The Devil's Touch

The Devil's Touch
#195



Miwa sampai lebih dulu ke mansion sebelum Maxime dan yang lain datang. Ia buru-buru menaiki anak tangga lalu mengetuk pintu kamar Milan.


"Miwa ..."


"Ini untukmu. Kau mual juga kan? coba tes sekarang."


"Tes apa?" tanya Milan seraya membolak-balikan tespack di tangannya.


"Ih kau ini, masa tidak tahu. Itu tespack, kau mual kan, siapa tau kau hamil."


"Ha-hamil?" Mata Milan melebar sempurna.


Miwa mengangguk. "Iya, cepat-cepat masuk dan cek sekarang, cara pakai nya ada di situ. Aku ke kamar dulu."


"Miwa ..." panggil Milan ketika melihat ada satu tespack di tangan Miwa.


"Kau hamil juga?" tanya nya.


Miwa mengangkat kedua bahunya. "Mana aku tau, aku baru mau cek sekarang. Aku juga mual Milan, sudah ya aku ke kamar dulu."


"Hah ..." Milan hanya melongo melihat kepergian Miwa.


Miwa sempat berpapasan dengan Ara yang baru saja keluar dari kamar Tessa.


"Miwa ..." panggil Ara.


"Aunty ..."


"Miwa apa kau membeli tespack?"


"Hah? kenapa Aunty tau ..."


"Berapa banyak tespack yang kau beli?"


"A-aku, aku beli banyak di tas." Miwa menepuk tas selendangnya.


"Tessa ... dia mual juga."


"Apa?!" Miwa setengah terkejut. "Ke-kenapa dia mual juga, kenapa bisa barengan seperti ini ..."


"Sudah, Aunty minta tespack nya satu, biar Aunty kasih ke Tessa."


"Oke Aunty." Miwa mengambil satu tespack di dalam tasnya lalu memberikannya kepada Ara. Ia sengaja membeli banyak, karena takut satu tespack hasilnya tidak akurat.


"Yasudah, Aunty ke kamar Tessa dulu." Miwa mengangguk, ia pergi ke kamarnya sementara Ara langsung masuk kembali ke kamar Tessa.


Tiga perempuan itu langsung memakai tespack tersebut. Milan sempat membaca dulu cara pakai nya karena walaupun sudah baca sekali ia tidak langsung mengerti. Berbeda dengan Miwa dan Tessa.


Disaat bersamaan, Maxime, Arsen dan Daniel masuk ke halaman mansion. Dua mobil itu parkir di teras depan, Maxime dan Arsen keluar dari mobil di susul Daniel yang keluar dari mobil lain di belakangnya.


Tiga pria itu langsung berlari tergesa-gesa menaiki anak tangga dan masuk ke kamar istri mereka masing-masing. Oris yang sedang mengelap piring basah di dapur hanya bisa menggelengkan kepala melihat Maxime, Arsen dan Daniel berlari seperti di kejar hantu.


Tok Tok Tok


"Sayang buka pintunya!" teriak Maxime mengetuk pintu kamar mandi Milan.


Tok tok tok


"Bee, buka pintunya!" teriak Arsen di depan pintu kamar mandi Miwa.


Tok tok tok


"Tessa sayang, buka pintunya!" teriak Daniel di depan pintu kamar mandi Tessa.


"SEBENTAR!!" teriak Milan, Miwa dan Tessa menjawab teriakan para suaminya.


Maxime memercak pinggang dengan nafas memburu. Ia berdiri di depan pintu dengan perasaan khawatir ketika Oris menelpon dirinya dan mengatakan Milan mual dan kemungkinan hamil.


Arsen mengacak-ngacak rambutnya frustasi dengan terus berjalan bolak-balik menunggu Miwa membuka pintu kamar mandi.


Daniel menyenderkan punggungnya di dinding dengan tangan bersedekap dada menatap pintu kamar mandi yang belum terbuka, sesekali ia menghela nafas.


Maxime kembali menggedor pintu kamar mandi Milan.


"Sayang, kau baik-baik saja kan."


Pintu kamar mandi pun terbuka perlahan, begitupula dengan pintu kamar mandi di kamar Miwa dan Tessa.


"Sayang ..." Maxime langsung memegang kedua pundak istrinya. Bola matanya bergerak-gerak meneliti wajah Milan yang datar.


"Kenapa? bagaimana? apa kau ..."


"Aku ... hamil."


Perkataan Milan membuat Maxime melebarkan matanya sesaat lalu perlahan senyum mengembang di wajah Maxime.


