The Devil's Touch

The Devil's Touch
#24



Maxime melajukan mobilnya hendak menjemput Milan siapa tahu gadis itu masih di sekolah. Tapi ketika melewati kawasan kebun teh mobilnya terhenti tatkala melihat Milan sedang berdiri menyenderkan tubuhnya di pintu mobil dengan tangan bersidekap dada dan menunduk.


"Milan ..." panggil Maxime.


Milan mendongak dan Maxime segera menghampiri gadis itu.


"Maaf tidak menjemputmu," ucap Maxime seraya mengelus puncak kepala gadis itu lalu pandangan nya menoleh ke arah supir yang sedang memperbaiki mobil.


"Kenapa?" tanya Maxime kembali menoleh ke arah Milan.


"Mobil nya mogok," sahut Milan.


Tapi tiba-tiba supir itu pun berkata. "Sudah selesai, Nona." ucapnya dengan wajah kotor karena oli.


Maxime mengeluarkan lembaran uang dari dompet nya lalu memberikan nya kepada supir itu. "Terimakasih sudah menjaga nya. Aku akan membawa gadis ini," ucap Maxime dengan tersenyum tipis lalu menggandeng tangan Milan masuk ke mobilnya.


Supir taxi itu hanya bisa mengerutkan dahi seraya menggaruk kepala nya bingung. "Menjaga apa? aku kan supir taxi, sudah seharusnya aku mengantar penumpang."


Mobil Maxime kembali melaju, di dalam mobil Milan sesekali menoleh ke arah Maxime. Haruskan ia bertanya perihal sikap Maxime yang berubah menjadi baik dengan nya atau ia diam saja.


"Tanyakan saja apa yang menganggu pikiranmu, little cat."


"Little cat?" Milan menaikkan satu alisnya menatap Maxime.


Maxime tersenyum tipis menginjak rem dan mobil pun berhenti masih di kawasan kebun teh. Pria itu kemudian menoleh ke samping dan sedikit mendekatkan tubuhnya ke kursi Milan.


"Kau kucing kecilku ... My little cat," ucap Maxime dengan senyum tipisnya lalu menepuk-nepuk pelan pipi Milan.


Maxime kembali duduk tegak hendak menginjak pedal gas lagi tapi perkataan Milan membuat Maxime kembali menoleh.


"Sebenarnya kenapa kau berubah?"


"Berubah?"


Milan mengangguk. "Ya, kau jadi baik. Apa rencanamu?"


Wajah Maxime perlahan mendekati wajah Milan, sontak kepala Milan pun menjauh mundur perlahan, Maxime yang takut kepala Milan terpentok pintu mobil segera menaruh telapak tangan nya di belakang kepala Milan. Dan hal itu membuat Milan sedikit terkejut.


"Kau mau tau apa rencanaku?" tanya Maxime yang membuat Milan mengangguk perlahan.


"Memilikimu ..." lirih Maxime dengan menarik sudut bibirnya tersenyum.


"K-kau ..."


"Jangan terburu-buru ... aku masih punya banyak waktu untuk menunggumu selama kau tidak pergi dari sampingku, My little cat."


Milan menelan saliva nya susah payah, apalagi sekarang Maxime menatapnya tanpa berkedip dengan senyuman di wajahnya.


"Kau gadis pertama dan terakhirku Milan ... aku ..." Maxime menggantung kalimatnya.


"Aku mencintaimu ..."


Deg.


Jantung Milan seakan meloncat seketika mendengar ucapan Maxime. Apa kupingnya berfungsi dengan baik, bagaimana bisa Maxime mencintai nya, apa pria di depan nya ini sedang bercanda.


"A-aku karyawanmu, apa yang membuatmu bisa mengatakan hal itu dengan mudah?" sahut Milan.


Maxime menjawab dengan membelai pipi Milan membuat gadis itu gugup seketika. "Aku mengusirmu sejak pertama kau datang ke petshop ku, tapi kau menolak dan meminta tinggal di petshopku ... secara tidak langsung kau lah yang membuatku jatuh cinta Milan Kanaya ... seandai nya hari itu kau pergi, aku tidak akan mengatakan hal ini karena kita tidak akan pernah bertemu lagi hm."


Milan membuang muka lalu mendorong pelan tubuh Maxime tapi reaksi pria itu justru menolak mentah-mentah dorongan dari tangan Milan. Maxime malah memegang tangan Milan dan berbicara dengan suara beratnya.


"Kau seleraku sekarang Milan."


