The Devil's Touch

The Devil's Touch
Kemarahan Davis.



Hari sudah menjelang gelap. Namun, Elena masih saja belum menunjukan batang hidungnya. Davis, pria paruh baya itu menunggu kepulangan putrinya dengan resah, bagaimanapun Elena adalah putri kandungnya. Dia tidak bisa membiarkan wanita itu berada di luar sana tanpa adanya kabar.


"Ele, kamana kau pergi? Kenapa belum pulang juga." Davis berulang kali melihat ke arah pergelangan tangannya. Sudah hampir setengah hari putrinya berada di luar tanpa memberinya kabar. Dia merasa khawatir.


"Sayang, siapa yang kau tunggu?" sang istri berjalan menghampirinya. Dia merasa heran dengan sang suami yang berada di ruang tamu, seperti orang yang sedang gelisah menunggu kedatangan seseorang.


"Putriku belum pulang, Renata. Aku menghawatirkannya, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Elena?" ucap Davis gelisah. Pria paruh baya itu mengambil ponselnya untuk menghubungi putrinya.


Renata terlihat marah mendengarnya. Wanita paruh baya itu berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapan sang suami.


"Tidak perlu khawatir. Dia akan pulang, ayo ke atas." diraihnya lengan sang suami dengan sayang.


"Re! Apa kau tidak tahu jika aku sedang menghawatirkan putriku?" Davis menepis lengan sang istri kasar. Berulang kali dia mencoba untuk menghubungi Elena, namun dia tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Perasaannya semakin gelisah. Dia takut telah terjadi sesuatu pada putrinya.


Renata menatap tak percaya pada sang suami. Pria itu baru saja bersikap kasar padanya, padahal Davis tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Dikarenakan anak s*alan itu Davis meneriakinya.


"Dia akan pulang jika dia mau, jangan menghawatirkannya sayang!" teriak Renata kesal. Anak pembawa sial itu selalu saja membawa masalah, meski dia sedang tidak berada dirumah.


"Kau tidak mengerti perasaanku Renata. Kau hanya menghawatirkan dirimu sendiri, apa selama ini kau pernah menyayangi putriku dengan baik? Tidak sama sekali. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Elena, jangan harap kau masih berada disini Renata, aku tidak akan segan untuk mengusirmu." ancam Davis. Pria paruh baya itu tidak main-main dengan ucapannya. Dia bersungguh sungguh.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk bersikap seperti itu. Jangan marah, aku minta maaf." Renata mendekati suaminya. Dia harus bersikap dengan tenang, jangan sampai Davis mengusirnya. Dia tidak akan mau tinggal di jalanan.


"Sudahlah Renata aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Aku akan pergi untuk mencari Elena." Davis melepaskan lengan Renata yang melingkar di lengannya.


"Baiklah, berhati-hatilah. Ingat jangan pulang terlalu malam." Renata menampilkan senyum terbaiknya di hadapan sang suami.


Renata menatap punggung Davis yang semakin menjauh. Senyumannya sirna begitu pria paruh baya itu sudah tidak lagi berada disana.


"Aku tidak akan pernah menerimanya, ingat itu baik-baik Davis. Putriku hanya satu, Patricia Meyer." Renata tersenyum masam. Dia menggambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Kapan kau akan pulang?" tanyanya pada seseorang yang berada di sebrang sana.


"Sebentar lagi, apa ada pertunjukan yang menarik Mom?" Ya, wanita itu adalah Patricia Meyer. Putri kedua Davis Meyer dan Renata yang berada di London untuk menempuh pendidikan.


"Mommy merindukanmu, Patty. Apa kau baik-baik saja disana?" Renata terlihat khawatir, namun dia merasa senang saat mendengar suara putrinya.


"Aku baik. Katakan padaku, apa telah terjadi sesuatu?" Patricia dapat menangkap suara ibunya yang terdengar sedikit berbeda. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang tidak dia ketahui.


Renata menghembuskan napasnya kasar. "Ya, Daddymu."


"Tidak, Daddymu marah padaku Patty. Dia memarahiku karena Elena tidak kembali ke rumah."


Patricia menghela napas. Syukurllah, setidaknya sang ayah baik-baik saja.


"Apa yang Mommy katakan sehingga Daddy marah?" tidak mungkin sang ayah marah pada ibunya jika ibunya tidak memancing.


"Aku menyuruhnya untuk tidak menghawatirkan Elena, dia akan pulang jika dia mau. Itu yang aku katakan padanya."


"Pantas saja Daddy marah, Mommy menyuruhnya untuk tidak khawatir karena Elena tidak kembali kembali rumah."


"Kenapa kau malah menyalahkan mommy? Apa kau tidak tahu jika Elena sering menghina mommy, Patty." ucap Renata kesal.


"Sorry mom, kali ini kau yang bersalah. Aku akan memberinya pelajaran lain kali jika dia masih menghina mommy, tapi dia pasti memiliki alasan untuk melakukannya."


"Sudahlah terserah dirimu saja, Patty. Mommy marah, jaga kesehatanmu." Renata mematikan sambungannya secara sepihak. Dia kesal, tapi bagaimana lagi Patricia adalah putrinya.


***


Patricia menghela napas yang terasa berat. Ponselnya diletakan di atas meja.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya aku melewatkan banyak hal semenjak pergi." pikirannya berkelana. Sepertinya banyak hal yang telah dia lewatkan, apa ibunya dan Elena masih terlibat perang dingin?


Ponsel sudah kembali berada di tangan. Wanita itu berusaha untuk menghubungi seseorang. Dan begitu tersambung, suara seseorang terdengar dari sebrang sana.


"Ada apa? Tidak biasanya kau menghubungiku Patri" suara perempuan yang terdengar tidak asing di telinga Patricia.


"Siapkan penerbanganku, Annie. Aku ingin pulang." wanita itu terdengar heboh saat mendengar ucapan Patricia.


"Sungguh? Aku sangat menantikan kepulanganmu Patri. Aku sangat senang mendengarnya."


"Hm. Minggu depan aku akan kembali, setelah menyelesaikan wisudaku."


"Tentu. Tidak perlu khawatir Patri, semuanya akan aku persiapkan dengan sangat baik. Bersiaplah untuk kelulusanmu jangan memikirkan banyak hal." Patricia merasa terharu. Ucapan temannya benar-benar sangat menenangkan perasaannya yang gelisah. Annie adalah sahabat terbaiknya wanita itu selalu ada di saat dia membutuhkannya, begitupun sebaliknya.


"Terimakasih Annie."


"Jangan berterimakasih. Aku sudah menganggapku seperti saudaraku sendiri, jaga kesehatanmu." sambungan diputuskan. Patricia memijit pangkal hidungnya, kepalanya tiba tiba terasa pening memikirkan keadaan keluarganya.