The Devil's Touch

The Devil's Touch
#139



Keenan, Philip serta Athes and the geng duduk di sofa tepat di belakang Milan dan geng ikan Lele.


Mereka sesekali mengintip apa yang sedang di kerjakan Milan dan yang lain.


"Matematika ya?" tanya Jonathan di belakang yang di jawab anggukan pelan dari Alvin.


"Susah ya?" tanya Jonathan lagi yang di jawab anggukan dari Aken.


Jonathan mendekat dan berbisik di telinga Aken. "Lebih susah mengambil alih pekerjaan malaikat maut ... membun*h kalian misalnya ..."


Geng ikan Lele sontak melebarkan matanya, Jonathan kembali duduk di sofa, Keenan dan yang lain menahan senyumnya. Mereka yakin Alvin dan yang lain sedang panik dan takut sekarang.


"Mereka hanya bercanda," bisik Milan kepada Alvin dan yang lain.


"Kalau mereka bercanda seperti pelawak Sule aku percaya Milan, masalahnya mereka bukan pelawak. Mereka mafia ..." sahut Tino pelan.


"Mi-Milan ..." Aken berbicara gemetar. "Ke-keluarkan aku ... da-dari sini ..."


"Hey kau!" Javier menepuk pundak Aken membuat aliran darah Aken seakan berhenti sesaat lalu Aken yang ketakutan setengah mati kembali pingsan, kepala nya telungkup di atas meja. Membuat semua orang di ruang tamu melebarkan mata.


Alvin dan yang lain berusaha membangunkan Aken dengan mengguncang pundak lelaki itu. Keenan, Philip serta Athes and the geng tertawa.


Maxime menghembuskan nafas seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing lalu menatap Ayahnya.


"Dad stop!! berhenti menganggu mereka!!"


"Dad hanya menepuk pundaknya, apa yang salah?" sahut Javier. "Lagi pula dia dari tadi gemetar terus, padahal tidak ada yang menyakitinya!"


"Ken, bangun Ken! Ken!" Alvin mengguncang pundak Aken.


"Aken!!" panggil Faiz ikut berusaha membangunkan Aken.


Sepuluh menit kemudian Aken kembali sadar, ia celengak-celinguk melihat sekelilingnya. Dia memang seperti itu, mudah pingsan mudah sadar.


"Apa ini neraka?" gumamnya setengah sadar.


"Kau baru sampai di kediaman Malaikat maut," sahut Keenan.


"Sepuluh menit lagi kau naik bus tujuan neraka," sambung Philip membuat Keenan dan Athes and the geng cekikikan.


Maxime menggeleng. "Sudah, biarkan aku periksa tugas kalian ..."


Aken hanya menggaruk kepalanya, dia belum selesai mengerjakan tugas. Sementara yang lain selama sepuluh menit Aken pingsan malah mengerjakan tugas sendiri, Maxime meminta yang lain membiarkan Aken pingsan dan meminta mereka melanjutkan mengerjakan tugasnya.


"Hayoloh Aken ..." ledek Aiden. "Hanya kau saja yang belum mengerjakan tugas ... Hayoloh ..."


"Tidak apa, uncle. Ini tugas kelompok dia bisa menyalin nanti," sahut Milan setelah memberikan buku tugas nya kepada Maxime.


"Enak sekali, yang lain susah payah diskusi mencari jawaban dia malah pingsan," ucap Arsen.


"Bangun-bangun langsung menyalin dari buku orang lain," sambung Nicholas.


"Orang lain kerja keras dia kerja cerdas. Pingsan dulu setelah itu langsung dapat jawaban, cerdas bukan," sambung Philip.


Javier, Sekretaris Han dan Thomas santai menyantap cemilan di sofa seraya terus memandangi Aken.


Aken buru-buru menyalin jawaban dari buku tugas Faiz dengan tergesa-gesa. Tidak perduli dengan ucapan yang lain.


Maxime memeriksa semua jawaban di buku tugas Milan. Jawaban hasil diskusi Milan dengan teman-teman nya, Arsen yang duduk di samping Maxime ikut melihat.


"Mungkin kalian terganggu dengan orang-orang di sini, sampai jawaban nya masih ada yang salah. Nomor tiga, lima, tujuh dan delapan. Istirahat dulu ... kerjakan lagi nanti," ucap Maxime menyimpan buku di meja lalu menarik tangan Milan.


"E-eh mau kemana?" tanya Milan.


Geng ikan Lele hanya melebarkan mata melihat kepergian Milan, sekarang mereka di kelilingi oleh para mafia di ruang tamu. Tanpa ada Milan di sana.


Javier menarik ujung bibirnya tersenyum, begitupula dengan Arsen yang memang kesal kepada mereka karena meminta foto bersama Miwa.