Milan menatap Maxime seketika dengan bola mata membulat sempurna. Ia ingat awal bertemu dengan Maxime ia menuduh pria ini memperk*sa dirinya seperti para preman di malam itu. Dan Maxime menjawab kalau dirinya bukan selera untuknya, tapi sekarang kenapa pria itu malah mengatakan hal yang membuat pikiran Milan berpikir aneh tentang pria di depan nya ini.


Selera apa yang di maksud Maxime sebenarnya.


Cup.


Wajah Maxime menoleh ke samping seketika kala tamparan keras dari tangan Milan mengenai wajahnya karena pria itu tiba-tiba menc*um bibir Milan.


"M-maaf .. maaf aku tidak sengaja. Itu refleks." ucap Milan dengan tangan yang ragu-ragu ingin memegang pipi Maxime untuk memastikan pria itu baik-baik saja. Tapi tidak jadi, karena tidak berani.


"Aku ... aku benar-benar tidak sengaja."


Maxime tersenyum lalu kembali menoleh ke arah Milan, ia mengelus rambut Milan dengan gemas.


"Kucing nakal! jangan takut ... aku tidak akan memperk*sa mu seperti preman malam itu!"


Pria itu pun kembali duduk tegak di kursi kemudi nya, melajukan kembali mobil itu untuk pergi mencari sepatu sekolah Milan.


Di sepanjang jalan Milan hanya meremas rok nya dengan sesekali menoleh ke arah Maxime. Kenapa tiba-tiba pria itu menc*um nya.


Hal yang membuat Milan beruntung adalah kata 'maaf' yang ia lontarkan langsung kepada Maxime.


Maxime pria yang sulit mengendalikan emosi jika orang di depan nya memberontak apalagi sampai menampar. Tapi pria itu luluh dengan kata maaf dari Milan.


"Menyebalkan! ini cium*n pertamaku!! kenapa harus seperti ini!!" batin Milan tidak terima.


Milan sebenarnya ingin marah, tapi kalau nanti dia di usir bagaimana. Mau tinggal dimana dirinya, Milan akan bertahan jika Maxime tidak berniat untuk memperk*sa dirinya.


"Jangan mengumpat dalam hati!!" ujar Maxime tanpa mengalihkan pandangan nya dari jalanan di depan.


Milan seketika kikuk. "Hah? a-apa? aku tidak mengumpat dalam hati."


Maxime menoleh dengan tersenyum. "Kau tidak bisa bohong, little cat. Aku bisa melihat itu dari wajahmu."


Lagi-lagi Maxime menggunakan insting nya untuk menebak apa yang ada di pikiran Milan. Toh sedari tadi Milan cemberut seraya memajukan bibirnya dengan dahi mengkerut, apalagi yang gadis itu lakukan selain mengumpat dalam hati untuk Maxime.


Mobil pun sampai di sebuah mall yang cukup besar. Keduanya keluar dari mobil dan pandangan Milan tak henti menerawang bangunan mall yang cukup luas lalu ia menoleh ke arah Maxime.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Milan.


"Membeli sepatumu," sahut Maxime.


"Apa?" Milan mengerutkan dahi nya.


Tiba-tiba ponsel Maxime berdering, ia segera merogoh ponsel di saku celana nya dan melihat siapa yang menelpon, ternyata Arsen.


"Sebentar ya." Maxime sedikit menjauhi Milan.


"Ada apa?"


"Kau dimana Max?" tanya Arsen.


"Mall," sahut Maxime.


"Mall mana dengan siapa?"


"Mall milikku dengan Milan."


"KAU GILA MAXIME?!! JANGAN BILANG KAU AKAN MEMBERIKAN SESUATU UNTUK GADIS ITU DI MALL XX!!"


Maxime mendengus dengan teriakan Arsen. "Memang itu tujuanku! lagi pula ini kan Mall milikku!!"


"Max astaga ... kau bod*h? kau itu hanya penjaga petshop, Milan akan curiga seandainya kau memberikan barang mahal di mall XX. Kau mau identitas mu terbongkar?!"


Seketika Maxime menoleh ke belakang, Milan menatap dirinya penuh arti.


"Kau benar juga, tapi aku ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuknya."


"Tidak bisa, Max. Keluar saja dari Mall itu!!"


"Tidak, aku punya ide untuk memberikan sepatu mahal untuk Milan!!" sahut Maxime dengan tersenyum membuat Arsen di seberang sana bingung.


#Bersambung