The Devil's Touch

The Devil's Touch
#93



Milan berada di kamar tamu yang menghadap langsung ke halaman depan, ia berdiri memandangi para penjaga yang asik mengobrol. Lengan nya sudah di perban oleh Ara.


Sesuai perintah Maxime, Miwa menyuruh Milan istirahat di kamar ini.


Satu tangan nya masih memegangi lengan yang di perban, menahan rasa sakit akibat goresan pecahan kaca petshop.


"Banyak sekali penjaga di rumah Cantika ini," gumam Milan. Matanya berkeliling sampai ujung, entah berapa puluh penjaga yang Cantika suruh untuk menjaga halaman.


Dari jendela ia melihat mobil melaju kencang di jalanan menuju mansion, mata Milan membulat sempurna.


"Maxime ..." Dia spontan mundur beberapa langkah. Ia yakin itu mobil Maxime.


Para penjaga yang melihat mobil parkir di depan gerbang pun segera menoleh. Satpam segera membuka gerbang.


Para penjaga yang tadi asik mengobrol satu sama lain, tiba-tiba hanya mematung dan menunduk kala mobil memasuki halaman dan itu membuat Milan mengerutkan dahi nya bingung.


"Ke-kenapa Maxime bisa masuk," gumam Milan.


Milan pikir mobil Maxime di anggap orang asing yang tidak bisa masuk ke rumah Cantika tapi justru ia terkejut kala Maxime keluar dari mobil dan puluhan penjaga itu membungkukan badan hormat kepada Maxime.


"A-ada apa ini ..." Milan pun terus memundurkan langkahnya dan segera keluar dari kamar.


Ia berlari menuruni anak tangga, ketika ia melihat Maxime berjalan masuk dari teras depan spontan Milan berbalik masuk ke sebuah lorong yang jalan masuk ke ruang keluarga.


"Dimana ini ..." gumam Milan, matanya menatap setiap sudut ruangan dengan jantung berdebar takut Maxime tiba-tiba menangkapnya.


Sampai akhirnya matanya mendapati sebuah pigura foto besar menempel di dinding. Mata nya menyipit melihat foto tersebut, kakinya melangkah perlahan mendekati foto itu dengan sesekali ia menoleh ke belakang dengan was-was.


Milan berhenti di depan foto tersebut, sontak ia memundurkan langkahnya dengan menutup mulut kaget melihat tiga orang yang ia kenal berada di satu foto. Maxime, Arsen dan Cantika. Satu perempuan lagi ia tidak tahu siapa.


Di foto itu mereka memakai pakaian serba hitam, Maxime dan Arsen duduk di kursi dengan Arsen tersenyum tipis dan Maxime yang datar tanpa ekspresi.


Di belakangnya ada dua perempuan yang berdiri memakai dress hitam dengan tersenyum begitu ceria, dua perempuan itu tampak pintar bergaya.


Dan salah satunya, Milan mengenalnya sebagai Cantika. Tapi kenapa Cantika bisa bersama Arsen dan Maxime.


Bukan hanya itu, di meja juga banyak beberapa figura kecil dengan foto mereka berempat. Milan menatap satu persatu foto di atas meja samping sofa tersebut tanpa berkedip.


Kemudian ia mengingat sesuatu yang di katakan Maxime.


Aku punya dua adik perempuan, adik kandungku namanya Miwa dan adik angkat ku namanya Tessa.


"Cantika adalah Miwa sayang ..."


Deg


Milan segera berbalik dengan jantung berdegup kencang ia ternganga melihat Maxime sudah berdiri di belakangnya dengan kedua tangan di masukan ke saku celana.


Maxime sudah berbicara dengan Miwa sebelum masuk ruang keluarga tadi. Miwa menjelaskan semuanya kepada Maxime.


Maxime tersenyum tipis melangkah agar lebih dekat dengan Milan.


"Terimakasih sudah masuk kandang utama dengan baik little cat ... aku tidak perlu susah-susah membawamu ke sini hmm."