"Selamat datang di pintu Neraka hahahaha ..." teriak Keenan membuat geng ikan lele menoleh ke belakang perlahan seraya menelan saliva nya susah payah.


Mereka berhitung dalam hati, sampai di hitungan ketiga Geng ikan lele hendak kabur tapi langkahnya di hadang Athes, Samuel dan Sergio.


Mereka berbalik dan ternyata Javier, Sekretaris Han dan Thomas sudah berdiri menatap mereka datar.


Aken tidak bisa menahan dirinya untuk tidak pipis di celana.


Maxime menaiki anak tangga bersama Milan, di lantai atas Tessa baru saja keluar dari kamar.


"Milan ..." panggilnya.


Maxime dan Milan yang hendak pergi ke kamar menghentikan langkahnya lalu berbalik.


Tessa tersenyum berjalan mendekati mereka. "Milan nanti malam kita jadi kan dinner di luar? kita makan di restaurant favorit Kak Maxime," ucapnya lalu menoleh kepada Maxime.


"Makan malam di luar?" tanya Maxime menaikkan satu alisnya.


"Ya kak, boleh ya? aku, Milan dan Miwa."


Maxime menoleh kepada Milan, karena Milan sendiri belum cerita apapun kepada dirinya.


"Boleh?" tanya Milan.


"Kalau kau mau boleh saja," sahut Maxime.


Tessa tersenyum. "Di bawah masih ada teman-teman mu Milan?" tanya Tessa.


Milan mengangguk. "Masih ..."


"Dulu tidak boleh ada yang masuk ke mansion ini selain orang yang di bawa Kak Maxi, sekarang temanmu malah ada di sini ..."


"Mereka ada di sini juga kan atas izin kakak," sahut Maxime.


Milan hanya diam menatap Tessa, kenapa Tessa berbicara seperti itu. Apa dia tidak suka dengan kehadiran teman-teman nya di mansion ini.


"Ah iya benar juga. Kak Maxi yang mengizinkan ... kalau begitu aku ke kamar dulu."


Tessa pergi setelah melambaikan tangan kepada Milan dan Maxime.


"Ayo sayang ..." Maxime kembali mengajak Milan ke kamarnya walaupun sesekali Milan menoleh ke belakang melihat punggung Tessa yang sedang berjalan ke kamarnya.


Di kamar Maxime mengunci pintu dan langsung memeluk Milan, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu.


"Aku merindukanmu ... tadi banyak orang jadi sulit memelukmu."


Milan tersenyum membalas pelukan Maxime.


"Sayang siapa lelaki yang mengambil bola basketmu di lapang?" tanya Maxime.


"Mereka temanku, hanya saja beda kelas. Kenapa memang?" tanya Milan.


"Berani sekali mereka menganggumu!!" kesal Maxime.


Milan hanya terkekeh. "Itu hanya bercanda saja."


"Jangan bercanda dengan lelaki lain, aku tidak suka!" sahut Maxime lalu melepas pelukan nya.


Milan hanya mengangguk seraya tersenyum sebagai jawaban.


"Teman-temanku masih di bawah," ucap Milan.


"Tidak apa, biarkan mereka bersama keluargaku sayang. Mereka tidak akan mati, hanya di buat jantungnya seakan mau berhenti saja," sahut Maxime membuat Milan tertawa.


Maxime menarik tangan Milan membawanya ke sofa, Milan menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Maxime.


"Apa ... masalahmu dan Tessa sudah selesai?" Milan akhirnya buka suara.


"Aku belum membahas soal itu lagi dengan Tessa sayang ... aku harap dia lupa dengan perasaan nya. Tapi aku akan membahasnya nanti setelah keluarga ku pulang dari sini."


"Kenapa kau sampai tidak tau kalau Tessa menyukaimu?" tanya Milan.


"Karena kami terlalu dekat sebagai adik kakak sampai aku tidak sadar sikap manja Tessa kepadaku ternyata bukan sikap seorang adik kepada kakaknya, aku memperlakukan Tessa sama seperti aku memperlakukan Miwa. Arsen juga pasti merasakan hal yang sama denganku, dia tidak sadar kalau Miwa juga menyukainya."


Milan menghembuskan nafas membuat Maxime menoleh lalu mengecup kening gadis itu.


Tak lama kemudian terdengar suara barang-barang pecah di lantai bawah. Maxime mendengus kasar pasti itu ulah semua uncle nya dan teman-teman Milan.


"Ada apa itu Maxime?" tanya Milan menoleh ke arah pintu.


Maxime kembali menarik kepala Milan. "Biarkan saja, kita di sini saja. Ada perang manusia gila di bawah sana."