The Devil's Touch

The Devil's Touch
#171



Setelah kepergian Maxime, Milan menghubungi geng ikan lele. Mereka bertemu di salah satu cafe.


Milan keluar dari mobil dan masuk ke dalam cafe tersebut. Alvin dan yang lain sudah lebih dulu sampai.


"Wihhh ... pengantin baru nih," ledek Aken.


Milan duduk di dekat Tino.


"Kenapa kau mengajak kami bertemu di sini, suamimu kemana Milan?" tanya Alvin.


"Dia sedang marah denganku," sahut Milan.


"Marah? kenapa?" tanya Tino.


Milan menghembuskan nafas. "Ah aku tidak tau, aku tidak bisa cerita soal ini kepada kalian. Aku datang ke sini karena Maxime pergi ke kantor, aku bosan sendiri di mansion."


"Padahal baru menikah kemarin, sekarang sudah bertengkar saja. Kemarin di gedung itu masih baik-baik saja, masalah apa yang membuat kalian bertengkar coba," sambung Faiz.


"Baru satu hari menikah terus bertengkar, masalahnya tidak jauh dari ..." Alvin menggantung kalimatnya lalu menatap Milan.


"Dari malam pertama. Iya kan?" tebak Alvin membuat Aken, Faiz dan Tino sontak menoleh ke arah Milan.


Milan menatap mereka satu-persatu. "Ti-tidak. Kenapa kau berpikir seperti itu Alvin!!"


"Tapi Alvin benar, apalagi permasalahan kalian kalau bukan malam pertama," sambung Aken.


"Jangan bilang malam pertamanya gagal?" kata Faiz.


"Kau kan sudah pernah melakukannya, ini bukan pertama kalinya," ucap Tino.


"Tapi hari itu aku tidak sadarkan diri!" sahut Milan.


"Eh Milan ..." Aken mengubah posisi duduknya lebih serius menatap Milan.


"Kalau kau tidak melayani suamimu dengan baik, aku yakin lama-lama suamimu itu mencari perempuan lain sebagai pelampiasan."


PLAK


Milan menepuk pundak Aken yang duduk di samping kirinya. "Hati-hati kalau bicara!!"


"Aku serius Milan!" ucap Aken seraya mengusap pundaknya.


"Itu di sebut kebutuhan biologis seorang suami yang memang harus dilampiaskan, kalau istri nya tidak mau, ya cari perempuan lain di luar sana," lanjut Aken.


Milan mendesis seraya mengepalkan tangannya di udara, sontak Aken melindungi wajahnya dengan kedua tangan nya.


"Aken benar, kau mau suamimu selingkuh dan kau jadi janda di usia muda," sambung Alvin.


"Kenapa kalian mengerti soal itu?!!" tanya Milan.


"Ka-karena--"


"Jangan-jangan kalian ..." Milan memotong pembicaraan Aken.


"Kita hanya menonton video saja," sahut Tino lalu berdehem kikuk.


"Masih kecil sudah punya n*fsu seperti itu sampai menonton video!!" ucap Milan.


"Kau bahkan masih kecil sudah praktek saja, mana tidak sadar lagi waktu praktek!" hardik Faiz.


"Dan sekarang diajak praktek lagi oleh suamimu malah menolak," sambung Alvin.


"Aku curiga Tuan Maxime pergi ke klab untuk mencari perempuan bayaran."


Milan sontak mendelik ke arah Tino yang barusan berbicara. "Kenapa kalian ini bicara sembarangan saja!!"


"Ini hanya kemungkinan saja Milan," sahut Tino.


"Kemungkinan yang bisa saja terjadi," sambung Aken.


Milan menghela nafas kasar, niatnya bertemu teman-teman nya untuk mengusir rasa bosan di mansion malah dibuat overthinking.


*


Sudah pukul sepuluh malam, Maxime belum kunjung pulang dari kantor. Beberapa kali Milan mencoba menelpon suaminya itu tapi tak kunjung diangkat. Milan sempat mencoba menelpon Arsen tapi Arsen juga tidak mengangkat panggilan darinya.


Dan sekarang dengan mondar-mandir tidak jelas di kamarnya ia mencoba menelpon Miwa. Panggilan ketiga, Miwa baru mengangkat telpon dari Milan.


"Halo ..." teriak Miwa keras.


Milan sedikit menjauhkan ponselnya karena mendengar suara musik yang sangat keras seperti DJ.


"Miwa kau dimana?"