Milan memundurkan langkahnya perlahan dengan tubuh gemetar.


"Ini mansion ku, tempat tinggal utama untuk kita setelah menikah ..."


Dan tiba-tiba Miwa datang, Maxime menghentikan langkahnya mendekati Milan dan gadis itu segera menoleh ke arah Cantika alias Miwa.


"Hehe maaf Milan ... sepertinya aku bukan membantumu ... tapi membantu pria kriminal yang kau maksud ..."


Milan menghela nafas. "Kenapa kau pura-pura menjadi Cantika!!"


"Bukan salahku, Milan. Kau juga harusnya bilang kalau pria kriminal mu itu namanya Maxime!!"


"Seandainya kau jujur nama mu Miwa aku akan lebih hati-hati untuk tidak meminta bantuan denganmu!!" kesal Milan.


Maxime menunduk menggosok hidungnya menahan senyum mendengar pertengkaran mereka.


"Kak dia bilang kakak pria kriminal jahat!!" Miwa mengadu kepada Maxime dengan menunjuk Milan.


Maxime menoleh ke arah Miwa lalu menoleh ke arah Milan kala gadis itu berteriak tak mau kalah.


"Kau mengatakan aku harus memalak pria kriminal itu, bukan!! Kau tidak sadar pria kriminal itu kakakmu!!"


Miwa berjalan cepat mendekati Milan dan menarik tangan gadis itu.


"Ayo kak aku akan membantumu mengurung dia!!"


"Auuww ..."


Milan menepis tangan kasar Miwa sampai membuat Miwa hampir jatuh tapi untung segera di tangkap Maxime.


"Kenapa kau jadi membantu kakak mu Cantika!!"


"Aku Mi-wa ..." kata Miwa menunjuk dirinya sendiri. Maxime masih setia menonton pertengkaran mereka.


"Jangan panggil aku Cantika lagi!!"


Arsen yang baru datang dari kantor pun masuk ke ruang keluarga dan mengernyitkan dahi nya kala melihat Milan benar-benar ada di mansion.


Maxime dan Arsen saling menoleh, seakan Arsen bertanya kenapa Milan ada di sini. Arsen datang setelah di telpon oleh Miwa kalau ada pacar Maxime datang ke mansion.


Miwa mendekati Milan dan berbisik. "Pasrah saja Milan, kakak ku ini kaya raya. Hidupmu pasti bahagia bersama dia, karena pria kriminal yang kau maksud kakak ku, maaf aku pindah membantu kakak ku saja!!"


"Sayang ayo ke kamar ..."


"Widihhh sayang ..." Miwa heboh sendiri karena ini pertama kalinya ia mendengar Maxime memanggi sayang kepada perempuan, bahkan dulu ia pikir Maxime tidak akan menikah.


Maxime berdecak kepada Miwa. "Miwa masuk ke kamarmu ..."


"Oke sayang ..." ledek Miwa melambaikan tangan kepada Maxime dan berjalan mendekati Arsen.


"Ayo sayang ..." Miwa tersenyum menggandeng tangan Arsen yang lalu di tepis oleh Arsen.


Maxime menatap tajam adiknya itu, Miwa berbalik seraya cekikikan. "Bercanda sayang ..." ledek Miwa lagi kepada Maxime.


"Menjauh dari Arsen Miwa!!" Maxime memberi peringatan, mendengar itu Arsen jalan lebih cepat dan Miwa berteriak.


"Oke sayang ..." sepertinya kata sayang akan menjadi bahan ledekan baru untuk Maxime dari Miwa.


Maxime hanya menghela nafas melihat tingkah Miwa. Dan Milan sendiri hanya bisa mematung karena masih shock dengan keadaan yang seakan menjebaknya seperti ini, apalagi kala Miwa malah membantu Maxime untuk mengurungnya sekarang.


Ia sudah seperti tawanan singa jantan dan betina saja.


Bersambung