The Devil's Touch

The Devil's Touch
#92



Mobil memasuki halaman mansion, Milan celengak-celinguk heran melihat puluhan penjaga yang memakai pakaian serba hitam di halaman mansion.


Miwa melepas seatbealt setelah mematikan mesin mobil.


"Ayo Milan," ajaknya.


"Kenapa banyak sekali orang?" tanya Milan.


"Dimana?" tanya Miwa.


"Tuh ..." Milan menunjuk para penjaga di luar mobil.


"Ohhh itu ... iya Milan aku sudah menyuruh mereka menjaga halaman agar pria kriminal mu tidak bisa masuk ke sini dan menculikmu. Sudah ayo keluar, kita obati luka mu dulu."


Milan mengangguk samar, setelah melepas seatbealt ia keluar dari mobil dengan satu tangan memegang luka di lengan nya akibat goresan pecahan kaca di petshop.


"Aunty ... Aunty ..." Miwa berteriak memanggil Ara seraya membantu Milan berjalan.


"Yang sakit tanganku, Cantika. Kaki ku masih bisa berjalan," pekik Milan.


Ara datang dengan tergesa-gesa mendengar panggilan keras dari Miwa.


"Miwa ..." langkah nya tiba-tiba terhenti kala melihat seorang gadis yang tidak ia kenal.


"Aunty kok diem, bantu obatin tangan Milan," titah Miwa.


"I-iya .." Ara pun mendekati Milan. "Duduk dulu di dalam ya."


Milan mengangguk. Miwa masuk lebih dulu untuk mengambil kotak p3k, setelah Milan duduk di sofa dengan terburu-buru Ara menghampiri Miwa di dapur.


"Kalau tidak salah, aku menyimpan kotak nya di laci ini kemarin, Aunty. Tapi tidak ada," ucap Miwa yang tahu Ara ada di belakangnya.


Ara langsung menarik pundak Miwa agar berbalik menatapnya.


"Miwa siapa dia? kenapa kau membawa nya ke sini? kau tau kakakmu tidak suka ada orang asing masuk mansion ini hah!!"


"Aku tau, tapi dia butuh bantuan aunty. Dia sedang di kejar pria jahat!"


"Kenapa kau tidak menyewakan tempat tinggal atau suruh dia tinggal di hotel saja!" sahut Ara.


"Tidak bisa, pria kriminal nya pasti akan menculik Milan lagi. Di sini banyak penjaga, temanku pasti aman. Biar aku yang bilang ke kak Maxi nanti. Aunty tenang saja ... sekarang aunty bantu obati Milan dulu. Aku akan bicara dengan kak Maxi."


"Oke Aunty?" Miwa menepuk pundak Ara meninggalkan Ara dalam kebingungan. Kalau Maxime marah ia juga yang kena.


Dari awal masuk mansion sampai sekarang Milan duduk di sofa, matanya terus berkeliling melihat luar dan dalam mansion yang sangat amat mewah dan besar. Entah sekaya apa kakak nya Cantika ini.


Dan Miwa sendiri terus-menerus menelpon Maxime. Sudah beberapa kali tidak di angkat, wajar saja karena Maxime sedang berada di dalam mobil, pria itu begitu frustasi mencari Milan. Sesekali ia menggeram kesal dan memukul-mukul stir mobilnya.


Ponselnya terus berdering tapi ia enggan mengangkat nya, tertera nama Miw Miw di sana.


"Aku benar-benar akan mengurungmu mulai sekarang!!" gumam Maxime dengan rahang dan tangan yang terlihat mengeluarkan urat-urat kemarahan nya.


Mungkin hampir sepuluh kali ponselnya terus berdering sampai akhirnya Maxime menepi sebentar untuk mengangkat panggilan tersebut.


Ia berdecak kala Miwa melakukan panggilan video call dengan dirinya. Maxime pun menghela nafas kasar lalu mengangkat video call dari adiknya itu.


"Hai kak ..." Miwa melambaikan tangan lalu mata nya mendapati mata Maxime yang terlihat merah.


"Mata kakak kenap?" tanya Miwa.


"Baik-baik saja," sahut Maxime yang merasa Miwa tidak perlu tahu matanya di semprot parfum oleh gadisnya.


"Ada apa?" tanya Maxime lagi. .


"Eumm begini kak ..." Miwa sedikit ragu dan gugup. "Aku ... aku membawa temanku ke mansion untuk beberapa hari tinggal di sini. Boleh kan?"


"Apa?!" Maxime mengerutkan dahi nya. Maxime terlihat menahan kemarahan nya dengan mengepalkan tangan diam-diam seraya memalingkan wajah dari Miwa.


"Kak boleh ya ... kasihan dia, dia sedang di kejar-kejar pria kriminal yang menculiknya."


Maxime menghembuskan nafas mencoba menetralkan emosi nya, sudah Milan kabur sekarang Miwa membuat ulah dengan membawa orang asing ke mansion.


"Tidak, Miwa!! usir dia!! Kau tidak tau sebahaya apa orang asing itu!!"


"Tapi kak, kasihan Milan. Tangan nya juga terluka," sahut Miwa membuat Maxime mengerutkan dahi nya.


"Si-siapa namanya tadi?" tanya Maxime.


"Milan," sahut Miwa.


"Dimana dia sekarang?"


"Sedang di obati oleh aunty Ara, kak. Kenapa, kakak keliatan terkejut seperti itu?" tanya Miwa.


"Coba kau alihkan ke camera belakang, kakak ingin melihat wajahnya."


Miwa yang heran dengan sikap kakaknya ini tetap saja menurut. Ia mengalihkan nya ke camera belakang dan mengarahkan nya ke wajah Milan.


Sontak mata Maxime membulat sempurna. "Milan ..." gumam nya.


"Miwa ... Miwa ..." panggil Maxime.


Miwa mengalihkan kembali camera nya ke depan. "Iya kak?"


"Suruh temanmu itu istirahat di kamar tamu, ingat jangan bawa ke kamarmu dan jangan bawa dia ke ruang keluarga!!"


"Tapi ken--"


"Menurut saja dengan kakak!!" potong Maxime cepat.


Miwa pun mengalah. "Oke ... oke ..."


Ruang keluarga dan kamar Miwa di penuhi oleh foto mereka berempat. Maxime, Arsen, Miwa dan Tessa. Maxime tidak mau Milan kabur karena melihat foto dirinya sebelum ia datang ke mansion.


Bersambung


kisah cinta nya mirip ama kisah Xander & Alexa, emg aga rumit. Tapi kisah Xander ga bahagia karena Alexa nya mati.


Kalau kisah Maxime ... gatau dehhh 😋