
Pagi ini di sebuah gereja semua orang ramai memberi bela sungkawa atas kematian Aberto. Foto Aberto di kelilingi bunga berwarna putih sebagai tanda kepulangannya, rekan-rekan bisnis mereka datang memberi bela sungkawa.
Di Negara XX tentunya topik ini menjadi trending hangat, tapi topik ini berusaha di tutup dari Negara lain, agar tidak terdengar ke telinga anak buah Yakuza di Negara X.
Mereka mengancam siapapun yang menyebarkan berita kematian Aberto akan di kenakanan hukuman. Para masyarakat setempat pun hanya bisa bungkam dan saling bertanya penyebab kematian Aberto.
Tapi tidak ada satu orang pun pihak yang mengonfirmasi kematian Aberto. Semua anak buah Recobra di minta diam saat di minta keterangan oleh wartawan.
Magma tidak ikut ke gereja, dia masih diam di kamarnya dengan pandangan kosong menatap jendela. Sedih, sudah pasti tapi ternyata rasa dendam marah lebih dominan di tubuh anak laki-laki itu.
Setelah melangsungkan doa bersama mereka mengantar peti jenazah ke pemakaman, mereka saling mengiringi peti jenazah tersebut. Smith berdiri paling depan bersama dokter Alvad.
Sementara rekan-rekan yang lain mengikuti di belakang, pemakaman berjalan dengan lancar. Setelah bersalaman dengan Smith mereka semua kembali pulang.
"Magma, masih kecil sudah sangat keras kepala," ucap Dokter Alvad.
"Jangan bahas itu di sini. Ayo ..." Smith pun berjalan pergi di ikuti Dokter Alvad di belakangnya.
Ketika sampai di mansion, Smith menaiki anak tangga menghampiri kamar Magma. Ia mengetuk pintu dan tak lama kamudian Magma membukakan pintu untuknya.
"Tuan muda ... bisa kita bicara."
Magma mengangguk sebagai jawaban. Smith pun masuk ke kamar Magma. Mereka pergi ke balkon kamar Magma, Magma duduk di sofa sementara Smith berdiri di sampingnya.
Smith datang untuk menjelaskan tentang Recobra. Siapa Recobra, awal terbangunnya kelompok mafia ini, pemimpin sebelum Aberto, bahkan sampai membahas siapa saja kelompok mafia yang pernah bermusuhan dengan Recobra.
Smith harus mengatakan itu karena walau bagaimanapun hanya Magma yang kelak akan menjadi pemimpin. Dia harus menyiapkan mentalnya di umur yang masih terbilang kanak-kanak, Smith tidak terlalu khawatir karena melihat sikap Magma yang berani menembak Ayahnya saja sudah menunjukan Magma sangat siap masuk di dunia hitam yang harus dia jalani.
Smith juga membahas apa keinginan Rhea yang di minta kepada Aberto dan tidak di wujudkan oleh Ayahnya itu.
"Yakuza dan Antraxs," gumam Magma.
"Ya, Tuan muda. Nyonya Rhea ingin mereka mati, tapi tentu tidak mudah untuk kita mengalahkannya."
"Aku punya ide Smith."
"Ya Tuan?"
"Kita harus menyerang mereka dan buat kita kalah di depan mereka, Smith."
"Maksud anda Tuan?"
"Mereka harus tau kalau Recobra musnah di tangan mereka dan tunggu dua puluh tahun lagi, aku akan kembali membangkitkan Recobra."
"Itu artinya, kita harus mengorbankan banyak anak buah yang mati, Tuan muda ..."
"Tidak apa, kita bisa menggantinya dengan yang baru nanti."
Smith menghela nafas dan membatin dalam hati nya.
Kenapa anak ini lebih kejam dari Tuan Aberto. Tuan Aberto selalu meminta anak buahnya aman.
Smith hanya bisa menganggukan kepala. "Baik, Tuan ... kalau begitu saya permisi dulu."
Smith keluar setelah membungkukan badannya, ketika keluar kamar ia menekan earphone di telinganya.
"Aku ke atas sekarang," ucapnya.
Smith naik ke lantai paling atas. Ada rooftop luas di mansion itu, bisa di pakai untuk helicopter mendarat.
Smith membuka pintu dan ketika berada di rooftop ia pun menghampiri helicopter tersebut dan masuk ke dalamnya. Di dalam sudah ada Dokter Alvad dan satu pilot.
