
Miwa melangkahkan kakinya ke dalam mansion sekitar pukul satu malam, bersamaan dengan itu Arsen berdiri dari duduknya.
"Darimana saja? kenapa jam segini baru pulang?!" tanya nya dengan tampang datar.
Maxime keluar dari kamar menuruni anak tangga setelah melihat mobil Daniel masuk ke halaman mansion nya.
"Kak Arsen kan lihat tadi, aku pergi bersama Daniel," sahut Miwa malas.
"Aku tanya kau darimana, bukan bertanya kau pergi dengan siapa!"
"Dia aman pergi bersama Daniel, tidak perlu khawatir," potong Maxime tepat saat menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir lalu menghampiri Arsen dan Miwa.
"Kau selalu marah adikmu pulang larut malam," ucap Arsen kepada Maxime.
"Aku bilang dia aman pergi bersama Daniel! Masuklah ..." Maxime menyuruh Miwa masuk ke kamarnya setelah menepuk lembut pundak adiknya itu. Miwa menurut dan berjalan menaiki anak tangga meninggalkan dua pria yang kini saling menatap serius.
"Mungkin satu bulan lagi, akan ada acara lamaran." Maxime berkata lalu mengeluarkan bungkus rokok dari saku, mengambilnya sebatang dan menyalakan nya dengan pemantik api.
"Bantu aku mempersiapkan semua ..." lanjut Maxime lalu berjalan ke dapur, Arsen mengikuti langkah Maxime seraya berkata.
"Ini hanya akal-akalan mu saja!"
Maxime duduk di mini bar, di ikuti Arsen di depan nya.
"Melibatkan keluarga besar, bagaimana bisa di sebut akal-akalan?" sahut Maxime lalu mengisap rokok nya dan menghembuskan asap rokok ke udara.
"Jangan mempermainkan keluarga kita, Max!" ucap Arsen dengan mengerutkan dahinya.
"Cih, kalimat itu lebih cocok untukmu. Kau yang mempermainkan adikku!"
Ponsel Arsen tiba-tiba bergetar tanda pesan masuk di ponselnya. Dan itu dari Ayahnya, Sekretaris Han.
Bagaimana bisa Miwa akan bertunangan dengan Daniel, Ar? kalian sudah tidak bersama lagi?
Arsen melebarkan mata, apa pertunangan ini benar adanya, bukan akal-akalan Maxime. Kenapa sampai Ayahnya sendiri membahas soal pertunangan ini. Kalau ini semua hanya permainan, seharusnya Maxime tidak melibatkan keluarga besarnya. Dan tidak mungkin juga Maxime mempermainkan Ibunya sendiri, Sky. Hanya itu yang Arsen pikirkan sekarang.
Arsen mencengkram kuat ponsel di tangan nya, mendongak menatap Maxime yang santai merokok.
"Apa? Daddy Han memberitaumu soal pertunangan itu? Ck, aku bilang ini bukan akal-akalan. Adikku sangat ingin menikah dan punya anak, keinginan nya lebih besar dari pada aku!"
Arsen tidak mau berdebat, ia dengan kesal beranjak dari minibar menaiki anak tangga untuk pergi ke kamar Miwa. Maxime yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala seraya menahan tawa nya.
"Miwa!" Arsen menggedor pintu tak sabaran.
"PELAN-PELAN, JANGAN MERUSAK PINTU KAMAR ADIKKU!!" teriak Maxime yang menonton dari lantai bawah.
"DIAM KAU SIAL*N!!" sahut Arsen berteriak ketus.
Maxime sontak meledakkan tawa nya, sebenarnya Arsen curiga ketika melihat Maxime tertawa seperti itu, apa yang pria itu tertawakan, dirinya yang sedang menggedor pintu kamar Miwa atau menertawakan soal pertunangan yang Arsen masih yakini itu semua hanya akal-akalan Maxime.
Tapi tetap saja, pesan dari Sekretaris Han membuat pikiran Arsen sedikit kalut. Maxime tidak pernah mempermainkan keluarganya, apalagi Ibunya sendiri.
"MIWA!!" Arsen menggedor lagi seraya memainkan knop pintu.
Miwa akhirnya membuka pintu dengan mata mengantuk, ia bahkan menguap tepat di depan Arsen.
"Apa sih ... baru juga mau tidur!"
