakin benci.


Maxime berbeda dengan Javier yang masih bisa bersikap lembut dengan istrinya walaupun belum mencintainya. Maxime mempunyai obsesi yang tinggi terhadap sesuatu, apalagi sesuatu yang ia suka.


Peraturan Yakuza tidak boleh kasar terhadap perempuan seakan di langgar begitu saja oleh pemimpin yakuza sekarang. Maxime kerap kali kasar terhadap Milan sampai Arsen bilang, jika Maxime lebih mirip pemimpin Antraxs, bukan Yakuza. Karena hanya Antraxs yang kasar dengan perempuan.


Dan sikap Maxime yang seperti ini tidak di ketahui oleh Javier dan yang lain.


"Insyaf sekarang sebelum Daddy Javier tahu sikapmu yang seperti ini," ucap Arsen.


"Kau tak jauh berbeda dengan mudork. Aku takut gadis itu kau perk*sa nanti dan kau berakhir dengan kematian di tangan Ayahmu sendiri," lanjut Arsen menatap serius Maxime.


Maxime hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Arsen.


"Kau tahu peraturan semua mafia di Negara M tidak boleh kasar dengan perempuan, Mudork sampai di bantai habis karena melanggar aturan itu. Tidak lucu jika keturunan pembunuh Mudork kini mempunyai sikap yang sama dengan nya."


"Antraxs tidak berdiri di negara ini, Maxime!! itu sebabnya dia tidak di bunuh. Antraxs mafia Negara X." Arsen mulai geram.


"Aku kesal karena Ayahku membuat peraturan konyol seperti itu!!" sahut Maxime lalu beranjak meninggalkan Arsen yang hanya bisa menghela nafas.


*


Maxime kembali ke kamarnya ia duduk di samping Milan yang masih tak sadarkan diri, lalu Miwa datang membawa segelas air.


"Kak minum dulu ..."


Maxime mengambil gelas tersebut. "Terimakasih." pria itu pun meminum nya setengah.


Miwa mengelus pundak Maxime. "Sabar ya kak, nanti juga dia pasti mencintai kakak. Aku saja sabar menunggu Kak Arsen huuffttt!!"


Maxime mendelik membuat Miwa terkekeh pelan. "Hehe ... aku keluar dulu, jangan di tampar lagi ya."


Miwa pun keluar dari kamar Maxime, Maxime mengelus kepala Milan menyeka keringat dingin di wajahnya.


Maxime melihat jam di pergelangan tangan nya lalu berdecak karena Dokter Aliandra belum juga datang.


Jack datang ke mansion dan duduk bersama Arsen. "Peter masih di sini?" tanya nya.


"Tidak tau, beberapa hari ini tidak ada di mansion," sahut Arsen.


Maxime menarik-narik kerah baju nya, tubuhnya tidak tahu kenapa terasa panas tiba-tiba. Ia mengusap lehernya seraya menghela nafas.


Dia tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya. Melihat Milan tertidur seperti itu membuat yang di bawa sana bangun.


"Si*l!! kenapa ini!!" kesal Maxime.


Maxime pun masuk ke kamar mandi berniat untuk mengguyur tubuhnya tapi di kamar mandi tidak ada air sama sekali. Shower nya mati tiba-tiba.


Maxime menggeram kesal ia hendak keluar dari kamar tapi ternyata pintu kamarnya tidak bisa di buka.


Maxime memanggil-manggil Arsen, berteriak meminta di bukakan pintu. Ia tidak tahu siapa yang berani mengunci nya dari luar.


Pria itu pun menoleh ke belakang menatap Milan. "Milan ..." gumam nya.


Perlahan ia mendekati Milan dan berdiri di samping gadis itu, Maxime menatap Milan dari ujung rambut sampai ujung kaki nya.


"Maaf ..." lirih Maxime lalu membuka kancing bajunya satu persatu dan hal yang tidak inginkan pun terjadi.


#Bersambung