
"Pura-pura tidur hm?" Maxime berdiri di belakang Milan yang tidur membelakangi nya.
Karena tidak ada jawaban Maxime pun masuk ke dalam selimut, tidur menyamping menopang kepala dengan satu tangan nya lalu menarik bahu Milan agar gadis itu berbalik menatap nya.
Milan menatap Maxime. "Besok aku mau beli makanan dan pasir binatang yang tumpah tadi, kau di sini bersama uncle Keenan, oke?"
"Jangan kabur, ingat itu!" lanjut Maxime seraya mencubit hidung Milan.
"Itu kesempatan untukku, kalau kau tidak ada!" sahut Milan.
"Coba saja, kemanapun kau pergi aku pasti bisa membawamu ke sini lagi," Sahut Maxime seraya mengelus kening Milan.
"Apa tadi adikmu?" tanya Milan.
Maxime mengangguk. "Tessa dan Miwa ..."
"Aku seperti pernah mendengar suara nya ..."
"Dimana?"
"Mirip perempua di supermarket tadi," sahut Milan.
"Kau bilang dia nama nya Cantika."
Milan mengangguk. "Mungkin hanya mirip suara nya saja."
"Kau mau bertemu dengan mereka?" tanya Maxime.
"Siapa? adikmu?"
Maxime mengangguk. "Mereka cukup ramah dan sedikit nakal sama sepertimu," ucap Maxime seraya tersenyum.
"Kau sangat dekat dengan mereka ternyata ..."
"Iya, kami selalu bersama dari kecil wajar kalau sangat dekat sekarang," sahut Maxime membuat Milan hanya bisa mengangguk-ngangguk saja, karena dirinya dan Melisa juga dekat saat kecil tapi bermusuhan ketika besar hanya karena masalah nilai sekolah yang berbeda.
*
"Milan, lima menit lagi uncle Keenan akan datang. Aku harus pergi sekarang," ucap Maxime kepada Milan yang sedang mencuci piring di pagi hari. Kebetulan ini hari minggu gadis itu punya banyak waktu di petshop saja seharian ini.
Milan menoleh ke belakang. "Oke," sahut nya seraya mengangguk samar.
Maxime meminum kopi nya lalu menyimpan kembali gelas nya di meja dan menghampiri Milan.
"Aku pergi dulu ..." pria itu mencium kening Milan lalu keluar dari petshop.
Lima menit kemudian ketika Milan sedang menyapu petshop mobil Keenan terparkir di depan petshop nya.
Pria itu keluar dengan banyak kantung makanan di tangan nya, lalu bergegas masuk ke dalam petshop.
"Pagi ..." sapa Keenan lalu berjalan ke dapur dan menyimpan kantung makanan nya di meja.
"Pagi," sahut Milan.
Keenan duduk menatap segala penjuru petshop yang terlihat sedikit lebih luas. Bahkan ia baru pertama kali melihat dapur di petshop ini.
"Dapur ini sederhana dan cukup nyaman ..." ucap Keenan.
Milan menyimpan sapu nya dan duduk di depan Keenan.
"Ini sarapan untukmu." Keenan mendorong semua kantung makanan yang ia bawa kepada Milan.
"Aku sudah sarapan bersama Maxime tadi. Tapi terimakasih untuk makanan nya."
*
Sontak mereka semua berdiri kala melihat Maxime berjalan ke arahnya.
"Maxi ..." panggil Sky dengan wajah pucat dan nada khawatir.
Maxime langsung memeluk Ibunya. "Mom, aku baik-baik saja."
Sky melepaskan pelukan nya, matanya bergerak-gerak mengamati tubuh anaknya. Ia menyentuh pipi Maxime. "Kau tidak terluka kan?"
Maxime menggeleng. "Tidak, Mom."
"Ibumu terus memikirkan mu semalaman," ucap sang nenek, Rania.
Maxime menoleh ke arah Rania lalu kembali menatap Ibunya. "Bahkan aku di akui lebih hebat dari Daddy ... apa yang Mom takutkan?"
Sky memukul pelan bahu Maxime. "Aku ini Ibumu, mau sehebat apapun kau tetap anak kecil Mommy," sahut Sky pelan karena suaranya hampir habis akibat menangis semalaman.
"Iya ... iya ... aku mengerti." Maxime tersenyum samar lalu memeluk kembali Ibunya.
"Pagi ..." Arsen berjalan masuk ke ruang keluarga.
"Arsen ..." Kara membuka kedua tangan nya menyambut pelukan dari anaknya.
Arsen langsung memeluk Kara membuat Liana menekuk wajahnya.
"Huh, kenapa putriku tidak ikut juga!" kesal nya dengan tangan bersedekap dada.
"Anak itu pasti masih tidur," sahut Maxime.
"Ya, dia seperti kerbau," sambung Arsen.
"Ish, bicara sembarangan!" hardik Liana membuat Rania hanya bisa menggelengkan kepala.
"Sudah ... sudah ... Javier sudah menunggu kalian," ucap Rania.
Maxime dan Arsen melepaskan pelukan dari Ibunya.
"Aku bertemu Daddy dulu, Mom." Sky mengangguk dan dua pria itu masuk ke dalam lift untuk ke lantai tiga.
Selepas keluar dari lift mereka membuka salah satu ruangan yang ada di lantai tiga. Tempat dimana dulu Javier membahas soal rencana penyerangan untuk mudork.
"Maxime ..."
Semua orang berdiri menyambut kedatangan Maxime dan Arsen. Javier memeluk Maxime dan Sekretaris Han memeluk putra nya, Arsen.
Di ruangan itu formasi Yakuza lama ikut hadir. Thomas, Philip, Athes and the geng bahkan Xander terlihat duduk di kursi masing-masing. Hanya Keenan yang tidak ada.
Tak lama kemudian pintu kembali terbuka. Jack dan Peter ikut bergabung bersama mereka.
"Topimu bagus Peter," ucap Jonathan.
"Mirip tukang bakso," sambung Aiden.
"Sudah tua berhenti bercanda, sebentar lagi masuk tanah," sahut Peter lalu duduk di samping Samuel.
Jonathan dan Aiden berdecak kesal. Javier duduk di kursi kebesaran nya. Di dekatnya ada Maxime.
Arsen duduk di samping Sekretaris Han dan Jack duduk di samping Thomas. Mereka ada untuk membahas penerror pengecut itu.
Bersambung