Arsen mendorong tubuh Miwa masuk ke dalam bersama dengan dirinya, lalu menutup pintu dengan keras membuat Maxime di bawah sana terlonjak. Pria itu hanya bisa tertawa di minibar dengan rokok di tangan nya. Sampai akhirnya ponselnya di atas meja bergetar, pesan masuk dari Javier.
Apa ini? kenapa Miwa dan Daniel datang ke sini dan membahas pertunangan? apa yang terjadi dengan adikmu Max? bukankah dia dengan Arsen?
Jari-jemari Maxime mengetik di atas keyboard membalas pesan sang Ayah.
Bukankah seharusnya Dad senang? Daniel pria yang Dad pilih untuk Miwa sebelumnya.
Ya, tapi ini sedikit aneh. Miwa tergila-gila dengan Arsen, kau itu kan? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu kan?
Maxime menarik ujung bibirnya lalu kembali membalas.
Kalau aku sedang merencanakan sesuatu, masuklah ke dalam rencanaku Dad! Rencanaku tidak akan menghancurkan putri kesayanganmu ...
Javier kembali membalas.
Anak ini benar benar ...!!!
Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum, jarinya kembali mengetik tapi bukan untuk membalas pesan dari Javier. Tetapi untuk Miwa.
Di dalam kamar Miwa duduk di ranjang seraya menyilangkan kakinya. Sedari tadi ia hanya mendengar celotehan Arsen di depan nya yang tak henti menanyakan alasan Miwa bertunangan dengan Daniel.
"Aku ingin menikah dan punya anak, masalah cinta itu bisa menyusul setelah menikah. Mommy juga mencintai Daddy setelah mereka menikah, jadi apa salahnya aku belajar mencintai Daniel setelah jadi istrinya nanti?!"
"Lalu bagaimana kalau kau tidak bisa mencintainya Miwa?!" semprot Arsen yang berdiri di depan nya dengan dahi mengkerut kesal.
"Aku pasti bisa kak, tenang saja ... Daniel mencintaiku ... dan dia bukan seorang pecundang yang tidak berani menyatakan perasaannya kepadaku," sindir Miwa.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, Arsen yang hendak kembali berbicara pun diam kala melihat Miwa menatap ponselnya dengan tersenyum.
"Daniel ..." gumam nya dengan tersenyum, padahal itu pesan dari Maxime yang menyuruh Miwa untuk membiarkan Arsen marah-marah.
Miwa menekan panggilan telpon kepada Maxime dan itu membuat Arsen kesal apalagi melihat Miwa malah tersenyum.
"Miwa aku sedang berbicara denganmu," potong Arsen.
Miwa hanya meletakkan jari telunjuknya di bibir meminta Arsen untuk diam.
"Ya, Daniel ... kenapa menyuruhku menelpon?"
"Apa kau tau dimana Aunty Ara menyimpan bumbu untuk memasak udang?" tanya Maxime di dapur yang sedang membuka beberapa laci seraya celengak-celingkuk mencari bumbu untuk memasak udang.
Sebenarnya Maxime tidak menyuruh Miwa menelpon, tapi karena perempuan itu menelpon nya lebih dulu, sekalian saja Maxime menanyakan bumbu udang kepada Miwa.
Aneh, ini sudah malam hari padahal. Tapi Maxime tiba-tiba ingin memasak udang karena ia kelaparan.
"Loh, kenapa harus ke butik? bukankah acara nya bulan depan?" tanya Miwa membuat Arsen mengepalkan tangan diam-diam.
"Di kulkas tidak ada Miwa, di laci juga tidak ada. Apa Oris tidak membeli kebutuhan di dapur?"
"Hehehe ... kenapa kau membahas cincin sekarang, kita bisa membahasnya nanti," sahut Miwa seraya pura-pura tersipu malu.
Arsen yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas kasar seraya mengusap wajahnya.
Arsen hendak mengambil ponsel di telinga Miwa, tapi Miwa segera mengamankan ponselnya dengan menepis tangan Arsen.
"Diam!" ucap Miwa pelan kepada Arsen.
"Oh di sini ternyata ..." Maxime masih berbicara di telpon dengan Miwa, ia berhasil menemukan bumbu dapur di laci bawah. Tadi ia malah mencari di laci atas.
"Sudah dulu, kakak mau masak."
"Oke Daniel, kita bertemu besok saja. Bye, selamat malam ..."
Arsen di depan Miwa sudah berkacak pinggang dengan mata tajam dan wajah merah menahan amarah ia menatap Miwa dengan penuh kekesalan.
"Apa?" tanya Miwa menaikkan satu alisnya.
Bersambung