
Maxime dan Milan menuruni anak tangga menuju meja makan. Arsen sudah duduk dengan mengenakkan kaos putih polos bersama Ara.
"Dimana Tessa?" tanya Maxime seraya menarik kursi untuk Milan.
"Dia pergi ke mansion Ayahmu," sahut Ara.
"Oh iya? tumben sekali," ucap Arsen seraya mengaduk-ngaduk kopi miliknya.
"Dia bilang, dia rindu Mommy Sky."
Maxime terkekeh pelan. "Anak itu. Malah merindukan Ibuku bukan Ibunya sendiri," sahut Maxime.
"Mau makan apa sayang?" tanya nya kepada Milan.
Milan mengedarkan pandangan ke meja yang di penuhi makanan, ia masih memilih-milih mau makan apa siang ini.
"Selamat siang ..." teriak Miwa seraya menuruni anak tangga. Arsen yang hendak meminum kopi mematung lalu mendongak perlahan menatap perempuan itu.
Ia menghela nafas, sudah melihat Maxime memakai kaos hitam couple bersama Milan. Kenapa Miwa harus memakai kaos putih polos sama dengan dirinya.
Maxime menatap bergantian Miwa dan Arsen. "Cih, janjian juga kalian pakai kaos putih."
"Aaaaaa Kak Arsen ..." teriak Miwa girang. "Baju kita couple kaya Kak Maxi dan Milan."
Perempuan itu pun berjalan cepat dan menarik kursi di samping Arsen. Ara hanya menatap mereka bergantian, baru sadar kalau Maxime dan Milan sama-sama memakai kaos hitam polos, Arsen dan Miwa sama-sama memakai kaos putih polos.
"Ini mirip double date iya kan kak?" tanya Miwa kepada Maxime dengan menggulum senyum di wajahnya.
Maxime hanya berdehem sebagai jawaban lalu menatap Ara sekilas dengan maksud meminta Miwa diam karena Ara tidak tahu apapun tentang hubungan Miwa dan Arsen.
Perlahan senyuman Miwa pun memudar, ia menoleh ke arah Ara seraya tersenyum kaku. "Hehe Aunty ..."
Miwa mengigit bibir bawahnya hampir saja ia keceplosan. Perempuan itu hendak mengambil paha ayam tapi lebih dulu di ambil oleh Arsen.
Arsen menyimpan paha Ayam itu di piring Miwa. Miwa menoleh kepada Arsen seraya melebarkan mata tapi dalam hatinya ia tersenyum bahagia. Ini seperti perhatian kecil dari Arsen tanpa di minta olehnya.
"Makasih, kak." bisik Miwa.
Arsen menjawab dengan deheman. Maxime memperhatikan adiknya yang makan paha ayam dengan tersenyum dan tampak lahap menyantap paha ayam yang di ambilkan Arsen tersebut.
Jujur saja baru kali ini Maxime melihat adiknya begitu bahagia dengan perhatian kecil yang di dapatkan dari Arsen.
"Pelan-pelan ..." ucap Maxime kepada Miwa. Miwa mendongak dengan mulut penuh daging.
"Hehe iya kak ..."
Arsen hanya menatap sekilas Miwa lalu kembali fokus dengan makanan nya, begitu pula dengan Milan yang sedang memisahkan tulang ikan di piringnya.
Maxime mengambil piring di depan Milan. "Makan ikan saja, kesulitan seperti itu. Aaaaa." Maxime menyuapi Milan dengan tersenyum, begitupula dengan gadis itu yang tampak senang di suapi Maxime.
Miwa menatap keromantisan kakaknya yang menyuapi Milan ikan, ia pun mengambil ikan di piring dengan cepat dan menyimpan di piring miliknya.
Arsen yang melihat itu pun menghela nafas. "Tolong jangan memintaku menyuapimu," bisiknya pelan.
"Kak Maxi ..." rengek Miwa kepada Maxime.
"Apa?"
"Ikan ku juga banyak tulangnya," ucap Miwa membuat Arsen kembali menghela nafas seraya menggelengkan kepala.
"Sini biar Aunty bersihin dulu tulangnya."
"Jangan!"
Miwa langsung menjauhkan piringnya kala Ara hendak mengambil piring tersebut.
Maxime berdecak lalu menatap Arsen dan memberi kode agar menyuapi Miwa. Miwa yang melihat itu menggulum senyum senang di wajahnya.
Arsen dengan malas mengalah dan mengambil piring Miwa, memisahkan daging dan tulang ikan tersebut lalu menyuapi Miwa sama seperti Maxime menyuapi Milan.
*
Selesai makan Maxime mengajak Milan ke kandang Glory, entah yang ke berapa kali Maxime berusaha mengajak Milan berkenalan dengan binatang peliharaan nya ini, Milan selalu menolak.
"Aku lebih suka Bunny atau si kucing putih," ucap Milan yang bersembunyi di belakang tubuh Maxime.
Mereka berada di depan kandang Glory, ada kaca besar yang menjadi penghalang.
"Mereka jinak sayang," ucap Maxime.
"Tapi mereka hampir memakanku di hutan," cibir Milan.
Maxime terkekeh. "Mereka hanya mengajak bermain."
"Perkataanmu sama seperti Miwa saja huh!"
"Mau masuk?" tawar Maxime yang segera mendapat gelengan dari Milan.
Maxime dengan otak jahilnya menyeret Milan masuk ke kandang Glory, Milan berteriak panik dan Maxime malah tertawa seraya menarik-narik tubuh Milan.
"Maximeeeee ..."
"Hahaha ... ayo sayang ada aku."
"Enggaaaa ..." teriak Milan.
"Ada aku sayang ..."
Pria itu pun berhasil menyeret tubuh Milan masuk ke dalam kandang, para penjaga segera mengunci kandang tersebut atas perintah Maxime agar Milan tidak bisa lari keluar.
Milan semakin berteriak panik dan takut, ia bersembunyi di belakang tubuh Maxime. Gadis itu melebarkan mata kala Glory dan Gery berjalan menghampiri Maxime.
"Aku mau keluar ..."
"Kemari Glory!!" teriak Maxime seraya melambaikan tangan meminta dua singa itu mendekat.
Mendapat lambaian dari Tuan nya, mereka yang tadinya berjalan langsung berlari seraya menggaum keras.
Maxime tertawa kala Milan memeluknya erat dari belakang.
Maxime pun berbalik menghadap Milan dan memeluknya erat tanpa menghilangkan senyuman jahil dari bibirnya.
"Aku mau keluar ..." rengek Milan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang mendusel-dusel kakinya, perlahan ia menunduk dan mendapati dua singa itu sedang mengendus-ngendus kaki nya sontak Milan menjerit dan langsung meloncat ke tubuh Maxime.
Maxime tertawa renyah dengan menggendong Milan dari depan.
"Pergi ... pergi singa kampret!! Maxime mau keluar ... mau keluar ..." rengeknya dengan manja menendang-nendang kakinya yang tergantung.
"Hahaha ... sayang mereka mengajakmu bermain," ucap Maxime.
Dua singa itu kembali mengaum membuat Milan menjerit lagi seraya mempererat pelukan nya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Maxime.
"Hahahaha." Maxime sendiri malah kembali tertawa.
Bersambung