Helicopter itu perlahan naik meninggalkan mansion Aberto. Magma yang berada di balkon sempat melihat Helicopter yang menjauh dari mansionnya. Tapi ia tidak memikirkan apapun tentang helicopter itu, ia kembali masuk ke kamarnya.
Smith membuka pintu salah satu ruangan, sementara Dokter Alvad menunggu di luar.
"Tuan ..." Smith membungkukan badannya.
Seorang pria tua sedang menatap keluar jendela, hanya pohon bambu yang bisa ia lihat. Ia memegang segelas air di tangannya.
"Bagaimana?" tanya nya.
"Tuan muda merencanakan sesuatu, dia meminta kami menyerang Yakuza dan membiarkan kami musnah di mata mereka dan Recobra akan kembali di bangkit kan setelah dua puluh tahun kemudian Tuan ..."
"Otak kecilnya di atas rata-rata. Dia menunggu dirinya dewasa dulu kan Smith?"
"Benar, Tuan. Tapi kita akan kehilangan banyak anak buah, Tuan. Saya takut banyak yang akan mati."
"Perduli apa dia dengan anak buah, Smith. Kepadaku saja dia berani membunuh." Pria tua itu menarik ujung bibirnya tersenyum. Senyum yang menyakitkan.
"Ikuti rencana dia."
Pria itu pun berbalik menatap Smith. "Dan aku minta, kau jangan mati ..."
Smith mendongak menatap mata pria tua itu. Smith bisa melihat ada rasa kecewa yang sangat besar di matanya.
"Aku ingin kau menjaga Magma sampai dewasa, aku menyayangi nya seperti anakku sendiri dan sekarang aku menyerahkannya padamu, Smith ... jaga dia baik-baik."
"Tuan---"
"Jangan beritahu aku, kalau aku masih hidup dan dia gagal membunuhku. Aku tidak mau dia kecewa karena gagal membunuh pria yang telah merengut nyawa Ibunya."
"Ini semua bukan salahmu, Tuan ..."
Pria itu kembali berbalik menatap ke luar jendela dengan menghela nafas panjang. Rasanya sakit sekali mengingat kejadian malam itu.
Malam itu Aberto mendengar pintu ruang senjata yang terbuka, padahal ia tahu Smith tidak ada di mansion dan hanya dirinya dan Smith yang tahu kode pintu tersebut.
Dan satu-satunya yang Aberto curigai hanya Magma, karena hari itu ia tak sengaja melihat Magma di lorong, Magma beralasan kalau ia sedang bermain.
Aberto menelpon salah satu anak buahnya, menyuruh Pak Atma, penjaga kebun untuk datang ke kamarnya.
Ketika Pak Atma datang, Aberto meminta Pak Atma berbaring di ranjang miliknya, awalnya Pak Atma menolak karena tidak tahu maksud dan tujuan Aberto, kenapa menyuruh dirinya untuk tidur di ranjangnya.
Tapi Aberto terus menyuruh Pak Atma untuk tidur dan akhirnya Pak Atma menurut. Ia tidur dengan membelakangi pintu kamar, Pak Atma usianya juga tidak muda, tubuhnya sangat mirip dengan Aberto.
Aberto sendiri bersembunyi di belakang lemari, ketika Magma masuk ke kamarnya, yang Magma tembak bukan Aberto melainkan Pak Atma.
Aberto memejamkan mata ketika menatap punggung Pak Atma yang tertembak. Setelah Magma di bawa keluar oleh Smith, Dokter Alvad masuk, Dokter Alvad cukup kaget ketika melihat Pak Atma yang terbaring di ranjang.
Kemudian Aberto keluar dari persembunyiannya.
"Katakan kepada semua orang aku sudah mati," ucap Aberto.
"Tuan ..." Dokter Alvad shock melihat Aberto berdiri di belakangnya.
"Jangan banyak tanya, keluar dan katakan aku sudah mati."
"Baik Tuan."
Setelah itu Dokter Alvad membahas diam-diam dengan Smith tentang Aberto yang masih hidup. Pukul dua pagi, Aberto di bawa oleh Smith dan Dokter Alvad diam-diam ke rooftop untuk pergi dari mansionnya.
Helicopter yang menjauh dari mansion tidak di curigai oleh siapapun, karena memang sudah biasa ada helicopter yang mendarat di atas rooftop, mereka hanya berpikir kalau di dalam helicopter hanya ada Smith saja.
****Bersambung****