
Maxime berjalan di koridor sekolah yang sepi, ia membuka pintu ruang kepala sekolah dan terlihat ada Arsen yang duduk di sana.
"Kau, kau di sini juga." Maxime menutup pintu lalu berjalan duduk di samping Arsen.
"Dari bandara ke sini langsung," sahut Arsen.
"Sebentar, kita tunggu Peter dulu," ucap Jack.
"Dimana Miwa?" tanya Maxime seraya mengeluarkan bungkus roko dari saku, mengambilnya sebatang dan melempar bungkus rokok itu ke meja.
"Dia sedang membeli makan tak jauh dari sini," sahut Arsen.
Pintu ruangan kembali terbuka, Peter masuk dengan membenarkan celana nya.
"Kau dari mana?" tanya Jack heran melihat Peter sedang menarik resleting celana nya.
"Pipis di taman," sahut Peter lalu duduk di samping Jack.
"Ada toilet, kenapa harus taman sial*n!! menjijikan!!" Arsen menatap jengkel Peter.
"Kau mengotori sekolahku," sahut Maxime lalu mengisap kembali rokok nya.
"Sudahlah, itu tidak penting." Jack melerai lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.
Beberapa foto ia lempar ke meja, Peter membawa selembar foto tersebut dan Arsen melakukan hal yang sama.
Maxime melihat foto di tangan Arsen. "Oris?" tanya nya kepada Jack.
Jack mengangguk. Foto itu, foto Oris yang sedang berbincang dengan pria asing yang memakai masker hitam di pasar.
"Hari dimana Max menanyakan soal Oris pagi itu, dia pulang sore hari. Dia bilang, dia baru pulang dari pasar," ucap Peter.
"Apa dia mengatakan hal lain?" tanya Arsen.
Peter menggeleng. "Dia hanya membeli beberapa bahan makanan dan menyimpan nya di kulkas, itu saja."
"Apa kau curiga dengan pria bermasker ini Jack?" tanya Maxime.
"Aku lebih curiga dengan Oris," sahut Jack.
Maxime menghela nafas lalu menyenderkan punggung di sandaran sofa seraya terus merokok.
Tidak mau benar atau tidak soal Oris, ia harus cepat menyelidiki pria itu.
*
"Kau masih sekolah?" tanya Miwa kepada Milan.
Milan mengangguk. "Tahun ini, tahun terakhirku sekolah," sahut Milan seraya kembali menyendok ice cream miliknya.
Miwa mengangguk-ngangguk. "Bagaimana dengan kuliah? kau mau kuliah dimana?"
"Aku memilih bekerja dari pada kuliah. Nilai ku tidak cukup bagus untuk kuliah," sahut Milan lalu menghembuskan nafas.
"Jadi kau murid bod*h di sekolah?"
Milan sontak mendelik ke arah Miwa, kenapa kata bod*h nya harus di perjelas. Walaupun itu benar adanya.
Milan tidak menjawab ia hanya memakan ice cream nya dengan kasar.
Miwa tertawa membuat Milan kembali menoleh. "Kenapa kau tertawa?" tanya Milan.
"Berapa nilai matematika mu?" tanya Miwa.
"Lima puluh, paling besar," sahut Milan pelan.
"Hahaha ... kau tau, aku pernah dapat nol." Miwa mengangkat dua jari nya ke arah Milan.
Miwa menakutkan kedua alisnya, apa perempuan di depan nya ini sudah gila tertawa lepas di saat nilainya nol.
"Kau dapat apa dari orang tuamu dengan nilai lima puluh mu itu?" tanya Miwa kembali.
Milan menggeleng. "Tidak dapat apa-apa, pernah di tampar karena nilai ku dua puluh hari itu."
"Benarkah?" mata Miwa melebar. "Kau di tampar padahal sudah dapat nilai?"
Milan mengangguk. "Kau pasti lebih parah karena dapat nol." Milan kembali fokus dengan ice cream nya seraya menatap jalanan di luar.
Miwa mengangguk. "Kau benar, aku hanya dapat mobil." Sontak Milan menoleh ke arah Miwa.
"Yang benar saja!" ucap Milan.
"Mungkin kalau seratus dapat pesawat," sahut Miwa membuat Milan hanya bisa menggelengkan kepala dengan wajah terkejutnya.
"Kenapa ada orang tua yang memberikan mobil dengan nilai nol anaknya." Milan bergumam pelan tapi masih terdengar oleh Miwa.
"Daddy ku menghargai usahaku dulu, dia tidak melihat hasil nya. Tidak perduli nol, yang penting aku sudah berusaha hahaha."
Milan hanya bisa menggelengkan kepala tidak tahu harus mengomentari seperti apa sikap orang tua perempuan di sampingnya ini.
"Kau tau, Kakak ku sangat pintar di sekolah. Dia seperti angka satu, tidak ada yang bisa mengalahkan peringkat pertama nya dari kecil."
"Tapi dia sedikit posesif dan galak kalau ada orang yang membantah perkataan nya!" Miwa mengerucutkan bibirnya seakan kesal dengan sikap kakaknya.
"Ah untungnya kakak angkat ku lebih baik dari pada dia," lanjut Miwa seraya menggulum senyum manis di wajahnya mengingat Arsen.
"Milan, kau bisa dengar ceritaku tidak? aku ingin bercerita tapi tidak tau harus ke siapa, aku punya adik perempuan tapi kalau cerita dengan dia, dia pasti marah karena aku mencintai Kakak ku sendiri!"
"ka-kau ... kau mencintai kakakmu sendiri?" Milan terbata tak percaya.
"Ish, bukan kakak kandungku, tapi kakak angkat ku," sahut Miwa.
"Kami tumbuh bersama dari kecil, dia anak sahabat Daddy ku, awalnya kami menganggap adik kakak satu sama lain. Daddy ku bilang, setiap anak laki-laki yang ada di keluarga nya akan di anggap Kakak, walaupun sebenarnya aku lebih tua satu tahun dari kakak angkatku."
"Kenapa begitu?" tanya Milan.
"Karena laki-laki di anggap pelindung di keluarga kami."
Milan mengangguk-ngangguk. "Lalu masalahnya apa? kau kan tidak sedarah dengan nya."
"Masalah nya kakak kandungku, dia pasti tidak setuju." Miwa menoleh ke arah Milan dengan serius. "Kau tau, kakak ku sangat galak dan kejam, setiap pria yang mendekati ku selalu mundur ketika tau aku adiknya. Bahkan dia pernah membunuh teman sekelasnya karena laki-laki itu mencintaiku."
"Apa?!!"
"Ma-maksudku ..." Miwa menggantung kalimatnya karena tak sengaja membocorkan rahasia kakaknya.
"Maksudku itu cerita lama dan kakak ku baru bebas dari penjara beberapa tahun yang lalu," lanjut Miwa seraya tersenyum kikuk.
Milan menggeleng. "Kakak mu psychopath!"
Bersambung ...