"Sayang ... kau hamil ..." Maxime tak kuasa menahan rasa bahagianya, ia memeluk istrinya dengan erat.


"Bagaimana ini ... rahimku masih kecil, aku sudah hamil," gumam Milan di pelukan Maxime.


Maxime melepas pelukannya lalu menatap istrinya. "Aku sudah bilang, yang kecil itu umurmu sayang. Kau ini sudah bisa mengandung ..."


"Bee, bagaimana? Oris bilang kau ..."


Miwa yang berdiri di depan Arsen dengan wajah datar perlahan menyunggingkan senyumnya.


"Kenapa Bee? kenapa tersenyum?" Bola mata Arsen bergerak-gerak menunggu jawaban.


Kemudian Miwa langsung memeluk suaminya itu dan berkata. "Kau berhasil Boo, kau berhasil jadi Ayah sekarang."


Arsen masih mematung mencerna ucapan Miwa barusan.


"A-apa?"


Miwa melepas pelukannya lalu menatap Arsen dengan senyuman di wajahnya. "Aku hamil ..."


"Hamil? kau hamil?"


Miwa mengangguk dan Arsen pun tersenyum bahagia lalu memeluk istrinya itu dengan erat.


"Kau hamil Bee ... aku jadi Ayah ..."


Miwa mengangguk "Ya, Boo. Kau akan jadi Ayah."


"Sayang, bagaimana?" Daniel langsung memegang kedua tangan Tessa yang baru keluar dari kamar mandi.


Tessa tidak menjawab, ia hanya memasang wajah datar membuat Daniel menunggu dengan perasaan takut. Takut kalau ternyata Tessa tidak hamil sementara Milan dan Miwa hamil.


"Tidak apa-apa, kalau belum hamil. Kita bisa mencobanya lagi nanti hm ..." Daniel mengelus kepala Tessa menenangkan tapi sedetik kemudian ekspresi wajah Tessa berubah.


Tessa tersenyum haru membuat Daniel bingung.


"Kau ... kenapa?"


"Aku hamil," ucapnya membuat dunia Daniel seolah berhenti sesaat, hanya kalimat Tessa yang terus ia dengar selama beberapa detik.


"K-kau ... hamil?"


Tessa mengangguk.


"Kau beneran hamil? anakku?"


"Anak siapa lagi kau ini ..."


"Sayang ..." Daniel dengan bahagia langsung memeluk istrinya.


*


"Mom, Milan hamil ..."


"Mom, Miwa hamil ..."


"Mama mertua, Tessa hamil ..."


Sky, Liana dan Kara sontak berjingkrak-jingkrak senang mendapati kabar tersebut. Karena kebetulan mereka bertiga sedang berkumpul di balkon, telpon dari putra mereka benar-benar membuat mereka bahagia. Sky, Liana dan Kara langsung saling memeluk satu sama lain seraya tak henti-hentinya melompat-lompat dan tertawa bahagia.


Kemudian Javier, Sekretaris Han dan Thomas menghampiri istri mereka.


"Ada apa ini? kenapa kalian melompat-lompat seperti anak kecil?" tanya Javier.


"Mereka bertiga hamil!!" teriak Sky, Liana dan Kara bersamaan membuat Javier dan yang lain saling menoleh.


"Mereka bertiga, mereka bertiga siapa?" gumam Sekretaris Han.


"Apa ..." Thomas menggantung kalimatnya.


"Milan."


"Miwa."


"Tessa."


Ucap Javier, Sekretaris Han dan Thomas secara bersamaan. Mereka masih saling menoleh dengan wajah terkejut, sedetik kemudian mereka tertawa seraya saling memeluk satu sama lain, lalu melompat-lompat seperti para istrinya.


"Yeayy aku punya cucu!!" teriak Javier.


"Aku juga punya cucu!!" Sekretaris Han ikut berteriak.


"Aku juga sama!!" Thomas ikut berteriak.


Beruntung, Keenan dan para ekornya tidak melihat sikap Javier dan yang lain.


Sepuluh detik kemudian Javier berdehem dan langsung berhenti memeluk Thomas dan Sekretaris Han, ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain seraya menggosok hidungnya ketika kesadarannya telah kembali dan sadar kalau sikapnya seperti anak kecil. Untuk apa juga ia memeluk Sekretaris Han dan Thomas.


Begitupula Sekretaris Han dan Thomas yang langsung membuang muka satu sama lain. Mereka bertiga langsung hening karena sadar ulah mereka barusan terlalu berlebihan untuk ukuran seorang mafia seperti mereka.


Sementara istri mereka masih melompat-lompat tidak jelas.


Bersambung