"AKU DI KLAB SEDANG BERJOGED .... WUUHUUUU ..."


Miwa berbicara dengan Milan di telpon seraya menari-nari ditengah-tengah kerumunan orang-orang di klab, musik DJ silih berganti, orang-orang berteriak melampiaskan kesenangannya malam ini seraya memegang botol alcohol atau rokok di tangannya.


Dan lagi, Miwa sudah dalam keadaan mabuk parah sekarang. Ia meloncat-loncat, berjoged seenaknya, menggoyangkan pinggulnya dengan sebotol bir di tangannya.


"Kenapa kau ada di klab Miwa?!!"


"MIWA!!"


Milan terus memanggil Miwa beberapa kali, karena perempuan itu tak kunjung merespon panggilan darinya.


Lalu Milan melebarkan matanya kala mendengar suara lelaki yang sangat ia kenal.


"MIWA KENAPA KAU SAMPAI MABUK SEPERTI INI!!"


Milan jelas mendengar, itu suara Maxime.


"Maxime ..." gumam Milan.


Sementara di klab, Maxime menggendong tubuh Miwa dan tak sadar jika ponsel digenggaman Miwa terjatuh. Milan terus berteriak di telpon.


"MAXIME ..."


"MIWA APA ITU MAXIME ..."


"MAXIME HALLO ... HALLO ..."


Milan tidak mendengar suara Miwa ataupun Maxime lagi, ia hanya mendengar suara musik semakin keras diiringi teriakan orang-orang.


Milan segera mematikan ponselnya, keluar dari kamar menuruni anak tangan dengan langkah cepat. Ia meminta salah satu anak buah Maxime mengantarnya ke klab.


"Apa kau tau klab mana yang mungkin dikunjungi Miwa dan Maxime?" tanya Milan kepada salah satu anak buah Maxime yang berada di halaman depan.


"Ya, saya tau Nyonya."


"Tolong antar aku kesana."


"Baik Nyonya."


Pria itu pun membukakan pintu mobil untuk Milan. Mobil pun melaju keluar dari halaman mansion, di sepanjang jalan Milan hanya memikirkan ucapan teman-temannya.


Tentang kemungkinan Maxime yang pergi ke klab untuk mencari perempuan yang dapat melampiaskan kebutuhan biologisnya, tentang Maxime yang kemungkinan selingkuh.


Ah, Milan sampai mendesis kesal dan menggaruk kepalanya kasar memikirkan hal itu. Anak buah Maxime di depan hanya bisa melihat sikap aneh Milan dari spion di depannya.


Sementara itu diklab Maxime meniduran Miwa di salah satu kamar, pria itu melepas heels yang Miwa kenakan lalu menyelimuti perempuan itu.


Maxime segera menelpon Arsen untuk menanyakan apa yang terjadi dengan Miwa sampai pergi ke klab dan mabuk.


"Miwa ada diklab, apa kau bertengkar dengannya?" tanya Maxime di telpon kepada Arsen.


Arsen yang sedang duduk santai di kantor sontak menarik tubuhnya. "Apa? Miwa di klab?"


"Aku kesana sekarang!!" Arsen mematikan panggilannya dan buru-buru pergi ke klab.


Maxime menghela nafas lalu membungkukan badan hanya untuk menyibakkan rambut Miwa yang menghalangi wajahnya tapi tiba-tiba.


BUGH


Bok*ngnya di tendang membuat kening Maxime menabrak kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati. Maxime mendesis.


"MAXIME KENAPA KAU DI SINI?!" Teriak Milan.


Maxime berbalik dengan memegang keningnya yang terluka. Milan mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur lalu ia melebarkan mata.


Sungguh, alasannya menendang bok*ng Maxime dari belakang tadi karena Milan kaget dengan heels perempuan yang tergeletak di lantai dan ia pikir bukan Miwa yang tertidur di ranjang itu. Ia pikir itu perempuan bayaran seperti yang dikatakan teman-temannya.


"Kenapa kau menendang bok*ng ku? dan kenapa kau disini?" tanya Maxime seraya mengusap keningnya, lalu ia melihat tangannya, ada sedikit darah akibat keningnya yang terbentur kepala ranjang.


"Ma-Maxime aku pikir kau--"


"MIWA!!" ucapan Milan terpotong oleh kehadiran Arsen yang berteriak dan langsung menghampiri Miwa.


"Urus dia!!" titah Maxime kepada Arsen lalu pria itu menarik tangan Milan keluar dari klab.


Bersambung